Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Celina Brigitte Bramantyo


__ADS_3

"Kok melamun?" suara Angga yang keluar dari kamar mandi membangunkan lamunan Celin.


"Enggak Mas," jawab Celin mencoba berkilah.


Angga segera bergabung dengan istrinya ditempat tidur. Bersandar berdua di atas headboard kasur di kamar lama istrinya.


"Mas boleh tanya?" seru Celin kini menghadap ke arah suaminya.


"Tanya apa?"


"Apa menceritakan masalah ranjang tanpa sengaja itu termasuk berdosa?"


"Hm ... jadi begini Yang. Sesuai dengan sabda Nabi. Sesungguhnya perumpamaan orang semacam itu seperti setan laki-laki dan perempuan. Setan laki-laki menjima' teman perempuan di saksikan banyak orang."


Persis seperti yang di bentakkan Renata padanya. Bedanya cara penyampaian suaminya begitu lembut sampai ia ingin menangis lagi mengingat kejadian tadi siang.


Celin menyusup kepalanya di dada suaminya. Ia tak ingin dilihat suaminya dengan keadaan seperti ini. Tentu saja, isakan suara wanita itu semakin keras dan membuat Angga menurunkan kepalanya mengamati sang istri.


"Yang, kenapa?" tanya Angga mengusap punggung istrinya. "Ada masalah? cerita sama Mas," seru Angga kini mengangkat dagu wanita cantik itu. Ia menunggu tanggapan istri mudanya dengan penasaran.


"Nggak apa-apa Mas, Aku hanya pernah tak sengaja bicara hal yang seharusnya sama Mbak Marni. Mungkin kedepannya aku harus lebih hati-hati lagi menjaga mulut."


Tentu saja Celin tidak ingin menceritakan secara detail masalahnya dengan Renata. Ia tidak ingin semakin bermasalah dan renggang dengan kakak madunya itu.


"Kalau memang kamu butuh sharing. Tanya saja dengan Renata, dia orang open dan pengertian," ucap Angga.


Celin hanya tersenyum, mengiyakan ucapan suaminya. Dalam hati ia membatin. Bisakah ia berbicara baik dengan kak Renata. Sedangkan tadi pagi ia bersikap tak bersahabat.


"Udah jangan nangis, kalau sudah tahu hukumnya jangan pernah di ulangi lagi." Angga menyeka dengan tissue pipi istrinya yang basah.

__ADS_1


"Mungkin karena bawaan bayi aku jadi lebih cengeng Mas," balas Celin.


Angga langsung spontan menyentuh perut istrinya. "Perasaan Mas, kamu enggak pernah ngidam Yang."


Celin hanya tersenyum lembut, "Nggak apa-apa Mas, yang penting anak kita sehat."


Baginya ngidam bukanlah hal yang penting. Tapi perhatian dan kebersamaan suaminya seperti saat ini lah yang lebih ia butuhkan. Sejenak ia sadar kalau saat seperti ini tak mungkin bisa didapatkan dari suaminya setiap waktu. Waktu suaminya bersama istri pertamanya lebih banyak dibandingkan dengan dirinya.


"Oh ya, udah minum vitaminnya?" tanya Angga.


Celin hanya mengelengkan kepalanya dengan manja. Tentu saja Angga tahu istrinya itu paling susah untuk minum obat dan vitamin. Hal itu juga yang sering di kuatirkan Angga sehingga ia harus menyempatkan diri menemuinya malam hari untuk memaksa meminum vitamin.


"Yang, coba di biasakan. Sekarang mana obatnya," ucap Angga dengan nada sedikit keras.


"Aduh Mas, ketinggalan di mobil! Aku ambil dulu." Celin hendak turun dari tempat tidur. Tangan Angga buru-buru mencengkal lengan istrinya.


"Kamu tunggu disini, Mas saja yang ambil sekalian buatkan kamu susu." Angga turun dari ranjang.


Tapi sayangnya suaminya itu tak hanya miliknya. Bolehkah ia bermimpi suatu saat bisa memiliki Angga tanpa ada bayangan wanita lain dalam pernikahannya.


Dering ponsel Angga di atas nakas membuyarkan lamunannya. Celin mencoba memberanikan diri mengambil ponsel Angga. Untuk pertama kali ia memegang ponsel suaminya. Dilihatnya layar yang terus berdering dengan background foto kakak madunya. Seketika itu juga, ia seolah seperti berkaca harus segera sadar bagaimana posisinya saat ini.


Entah sudah yang ke berapa kakak madunya ini menelpon. Padahal baru beberapa jam ia pergi meninggalkan suaminya. Tentu saja Celin yakin, Renata tahu ia sedang bersama suaminya.


Tak bisakah kakak madunya itu membiarkan suaminya bersamanya sejenak. Meskipun kini Kakak madunya jauh, tetap saja ia merasa seperti di awasi. Gerak-geriknya bersama suaminya seperti tak boleh luput dari pandangan.


Boleh kah kali ini dirinya egois untuk bayinya?


Hanya beberapa saat saja, Celin ingin mematikan sambungan teleponnya. Tapi ia urungkan niatnya karena dirinya hanya akan mencari masalah dengan suaminya. Diletakannya kembali ponsel suaminya yang masih berdering. Ia berharap dering itu kembali hening setelah suaminya kembali.

__ADS_1


"Yang," seru Angga datang dengan membawa botol vitamin dan gelas berisi susu ditangannya.


Celin langsung terbangun dari lamunannya, ia meraih tablet vitamin yang di berikan suaminya, ia tak bisa menolak jika Angga sendiri yang menyodorkan itu padanya.


"Setelah minum susu Mas pijitin kaki kamu ya." Celin mengangguk dengan tersenyum bahagia. Angga mengambil gelas kosong bekas susu yang diteguk istrinya.


Celin membaringkan tubuhnya dengan nyaman. Celin menutup matanya merasakan tangan besar suaminya yang mulai mengurut kakinya dengan lembut. Lagi-lagi hatinya ngilu, perhatian seperti ini yang selalu ia rindukan ketika Angga bersama kakak madunya.


"Mas, Kak Rena kapan pulang?" tanya Celin.


"Insyaalloh besok malam," jawab Angga sambil tersenyum sayu ke arah istirnya. "Besok Mas masih bermalam sama kamu Yang, tunggu Mas dirumah," sambung Angga ketika menyadari raut wajah yang berubah dari istrinya.


Seketika Celin langsung menyunggingkan senyum semeringah, "Jangan datang terlalu malam ya Mas."


"Iya, nggak sabaran betul sih Yang," goda Angga.


.


.


.


.


.


Bersambung .....


Ei usahakan Up lagi malam ya dear.....

__ADS_1


banyak yang gedeg gak ya part ini😳


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘


__ADS_2