
Angga masuk menuju ke ruangan Celin dirawat. Angga melihat kondisi Celin yang sudah lebih baik. Tangannya di aliri cairan infus karena kata dokter Celin harus menginap malam ini sampai keadaan benar-benar pulih.
"Celin," tegur Angga mendekati Celine yang masih sesegukan.
"Pak Anggap. Apa yang terjadi Pak?" tanya Celin dengan keadaan yang mulai tenang melihat kehadiran Angga.
Angga jadi bingung harus bagaimana menjelaskan pada Celin tentang situasi ini "Sebaiknya kamu sekarang istirahat, besok saya akan jelaskan semuanya." Angga hanya tak ingin Celin kembali trauma jika dirinya mengatakan yang sebenarnya saat ini.
Seolah mendapat sebuah ketenangan, Celin mengangguk.
"Pak Angga," seru Celin ketika Angga berbalik akan melangkah.
"Bisakah Pak Angga tetap disini malam ini," Celin kembali menampakkan wajah ketakutannya dengan matanya berkaca-kaca.
Angga sangat binggung dengan situasi ini, Celin berkelakuan yang hanya akan membuat kecurigaan warga semakin kuat. Ia tahu tindakan percobaan pemerko-saan itu sangat menguncang jiwanya. Tapi keadaan Celin sekarang sudah lebih baik, apa salahnya Angga mencoba pelan-pelan mengingat posisi mereka.
"Celin, ada dua perawat dan dokter yang akan berjaga disini. Mereka akan menjaga kamu dengan baik," seru Angga.
__ADS_1
Celin kembali menangis, ia tak ingin Angga jauh darinya. Kejadian beberapa jam lalu masih begitu membekas di ingatannya. Dalam pikirannya hanya Angga yang bisa ia percaya menjaga dirinya.
"Baiklah Celin, saya akan tinggal disini malam ini, saya akan tunggu kamu disini. Sekarang kamu istirahat."
Gadis bermata hazel itu mengangguk merasa teduh, ia mengembangkan senyum kemudian menarik selimutnya bersiap memejamkan mata.
Angga tidak punya pilihan lain, ia hanya tidak ingin Celin kembali terpukul. Selain itu, Angga juga ingin menjaga Celin yang hampir kecolongan sesuai amanah Pak Bramantyo padanya.
Angga duduk di kursi tunggal yang ada di ruangan besar dengan empat brankar, tapi hanya brankar Celin yang diterisi. Ia memperhatikan gadis yang sudah mulai terlelap itu. Ada rasa iba dalam hati Angga melihat Celin. Ia berharap Celin bisa segera keluar dari rasa traumanya.
Apa yang sudah terjadi malam ini. Tak henti mulut Angga mengungkapkan istighfar. Entah setan apa yang sekarang mengoda pikirkannya, ia mengingat dalam kepalanya beberapa saat lalu melihat tubuh indah yang tidak halal untuknya. Angga pria normal! Setidaknya ia datang di waktu yang tepat untuk menolong Celin, hanya saja kondisinya yang abnormal.
Sungguh ini malam yang paling berat dalam hidupnya, yang ia akan menghadapi adalah fitnah yang di tuduhkan padanya.
Langsung terlintas dalam ingatnya Renata istrinya. Bagaimana perasaan sang istri jika tahu, apa yang terjadi malam ini?
Angga belum menghubungi Rena lagi setelah keluar dari hotel. Rena pasti sekarang sedang panik menunggu kabar darinya.
__ADS_1
Ia ingin sekali segera pulang, memeluknya erat istirnya, bersandar di bahu Rena dan berkeluh kesah padanya. Bagi Angga, hanya Rena tempatnya bekeluh kesah.
Disisi lain ia memikirkan ucapan Pak Kades untuk menikahi Celin. Angga mengelengkan, sungguh itu hal mustahil bisa terjadi. Tapi kembali lagi Angga mengingat segala urusan kita sudah tertulis di Lauhul Mahfudz, Angga hanya bisa pasrah takdir Allah yang akan diberikan padanya.
Sungguh rasanya kepala begitu berat. Ia berharap pagi segera datang menyelesaikan masalah ini dengan segera.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....