
Gemericik air terdengar dari luar jendela. Hawa sejuk menambah suhu ruangan menjadi semakin dingin. Angga terbangun ketika hantaman mengenai wajahnya, disusul kemudian suara melengking yang membuat matanya membuka sempurna.
Minggu kini berubah menjadi bulan, Shafiyah diperbolehkan pulang setelah satu bulan berada di rumah sakit untuk memastikan fungsi organnya berkerja dengan baik. Tubuhnya sudah mulai berisi meskipun ia lahir dengan prematur dan tanpa mengkonsumsi ASI. Pipinya menyempul tembam mengemaskan.
Inilah sekarang kebiasaan Angga dan Rena. Keduanya bergantian berjaga tengah malam untuk memberikan bayi tiga bulan itu susu.
Shafi selalu terbangun setiap malam, seperti menjadi alarm alami untuk kedua orang tuanya menjalankan ibadah sepertiga malam.
Angga segera meraih Shafi sebelum bayi mungil itu membangunkan bundanya. Rena pasti juga lelah. Sekarang Shafi adalah prioritas utamanya. Seharian tanpa babysister Rena menjaga Shafi.
Tentu saja Angga tak perlu membangun Rena. Ia yang akan memberikan susu pada Syafi.
Rena sudah menyiapkan bubuk susu sesuai takaran dalam botol dot bayi, hingga Angga tinggal memberinya air panas ditambah sedikit air dingin. Ia mengendong Syafi dengan satu tangan semetara tangannya yang lain memegangi botol susu.
Tubuhnya bergerak bergoyang mengayun bayi mungil itu hingga tenang dan kembali memejamkan mata menghabiskan sisa susu dalam dot. Setelah memastikan Shafi tertidur kembali. Angga mencium pipi tembem bayi imut itu, mencium pelan hidunngnya lalu meletakkan pelan tubuh mungil itu dalam box bayi.
Angga kembali ke tempat tidur tanpa ada Shafi yang menjadi penengah untuknya.
Dipandanginya paras elok sang istri yang terlelap tanpa beban. Wanita yang tak lelah menemaninya meskipun pernah tergadai kebahagianya.
Tangan lembut tiba-tiba menyentuh dada Angga. Angga mengengam tangan itu, mendekatkan wajahnya menempelkan kepalanya agar sejajar dengan wanita itu. Angga menciumi aroma manis dari rambut wanita di sampingnya, sehingga membuat mata wanita itu membuka mata dengan setengah tersadar.
“Udah subuh?” tanya wanita mengeliat merenggangkan tangannya.
“Belum ini masih jam tiga pagi,” balas Angga.
“Oh… Shafi?” matanya langsung membulat tak mendapati bayi mungil disampingnya.
“Udah di boxnya. Selesai minum susu lanjut bobo lagi,” terang Angga santai.
Rena bernafas lega seraya membenarkan ikatan rambutnya. “Kenapa nggak bangunin Rena.”
Angga meraih pinggang istrinya. Memenjarakan tubuh Rena dengan kedua tangannya. “Adek pasti capek sudah seharian jaga Shafi,” ucap Angga sambil mengecup pipi istrinya.
Rena tersenyum manis ke arah suaminya. Selalu begitu, Angga tak pernah membangunkan Rena ketika merasa bisa mengatasi sendiri masalah Shafi yang terbangun malam hari.
“Mumpung Shafi tidur kita bisa sholat tahajud, Mas ambil wudhu dulu.” Rena melonggarkan pelukan suaminya.
__ADS_1
“Nggak mau ibadah yang lain dulu, mumpung kasurnya longgar,” goda Angga.
Rena langsung menjewer telinga suaminya. “Mas ini! Wudhu sana hus …” Rena mendorong lagi tubuh suaminya yang asyik terkekeh karena suskes membuat Rena merona.
Angga mendaratkan kecupan dipipi Rena sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
.
.
.
.
Rena menyandarkan kepala dibahu suaminya usai melaksanakan sholat tahajud bersama. Kedua memandangi Shafi dengan nyenyak di boxnya. Shafi sudah terbiasa bangun bersamaan dengan kumandang adzan subuh di rumah-rumah Allah. Menunggu beberapa menit lagi pasti bayi mungil itu akan menangis.
“Matanya mirip Celin,” seru Rena memecah keheningan.
Angga meraih tangan Rena mengeratkan genggaman tangannya.
“Makasih De, tak pernah berpikir berpaling dari mas meskipun diluar sana ada lelaki lain yang mungkin bisa memberikan lebih segalanya dari Mas.”
Rena bangun dari pundak suaminya. Ditatapnya suaminya dengan lekat, tangannya kanannya memegang pipi suaminya yang kasar karena brewoknya sudah mulai tumbuh.
“Peluang untuk kita mendua pasti ada Mas, bukan hanya Mas tapi Rena pun sama. Tapi ketika kita bisa menundukkan pandangan, menjaga hati dan takut akan siksa Allah. Rena sangat yakin sebesar apapun kesempatan itu pasti tidak akan pernah terjadi apapun.”
Angga meraih tubuh istrinya, ia semakin erat memeluk Rena. Pria itu menyesal pernah manaruh setitik kecururigaan pada kesetiaan sang istri yang sempat membakar amarahnya.
Rena mencoba melonggarkan pelukan suaminya. “Lagipula Mas pernah bilang, pernikahan itu ibadah paling panjang selama kita hidup dan akan berlanjut sampai ke surgaNya. Setelah Mas mengucapkan janji kepada Allah atas Rena, mulai saat itulah Rena juga berikar akan berbakti kepada Mas sampai mautlah yang akan memisahkan kita.”
“Ribuan terima kasih dan maaf mungkin tak bisa membandingi kesabaran adek,” ucap Angga menangkap kedua pipi istrinya. “Sekali lagi terima kasih Dek, sudah sabar menghadapi Mas di tengah masalah yang terus datang pada rumah tangga kita.”
Rena mengangguk. Kesabaran dan keikhlasan membentuk dirinya untuk jadi seseorang yang lebih bersyukur.
Semuanya memang kembali seperti seharusnya, tapi tentu semuanya memang tak akan pernah sama lagi. Ada banyak kenangan yang selalu mengingatkan semaunya. Salah satunya malaikat kecilnya itu.
Rena hanya berharap jadi lebih dewasa dari sebelumnya. Karena sudah pernah berhasil melewati saat-saat terpuruk. Rumah tangganya sudah berhasil "menghadapi badai", ia sudah membuktikan ada kekuatan besar dalam diri yang membuat Ia bertahan.
__ADS_1
Mungkin hadirnya Shafiyah sudah menjadi catatan takdirnya. Malaikat cantik itu membawa warna sendiri untuk luka yang hampir mengering. Ia tak akan pernah tahu apa yang terjadi hari ini esok dan hari-hari berikutnya. Ia berharap kedepannya hanya ada kebahagiaan untuk rumah tangganya.
.
.
.
.
.
.
SELESAI.
Alhamdulillah Ei bisa bernafas lega!
Dengan segala kefakiran ilmu yang Ei miliki. Ei berhasil menyelesaikan cerita ini hingga menemui akhir.
Ei cukup sadar diri cerita ini masih jauh dari kata layak sebagai bahan bacaan. Tentu karena terlalu banyak kekurangan pada cerita ini. Tapi betapa senangnya Ei karena bisa membolak-balik hati pembaca dengan berbagai komentar yang Ei baca tanpa ada yang terlewat satupun.
Cerita ini Ei pingin buat memang dengan sudut pandang berbeda. Ei berusaha membuat semua tokoh disini menjalankan pernikahan poligami sesuai syariat. Meskipun banyak konflik batin di sini. Karena pada dasarnya seperti halnya Rena, tak ada wanita yang ingin di madu ataupun Angga, tak akan mampu adil dalam poligami.
Ketika Ei publish di platfom ini. Ei harus siap segala persepsi pembaca. Pasti ada yang suka ada yang nggak. Ada yang setuju atau nggak ada. Ei ridho dengan penilaian reader tercinta dengan cerita ini☺️.
Semoga bisa diambil yang baik dan hempaskan yang buruk ya dear.
Sekali lagi terimakasih reader tercinta udah like, komentar dan kirim vote atau hadiah yang selalu buat Ei semangat untuk up
Ini belum sepenuhnya selesai ya Dear masih apa Epilog ........ Tunggu ya sampai benar-benar ending 😘😘😘😘😘
love love sekebon sawit deh.
Calon Istrinya Farhan eh salah
Einaz...
__ADS_1