Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Pria Masa lalu


__ADS_3

"Oke! sudah hampir satu jam Rena membahas kiat sukses membangun usaha mikro menengah. Rena akan menarik delapan kesimpulan dari materi yang Rena sampaikan. Pertama, ingat! Jadilah Realistis, seperti yang Rena jelaskan sebelumnya. Jika ingin usaha makanan, cari yang memang real, orang selalu membutuhkan itu untuk seterusnya."


"Kedua, carilah Partner, jangan pernah sungkan berbagi dengan orang yang mau menilai kelebihan dan kekurangan produk yang akan kita jual. Sampai saat ini sih, partner terbaik Renata ya suami, orang pertama yang menjadi kelinci percobaan untuk Rengga Breads."


Gelak tawa pun memenuhi isi gedung. Rena memang membawa materi seminar dengan cukup baik dan humoris sehingga audience yang hadir terlihat antusias.


"Lanjut yang ketiga, Perbudak Dirimu Sendiri. So! Mungkin terdengar sedikit kasar dan tidak manusiawi. Tapi begitulah kurang lebihnya saat kalian harus memulai bisnis dari bawah. Kalian di awal harus bersedia untuk ikut terjun langsung ke lapangan.


"Yang keempat “time is money?” Ya, buatlah waktumu berharga kawan.


"Kelima. Rekrut Karyawan yang Tepat. Selanjutnya. Jual Kelebihan, Bukan Harga. Ketujuh. Manfaatkan Teknologi Baru dengan baik! Untuk media promo pasti!


"Yang terakhir ini yang penting untuk urusan kantong! Perlakukan Vendor dan Supplier dengan Baik. Rena yakin dengan seperti itu, besar kemungkinan kalian bisa mendapat diskon saat membeli, mendapat promo pengiriman gratis atau syukur-syukur diperbolehkan memperlambat pembayaran alias casbon. Lumayan kan."


"Jadilah yang Terbaik dalam membangun sebuah usaha. kalian tidak boleh setengah-setengah. Kalian harus melakukan semua hal dengan baik dan bisa menjadi yang terbaik untuk klien atau pelanggan. Apa pun yang kalian buat atau jual, juga haruslah yang terbaik. Lakukan hal ini terus menerus dan kekuatan dari mulut ke mulut akan membayarnya.


"Mungkin cukup sekian beberapa tips yang bisa kalian praktekan saat akan memulai sebuah bisnis baik itu kecil maupun menengah.


"Yang pasti, tetaplah berusaha dan semangat dalam menjalankan sebuah usaha karena tidak ada kesuksesan sebuah usaha yang instan. Mie instan aja nih, harus kita rebus sebelum kita masak.


"Jika memang suatu saat kalian mengalami kegagalan, cobalah untuk melihat alasan mengapa usaha tersebut gagal dan membenahinya satu-satu. Terakhir, jangan lupa berdoa minta kelancaran usaha kepada Allah. Semoga kalian semua bisa sukses setelah berusaha sebaik mungkin dalam usaha. Mohon maaf jika ada salah kata dan perbuatan Rena. Assalamu'alaikum warahmatullahi wahbarokatuh."


Tepuk tangan riuh memenuhi ballroom hotel setelah kata penutup dari Renata. Rena bernafas lega karena acaranya berlangsung lancar. Ia pun turun dari podium bergabung dengan panitia penyelenggara untuk berbagi waktu dengan narasumber yang lain membagi ilmunya di atas podium.


"Maaf-maaf saya telat," suara Pria berkemeja hitam rapi yang langsung menyela di barisan Renata. Pria itu langsung duduk sofa kosong di sebelah Renata.


"Tidak apa-apa Pak Farhan," sahut salah satu panitia penyelenggara menyambut dengan sopan. "Pak Farhan, perkenalan salah satu narasumber kita, pemilik Roti Durian Rengga bread yang lagi Viral."


Pria itu pun menoleh ke arah Renata yang duduk disampingnya. Renata langsung membulatkan mata melihat pria tampan masa lalu yang kini sudah banyak berubah penampilannya.


"Renata kan?" seru pria itu.


"Farhan?" balas Renata.

__ADS_1


"Wah! Enggak nyangka kita ketemu disini?" balas pria yang pernah satu tingkatan dengannya Rena saat kuliah itu.


"Ya, lagi di undang untuk berbagi ilmu usaha mikro aku yang tak seberapa ini," sahut Rena mulai akrab.


"Ya, ya. Renata yang selalu penuh ide gila. Pastilah sekarang bisa menciptakan formulanya sendiri," sahut pria itu.


"Kamu orang kaya yang sombong, Eh... tapi dermawan!" canda Renata.


Rena pun menyungingkan senyum, mengingat lagi zaman ketika ia memakai almamater berwarna Orange. Ya, ia dan Farhan memang tergabung dalam salah satu UKM yang banyak melakukan kegiatan sosial. Dimana salah satu donatur tetapnya adalah Farhan. Bagaimana tidak, Farhan kuliah hanya sebagai formalitas dan menghamburkan uangnya. Semua orang tinggal di kota Balikpapan sudah Farhan terlahir dari keturunan keluarga yang sudah kaya.


Dulu! Bukan karena jiwa sosial yang tinggi Renata bergabung dengan organisasi kala itu. Itu hanya salah satu strateginya untuk menyambung hidup di kalah akhir bulan uang kiriman dari ibunya sudah mulai menipis. Oleh sebab itu, Renata mahasiswi paling rajin mendatangi rapat organisasi setiap akhir bulan. Apalagi kalau bukan untuk menikmati nasi kotak gratis atau mendapat jatah uang lelah usai melakukan kegiatan sosial.


Rena jadi menyunggingkan senyum mengingat semuanya kala itu.


"Apa kabar?" tanya Farhan membangunkan lamunan Rena.


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri?"


"Ya, begini-begini aja, Rapat, tanda tangan hadiri acara-acara begini, bosan!" jawabnya.


"Ya, mau gimana lagi," jawabnya.


Rena mangut-mangut maklum, beginilah orang dari keturunan keluarga kaya, pasti mereka mengemban tanggung jawab meneruskan bisnis besar orang tuanya di usia muda. Sahabatnya yang kini menjadi bos suaminya pun begitu!


"Ren, Kamu udah merid kan. Tiba-tiba kamu hilang semeter tujuh katanya pindah ke Kaltara."


Rena mengangguk, bagaimana orang ini masih mengingat tentang dirinya yang tak penting ini, padahal itu sudah berlalu lima tahun lalu.


"Ya, aku ikut suami kesana," jawab Rena.


"Oh ... kamu berubah jadi alim dan kaleman habis nikah." Pria itu tanpa sungkan memperhatikan Rena dengan tampilan kerudung panjang ke atas turun ke bawah.


"Masa sih," balas Rena mendelik ke arah Farhan.

__ADS_1


Astagfirullahaladzim. Buru-buru ia memalingkan pandangannya dari pria yang berubah jadi pria dewasa dengan aroma maskulin yang menguar di hidung Rena.


Bagaimana juga ia bisa sedekat ini tanpa canggung dengan lawan bicara yang bukan mahramnya.


"Bisa minta nomor hape kamu enggak!" Farhan menyodorkan ponselnya ke arah Renata.


Tentu saja Renata ragu, ia wanita bersuami! ia tak mungkin membagi nomor pada sembarang pria meskipun itu teman lama.


"Siapa tahu aku lagi butuh roti durian jumlah besar, aku bisa langsung hubungi ownernya biar bisa dapat diskon!" lanjut pria perawakan tinggi itu.


Rena pun mengambil ponsel itu dan mengetik nomor ponselnya. Ia yang sempat ragu akhirnya meyakinkan diri ini hanya untuk kelancaran usahanya.


"Makasih," sahut pria itu menyimpan ponselnya.


"Kita persilakan memberi sambutan, untuk perwakilan perusahaan-perusahaan sponsor acara ini. Bapak Farhan Ratara Jasa."


Mendengar namanya dipanggil, pria itu pun mengakhiri obrolannya dengan Renata. Ia berpamit ingin naik ke podium memberi sambutan.


Rena pun mempersilahkan dan cepat-cepat beristigfar membuang pandangannya karena tak baik jika terus menatap pria yang sedap di pandang itu.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘


__ADS_2