Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Menolong


__ADS_3

Setelah puas menjamah tubuh gadis bermata Hazel itu, pria bertubuh kekar itu tak sabar lagi melancarkan niat buruknya untuk merenggut kehormatan wanita yang menangis tersedu-sedu di bawahnya. Wanita itu sudah tampak pasrah dan melemah. Belum sempat memaksakan sesuatu pada gadis muda itu, lampu kamar yang gelap merubah menjadi terang. Beserta gedoran pintu.


"Sial bagaimana Angga bisa disini!" pekik pria itu bangkit sambil sibuk menutupi wajahnya.


Mendengar nama Angga disebut pria itu, Celin memanggil nama Angga dengan sisa tenaga yang ia miliki.


Seolah sudah hafal seluk beluk ruangan ini, pria itu memunguti pakaiannya dan buru-buru pergi melewati jendela.


Celine meraih apapun yang bisa ia jangkau untuk menutupi tubuhnya, menunggu ia bisa keluar dari ruangan mengerikan ini.


Angga berhasil mendobrak pintu yang terkunci dengan satu tendangan keras.


"Astagfirullahaladzim Celin!" Betapa terkejutnya Angga melihat keadaan Celin memilukan. Gadis itu sesegukan meringkuk dengan mengenakan handuk koyak yang menutupi sebagian tubuhnya.


Angga menghampiri Celine meskipun keadaan Celine sungguh membuat pandangan menjadi ternodai. Tapi rasa khawatir terhadap Celin lebih besar di bandingkan naluri sebagai laki-laki jika dihadapkan hal yang indah tapi haram itu.


Celin mencoba berdiri dengan sisa - sisa keberaniannya, seolah doanya terjawab oleh Sang Pencipta mendatangkan penolongnya. Ia langsung spontan memeluk Angga seperti meminta perlindungan dari rasa takutnya.


Angga langsung tersentak melihat sikap Celin. Jangankan dipeluk, menyentuh wanita yang bukan mahram untuknya saja nyaris tidak pernah. Apalagi keadaan Celin yang hampir po-los. Tapi apa yang bisa dilakukan Angga saat ini melihat keadaan Celin. Ia membalas mengusap lengan Celin memberi ketenangan pada gadis bermata hazel itu yang nampak begitu ketakutan.


Sungguh situasi yang menguji keteguhan imannya. Ia akan bertobat dan meminta pengampunan pada Sang Pemilik kehidupan atas dosanya karena keadaan darurat ini.


"Celin tenang, apa yang sebenarnya terjadi?"

__ADS_1


"Pria itu te-rus mencum-buiku, dia te-rus menco-ba memperko-saku," ucapnya terbata dan ketakutan semakin menyembunyikan wajahnya ke dada Angga disusul pecah tangisan yang keras.


"Di-a pergi ke arah sana!" Celin menunjuk ke arah jendela dengan gemetar.


"Kamu tenang kita akan pergi dari sini!"


Angga mencoba menarik tubuh Celin dan memeriksa ke arah jendela. Tidak ada siapa-siapa di dekat jendela. Mungkin orang yang mencoba menodai Celin sudah kabur setelah mengetahui kedatangannya.


Celin setengah berlari menyongsong ke arah Angga lagi.


"Pak Angga jangan tinggalkan aku, aku mohon." Celin menangis begitu keras memeluk Angga, seolah bayangan pria itu masih ada di dekatnya.


Lagi - lagi Angga tidak bisa berbuatlah apa-apa? Ia di hadapankan dengan situasi yang sulit. Ia hanya bisa mencoba membuat Celin merasa tenang karena gadis itu terlihat begitu ketakutan.


Dalam pikiran Angga terus menduga-duga, siapa orang yang tega melakukan tindakan tak senonoh pada Celin. Pastilah orang itu bukan karyawan biasa. Dia punya kewenangan di kantor ini. Siapa pun itu ia tak pantas berada di perusahaannya.


"Celin," Angga memastikan keadaan Celin yang malah makin melemah dan hampir lepas dari pelukannya.


"Celin!" Angga panik Celin terkulai lemah.


Angga semakin panik melihat Celin yang pingsan tak sadarkan diri. Ia malah semakin gelisah melihat kain penutup Celin yang teronggok ke lantai.


"Astagfirullahaladzim," sungguh pemandangan yang tak ingin Angga lihat tapi ada di depan matanya. Sungguh cobaan apa yang diberikannya padanya hari ini.

__ADS_1


Sekarang Angga harus membawa Celin keluar dari kamar ini untuk mendapatkan pertolongan medis. Tapi sungguh, ia tidak mungkin membawa Celin dengan keadaan seperti ini. Ia mengelilingi pandangannya berharap ada sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menutupi tubuh mulus nan putih gadis itu.


Sungguh ia tak menemukan apapun bahkan seprei saja juga sudah koyak. Siapa yang tega berusaha memperko-sa Celin! Pria itu harus mendapat hukuman yang layak dan tak pantas ada di kantor perkebunan.


Angga tidak punya pilihan lain selain melepaskan kemejanya untuk Celin. Dengan perasaan yang bercampur aduk, ia berusaha mengenakan sekenanya kemeja yang terlihat lebih baik menutup Celin yang menzinahi matanya.


Ia pun segera mengangkat tubuh Celin membawanya keluar kamar ini meskipun tubuhnya hanya mengenakan atasan kaos dalam singlet.


"Pak Angga!" suara seseorang yang mengangetkan Angga yang beberapa langkah lagi menuju mobilnya.


Kedua pria itu langsung memasang raut wajah aneh. Tatapan penuh kecurigaan dua pria yang Angga kenal dan sekuriti kantor. Dalam pikiran Angga pasti kedua orang itu berburuk sangka melihat keadaannya dan Celin.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2