
"Mas tenang Mas, mungkin hape Kak Rena mati di jalan," wanita berkerudung mustrad itu menggosok punggung suaminya.
"Gimana Mas bisa tenang Cel, sementara istri Mas tidak tahu gimana kabarnya!" suara Angga sedikit keras.
Celin mengelus perutnya kaget mendengar nada suara suaminya yang tak seperti biasa. Wanita itu memilih kembali diam karena tak ingin menambah kepanikan suaminya.
"Dari saat terakhir dia hubungin Mas. Renata harusnya sudah sampai di sini selambat-lambatnya satu jam yang lalu," ucap Angga sedikit pelan menyadari sang istri yang berubah diam.
"Coba Mas hubungi lagi sekarang?" tanya wanita hamil itu.
"Ratusan kali Cel! hapenya nggak aktif!" seru Angga kembali tersulut amarah karena kepanikan.
Pikiran Angga sungguh benar-benar kalut, kepalanya tak bisa berpikir jernih. Ia tak pernah sepanik ini menyangkut keadaan Renata. Ia tak mau berprasangka buruk tapi hatinya tetap saja tak tenang. Seolah ada firasat buruk yang berusaha membayangi dirinya. Istrinya selalu memberi kabar kemanapun akan pergi.
"Mas harus pergi susul Rena!" ucap pria itu berdiri hendak melangkah.
"Tunggu Mas." Tangan halus menahan lengan kokoh yang melewatinya. "Ada banyak orang dan keluarga yang ada datang ke acara syukuran ini Mas." Celin memberanikan diri menyadarkan suaminya agar tidak gegabah, pergi meninggalkannya. Celin juga mencemaskan keadaan Kakak madunya, tapi ia berkeyakinan bahwa istri pertama suaminya itu baik-baik saja.
Angga menyentuh kedua bahu istrinya. Ditataplah ibu dari calon anaknya itu lekat. "Cel, yang terpenting adalah doa untuk keselamatan anak kita. Ada atau tidak ada Mas bukan masalah. Lagipula ada ibu, mbak Riri yang akan menemani kamu."
"Tapi Mas ...." wanita itu masih berusaha mencegah keinginan Angga, meskipun ia tahu itu tak akan merubah keputusan suaminya.
"Cel, Mas nggak akan bisa tenang sebelum mendengar kabar atau bertemu dengan Renata. Nggak apa-apa kan untuk sementara kamu ditemani dulu sama ibu," seru Angga
__ADS_1
Jantung Celin terasa seperti diremas, rasanya percuma ia mencegah suaminya pergi. Tak ada alasan apapun yang bisa menghentikan suaminya jika itu bersangkutan dengan kepentingan seorang Renata.
"Terserah saja Mas," ucap Celin pasrah sambil mengelus perut buncitnya. Cukuplah ia sadar dirinya memang tak lebih penting dari kakak madunya. Ia berusaha menahan air mata yang akan jatuh.
Tak bisakah untuk sekali ini saja suaminya tinggal sampai acara ini selesai! Bukan demi dirinya tapi demi anaknya.
Celin merasakan sesuatu yang hangat menerpa permukaan dahinya. Kecupan hangat dan lama dari suaminya.
"Terima kasih sudah mengerti. Mas nggak akan memaafkan diri sendiri jika terjadi sesuatu pada Renata."
"Kalian kenapa disini." Bu Sinta tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar. wanita paruh baya itu mendekati anak dan menantunya.
"Ayo kita ke depan semua orang cari kalian." Bu Sinta mengandeng lengan menantunya.
"Loh, kamu mau kemana?" seru Bu Sinta heran.
"Aku mau nyusul Rena Bu!" seru Angga.
"Rena pasti masih di jalan. Nanti juga sampai," seru Bu Sinta.
"Tapi ini hampir dua jam Bu," Angga masih tak berhenti dilanda kepanikan.
"Ya ampun ngga, berapa lama sih kamu jadi suami Rena. Kayak nggak tahu saja, Rena pasti mampir-mampir untuk beli sesuatu untuk kita. Ibu hapal Rena itu seperti apa," ucap Bu Sinta mencoba menenangkan.
__ADS_1
"Tapi ini beda Bu, Rena nggak bisa dihubungi sama sekali dari dia masuk pintu tol! Angga nggak akan bisa tenang sebelum melihat Rena secara langsung!" Angga kembali melangkah menuju pintu.
"Ngga, gimana dengan tamu kita dan Celin?" ibu Sinta berusaha mencegah putranya.
"Tolong kali ini titip Celin Bu, Angga harus bertemu dengan Rena."
"Nggak apa-apa Bu, lagipula acara juga sudah mau selesai," seru Celin, ia tahu tak akan yang bisa mencegah kepergian suaminya.
Angga mencium punggung tangan Ibunya dan pergi. Dua wanita itu tak bisa lagi menghalangi kepergian Angga.
Celin mengelus perutnya, berusaha menenangkan bayinya yang menendang seolah ikut tak terima dengan keputusan sang ayah. Sabar nak, mungkin setelah kamu lahir ayah pasti akan beri perhatian yang lebih lagi.
.
.
.
.
.
Bersambung .......
__ADS_1