
"Kangen, besok pagi langsung pulang 'kan?" tanya istri tercinta Angga dari balik layar ponsel. Baru menginjakkan kaki di hotel beberapa menit Rena sudah tak sabar ingin meneleponnya.
"Iya De, belum juga 24 jam," seru Angga.
"Dari tadi Ade kepikiran Mas terus, pinginnya hubungin Mas terus tiap detik."
"Memang Mas ngangenin," Angga tertawa renyah. Hari ini istrinya itu memang selalu menelpon setiap jam. Kadang ia repot jika saat rapat masih harus meladeni Rena meskipun hanya membalas pesan singkat, istrinya itu bisa cemberut merasa di abaikan jika tak dibalas selang beberapa menit.
"Sekarang Ade istirahat, enggak usah kepikiran yang bukan-bukan. Besok Mas mu ini sudah bisa di jadikan guling lagi," ucap Angga.
"Jadi pengen peluk, Mas juga istirahat ya,"
"Ya Sayang, ya udah mas mau mandi dulu setelah itu mau tidur."
"Ya udah, Assalamu'alaikum muaaach," seru wanita cantik dari layar ponsel Angga.
"Wa'alaikumusalam, jangan lupa baca tiga surat penjagaan sebelum tidur."
"Ya, love You."
"Mas, juga cinta Ade." Angga menutup telepon.
Angga menyesap kopi yang sudah hampir dingin karena di tinggalkannya menerima telepon dari Rena. Ia membuka baju kemejanya ingin mandi lagi sebelum tidur untuk melepas penat.
"Pak Angga," seru suara berserta ketukan dari luar kamar hotel.
Angga terpaksa membuka pintu dan mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi.
__ADS_1
"Ada apa Leo?" tanya Angga.
"Laptop Mbak Celin ketinggalan di jok mobil belakang," ujar pria yang berprofesi sebagai sopir itu.
Celin pasti sangat membutuhkan laptop untuk membuat rancangan penelitiannya untuk esok hari, begitu yang langsung terbesit dalam pikiran Angga. Angga melihat jam tangan yang masih melekat di lengan tangannya.
"Belum terlalu malam, dari hotel ke kantor yang ada di perkebunan butuh waktu 30 sampai 45 menit."
"Baiklah Pak, saya akan antar ke kantor di perkebunan." Leo berbalik hendak pergi.
"Tunggu Leo," seru Angga hingga sopir itu berbalik.
"Kamu sudah menyentir 7 jam, besok kamu juga harus menyentir lagi. Kamu lebih baik istirahat supaya besok bisa fit saat kita kembali ke kota."
"Tapi Pak, laptop Mbak Celin,"
"Tapi Pak, saya tidak apa-apa, sudah tugas saya mengantar bapak dan memastikan bapak aman di perjalanan ke perkebunan."
"Leo, tidak apa-apa. Jarak dari hotel ke pekebunan tidak jauh, saya juga sudah hapal wilayah sini. Sekarang saya sebagai atasan kamu, memerintahkan kamu untuk berisitirahat."
"Tapi ..."
"Sudah saya yang akan mengantarkan laptop Celin. Kamu istirahat!" seru Angga yang tidak tega melihat sopirnya yang menahan menguap mungkin karena kelelahan.
"Baiklah kalau Pak Angga memaksa," sopir itu menerima kelonggaran dari Angga, ia memberikan kunci mobil pada Angga.
"Saya akan pergi sekarang biar tidak terlalu malam sampai di hotel." Angga menepuk pundak sopirnya.
__ADS_1
"Terimakasih kelonggarannya pak Angga," sopir itu berbalik pergi merasa senang bisa langsung berisitirahat. Ia begitu senang memiliki bos bermurah hati dan pengertian seperti Angga.
Angga masuk ke dalam kamar, mengambil ponsel dan dompetnya. Tadinya, ia ingin mengabari Rena kalau akan kembali perkebunan, tapi Angga di kejar waktu. Ia pun mengurungkan maksudnya dan akan mengabari istrinya di perjalanan.
Angga menekan remote untuk membuka kunci mobil. Salah satu dari tiga mobil jenis Strada berbunyi.
Ia melihat jam tangannya yang berada di atas setir. Belum terlalu malam! Ia harus bergegas.
Angga menyalahkan mesin mobil besar itu. Mobilnya mulai perlahan meninggalkan hotel. Angga mengemudi strada dengan sedikit kecepatan tinggi karena masih berada di jalan aspal mu-lus.
Tak butuh waktu lama Strada yang di kemudikan Angga menapaki jalan berlumpur khas jalanan perkebunan kelapa sawit. Rasanya lama sekali tidak menyentir mobil besar ini ke jalan perkebunan selama pindah ke kota. Ia harus berjalan pelan di jalanan yang sepi dan berlumpur ini. Suara-suara hewan malam dari dalam perkebunan menemani perjalanan Angga melewati jalan berlumpur ini.
Angga sengaja tidak menyalakan music selama perjalanan. Ia lebih suka berkonsentrasi menyetir sambil mulutnya beristighfar agar di jauhkan qodar jelek akan menimpa dirinya kedepannya.
Nampak ada cahaya terang dari kejauhan di tengah minimnya cahaya di jalanan yang di penuhi pohon besar ini. Itu artinya tak lama lagi ia akan sampai. Angga bersyukur akhirnya sebentar lagi bisa sampai di tujuan dengan Aman dan selamat.
.
.
.
.
.
Bersambung .....
__ADS_1
Jantung masih aman?