
Rena ikut bertepuk tangan setelah acara sambutan ketua penyelenggara. Ia menghadiri pertemuan untuk rencana kegiatan acara bakti sosial yang di selenggarakan alumni angkatan organisasi semasa kuliahnya.
Ditengah kesibukannya di kota Samarinda. Rena menyempatkan waktu hadir untuk mengapresiasi penyelengaraan acara.
Anggota alumni yang lain juga ikut datang dari luar kota ke acara pertemuan ini. Acara bertajuk nostalgia ini diselenggarakan di salah satu meeting room di hotel milik keluarga Ratarajasa di kota ini.
Mahasiswa-mahasiswa penerus organisasinya juga ikut bergabung.
Senyum tak berhenti terpancar dari wajah Renata. Ia tak menyangka bisa bertemu kembali dengan teman-teman satu angkatannya dengan pekerjaan dan kesuksesannya masing-masing. Semua terasa penuh kerinduan setelah lima tahun lamanya.
Rena melihat sekilas jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah empat sore, itu artinya ia harus segera bergegas jika memang ingin memburu waktu ke rumah ibu mertuanya.
Tapi sepertinya untuk pergi saat ini, ia tak mungkin bisa mengejar senja sebelum sampai di kota Balikpapan. Rena tidak ingin jika harus berkendara sendiri dari sini ke Balikpapan di malam hari. Jalanan sangat rawan dan berkabut. Terlebih Ia merasa letih, itu tak baik untuk konsentrasinya di jalan raya
Lagipula acara pengajian untuk kehamilan madunya masih besok sore. Ia masih punya waktu pagi hari kan untuk berangkat kesana. Ia akan lebih tenang jika berangkat dengan beriringan mentari pagi yang hangat pembuka harinya.
"Heh! Kenapa?" sapa pria yang sejak tadi menjadi pusat perhatian di acara ini.
"Nggak kok," jawab Rena terbangun dari lamunannya. "Ngomong-ngomong makasih ya bajunya."
"Nggak salah ukuran kan?"
Rena mengelengkan kepala, Wanita berkerudung mocca itu kembali melihat jam tangannya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu kelihatan panik?" tanya pria itu ikut bergabung duduk di sebelah Rena.
"Tadinya aku mau balik sekarang, soalnya ada urusan," jawab Rena.
"Oke, di mengerti. Bu Bos Rengga bread pasti sibuk kan, kalau memang kamu mau pergi karena ada hal mendesak silahkan," seru pria itu mengulurkan tangan mempersilakan.
"Bukan, bukan begitu. Aku hanya ada acara keluarga penting di Balikpapan. Tapi setelah aku pikir-pikir sepertinya nggak akan terburu juga. Pasti keburu gelap di jalan." Rena melihat jam tangannya kesekian kali.
"Kamu nggak nyetir sendiri kan ke luar kota?" tanya pria itu.
Rena terdiam dan binggung harus menjawab apa? Tentu saja ia akan menyetir sendiri. Ia tak mungkin akan cerita pada Farhan kalau suaminya sekarang sudah di rumah ibu mertuanya bersama istrinya yang lain.
"Nggak kok," jawab Rena asal.
"Sama Pak Angga?" tanyanya lagi curiga.
"Ren, bisa ikut aku sebentar nanti."
"Kemana?" tanya Rena heran.
"Jadi gini, chef hotel ini lagi buat menu kudapan baru untuk desert. Kamu bisa bantu aku kasih masukan nggak?"
Rena tertawa kecil, "Kamu salah orang Han, aku sama sekali nggak kompeten untuk kasih penilaian hal seperti itu, apalagi untuk hotel semegah ini."
__ADS_1
"Ren, justru aku malah cari orang yang bisa menilai kudapan dengan citarasa khas lokal. Bukan hanya menu western yang menjadi andalan hotel-hotel bintang."
"Fix, kamu memang salah orang!"
"Nggak Ren, aku pernah tonton seminar kamu. Roti yang kamu jual dibuat dari bahan baku lokal yang di ambil langsung dari petani lokal. Selain membuat roti dari hati untuk orang tercinta, banyak sedikit kita bisa membantu memutar roda ekonomi petani kecil."
Rena tersenyum, bagaimana bisa orang seperti Farhan Ratarajasa tahu tentang jargonnya setiap seminar. Apa mungkin pria ini menonton seminar recehannya yang iseng ia postingan di kanal YouTube, untuk memberi motivasi pemula usaha mikro?
"Ren, menu aku kali ini adalah menu lokal yang selalu dibuat wanita paling aku cintai di dunia ini. Sekarang aku nggak mau egois, simpan makanan enak ini untuk diri aku sendiri, semua orang juga harus bisa menikmati sebagian kecil dari orang luar biasa di hidupku. Ia juga seperti kamu, membuat sesuatu dari hati untuk orang tercinta," ucap pria itu.
Rena bisa melihat ketulusan dari mata Farhan.
"Bagaimana? Kamu nggak keberatan kan untuk kasih aku masukan."
Tanpa sadar, Rena mengangguk begitu saja.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ........