Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Musibah


__ADS_3

Rena dengan berat membuka matanya karena tak tahan lagi dengan ponsel Angga yang sejak tadi bergetar meksipun tak berbunyi.


Dilihatnya jam dinding kamarnya yang menunjukkan pukul dua. Rena langsung melotot! Suaminya minta dibangunkan jam sepuluh untuk melakukan kewajiban gilir disebelah. Bagaimana bisa ia juga ikut ketiduran dengan suaminya. Tentu tidak ada yang salah, suaminya mengeluh tidak enak badan dan ingin merebahkan tubuhnya sebentar bersamanya.


Sedangkan dirinya juga merasa lelah belum istirahat sama sekali sejak pulang dari luar kota. Kali ini ia merasa curang dengan madunya. Toh! Nggak disengaja juga ia ikut tertidur dengan suaminya.


Rena meraih ponsel Angga, membuka dengan kode ponsel suaminya yang belum diganti meskipun sekarang suaminya sudah menikah lagi.


Dilihatnya banyak panggilan masuk di ponsel suaminya.


Mungkin Celin, sedang menunggu suaminya yang tak kunjung datang.


Rena membuka beberapa pesan yang belum dibaca dari istri suaminya itu. Nama kontak istrinya ternyata sudah di rubah, dari Celin menjadi ....


Bunda


Mas, kamu dimana?


Mas kok belum datang ini jam berapa?


Mas aku tunggu sampai jam sebelas ya


Mas kamu kemana sih, di telpon gak di angkat, di chat gak balas


aku tunggu sampai jam 12 ya, aku masih di ruang tamu


Mas! Angkat teleponnya lampu mendadak mati aku takut!


Mas, itu Mas yang ada di depan pintu?


Tak ada pesan lagi. Rena menghela nafas. Celin sepertinya membutuhkan Angga. Dilihatnya suami yang juga tertidur nyenyak, tapi ini sudah terlalu malam untuk membangunkan suaminya. Biarlah kali ini ia terlanjur curang sekali saja. Ia bisa menggantinya dengan besok malam.


Rena kembali menarik selimut ingin melanjutkan tidurnya. Belum sempat matanya terpejam, Rena mendengar ponselnya mengeluarkan bunyi meskipun hanya bergetar.


Rena meraih ponselnya yang ada di samping ponsel suaminya. Dilihatnya siapa yang menelpon.

__ADS_1


Marni! ngapain dia telpon malam-malam malam begini


"Ya Mbak Marni."


"Akhirnya nyambung juga, maaf ganggu malam-malam. Saya telepon bapak dari tadi nggak diangkat!" Nada suara panik bisa Rena dengar dari balik ponsel.


"Ada apa Mbak, tenang!"


"Bu, Mbak Celin jatuh dari tangga, dia terpeleset waktu mau naik ke kamar saat mati lampu."


Jantung Rena rasanya mau lepas mendengar penuturan tiba-tiba dari Mbak Marni.


"Sekarang gimana keadaannya Mbak!" Tentulah Rena sangat cemas.


"Tadi saya dan Tono langsung bawa ke rumah sakit karena kakinya keluar darah takut kenapa-kenapa!"


"Saya akan segera kesana Mbak."


"Mas! Bangun Mas!" Rena mendorong-dorong tubuh suaminya sudah panik tak karuan.


"Jam dua!"


Kesadaran Angga langsung pulih. "Kenapa nggak bangunin Mas."


"Ade juga ketiduran Mas! Sekarang Mas cepat pakai ini." Rena menyerahkan kaos berkerah yang baru di ambilnya dari lemari.


Tentu Angga tidak bisa menyalahkan orang yang juga tertidur.


Angga memakai kaosnya cepat. Sembari Rena juga ikut berkemas.


"Kita harus segera ke rumah sakit Mas! Celin jatuh dari tangga!"


Jantung Angga rasanya seperti akan lepas dari tempatnya mendengar ucapan istrinya. Ia segera meraih ponselnya, buru-buru membaca pesan dari istrinya yang semakin membuat jantungnya turun jatuh sejatuh-jatuhnya ke tanah.


Ia sangat tahu seberapa phobianya Celin pada kegelapan. Rasa bersalah bercampur panik berkecamuk di kepalanya. Jika terjadi sesuatu pada istrinya, dia lah orang yang paling bersalah karena abai pada salah satu istrinya.

__ADS_1


Kini keduanya dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Entah dengan kecepatan berapa Angga melajukan mobilnya. Ia hanya ingin segera tiba di rumah sakit.


"Tenang Mas! Jangan cuma Celin yang Mas pikirkan. Mas juga harus ingat keselamatan kita." Rena panik laju kendaraan suaminya yang begitu kencang.


"Celin hamil dan Jatuh dari tangga! Apa ada suami yang bisa tenang Dek!" seru Anda dengan suara tinggi.


Rena menunduk tak ingin lagi menegur suaminya yang hanya membuatnya merasa seakan orang egois. Ia tak pernah mendengar suaminya yang begitu kasar padanya. Ia tahu sekarang bukan hanya dirinya yang jadi prioritas suaminya. salahkan ia mengingatkan hal yang realistis! Ia hanya berusaha menahan air matanya agar tidak luruh.


Angga meraih tangan Rena, ia mengengam tangan itu dengan lembut. Angga pun mengurangi laju kendaraannya.


"Celin sedang hamil Dek, Suami mana yang bisa tenang.'' Angga mengulangi kalimatnya dengan suara lebih lembut.


"Rena ngerti Mas. Kita doakan saja mudahan tidak terjadi apa-apa sama Celin dan bayinya," ucap Rena sudah menahan kesal. Sungguh ia juga sangat mencemaskan keadaan Celin.


"Amin. De, kita berdua yang sepakat menerima Celin dalam kehidupan kita. Sudah tanggung jawab kita menjaga dan memberi rasa aman untuk Celin. Apalagi sekarang dia diamanahi untuk mewujudkan keinginan kita memiliki buah hati. Mas akan merasa sangat bersalah jika nanti terjadi apa-apa dengan Celin karena sikap abai Mas. Adek juga pasti tahu bagaimana hukumnya pelaku poligami yang tidak bisa adil."


Rena hanya mengangguk.


"Mas tahu, tidak ada yang lebih ngerti perasaan Mas selain Adek."


.


.


.


.


.


.


Bersambung........


Makasih yang masih ngikutin sampai Part ini😘😘

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘


__ADS_2