
"Pak Angga akan menikahi Celin! Saya pastikan itu! Kalian sudah puas!" Suara lantang seorang pria yang berhasil membuat warga terhipnotis diam.
Bukan hanya warga, Angga langsung berdiri dari kursinya mendengar pernyataan orang yang baru saja datang itu.
Bagaimana bisa Pak Bramantyo dengan sepihak mengatakan dirinya akan menikahi putrinya. Apakah ia tidak sadar bahwa dirinya juga punya istri yang saat ini saja belum tahu kabarnya.
Ia saja tak berani mengambil keputusan berani seperti itu meskipun kondisinya sedang sangat terdesak.
"Tolong! Jangan perlebar masalah ini, kita akan diskusikan bersama secara kekeluargaan. Saya pastikan, Pak Angga dan Celin akan saya nikahkan dalam waktu dekat," jelas Pak Bramantyo didepan warga. Tentu saja warga tenang dengan ucapan tokoh masyarakat yang berpengaruh di desanya itu. Terlebih lagi ucapnya menyakinkan warga seperti yang mereka harapkan.
"Sekarang saya minta tolong kalian membubarkan diri," pinta pria paruh baya itu yang langsung mendapat respon dari warga.
"Kita tunggu kabar baiknya dari Pak Bram," sahut salah satu warga.
"Tentu!" jawab Pak Bram tegas.
Warga yang berkerumun langsung berpencar membubarkannya diri. Pak Kades bernafas lega, akhirnya warganya bisa juga tenang dengan masalah ini.
Tapi tidak dengan Angga, ia masih punya sejuta protes yang akan ia utarakan dengan pria paruh baya itu. Ia langsung berdiri dengan emosi mendatangi pria itu.
"Pak Bram! Apa maksud Pak Bram! Pak Bram mengambil keputusan sendiri! Saya tidak pernah menyentuh putri Anda! Semua kamar yang beradar itu fitnah! Justru saya yang datang saat yang tepat menolong Celin dari percobaan pelecehan!" ungkap Angga penuh amarah.
"Pak Angga! tenang! Entah itu atau benar atau tidak saya percaya dengan putri saya."
"Kalau begitu! Tanyakan sendiri pada Celin bagaimana kejadian yang sebenarnya!" seru Angga lagi penuh emosi menunjuk ke arah Celin.
Celin menghampiri ayahnya yang sedang bersitegang dengan Angga.
__ADS_1
"Itu semua benar Pi, yang dikatakan Pak Angga semuanya benar! Ada yang mencoba memperko-sa Celin tapi Pak Angga datang menolong Celin." Celin mengengam tangan ayahnya.
"Tapi warga tidak akan percaya dengan ucapan kalian, warga hanya percaya dengan apa yang mereka lihat dan saksikan. Papi sangat tahu bagaimana warga perkampungan kita!"
"Pak Bram! Bukan berarti Pak Bram memberikan janji palsu akan menikahkan saya dengan Celin! Pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa dijadikan permainan!"
"Tentu saja bukan pernikahan palsu Pak Angga! Karena hanya itu cara yang bisa menjaga nama baik Pak Angga, Celin dan juga semua orang!" bantah Pak Bramantyo.
"Tapi Pak Bram tidak bisa mengambil keputusan sepihak tanpa melibatkan saya! Saya pria yang sudah beristri! Saya juga harus bisa menjaga kepercayaan istri saya!"
"Saya tidak mengambil keputusan sepihak Pak Angga, saya juga melibatkan Ibu Renata mengenai masalah ini!"
Tentu saja Angga langsung tersentak kaget mendengar nama istrinya di sebut Pak Bramantyo. Apa mungkin?
"Bapak jangan mengarang cerita! Renata tidak mungkin ....."
"Renata," antara senang dan terkejut.
Angga langsung menghampiri dengan cepat wanita berkerudung hitam itu. Tanpa peduli di hadapan ada beberapa orang. Angga langsung memeluk wanita yang sangat dirindukannya itu. Ia tak menyangka istrinya akan ikut menyusul ke perkebunan.
"Mas! Apa yang sebenarnya terjadi Mas!"
Angga bernafas lega meskipun terdengar suara panik dari mulut istrinya.
"De, tenang De, Mas enggak tahu harus jelaskan darimana. Yang jelas apa yang sudah beredar itu nggak benar sayang, itu fitnah."
"Rena takut Mas, Rena benar-benar takut Mas tergoda bujukan setan dan terjerumus hal yang maksiat."
__ADS_1
Isakan tangis mulai terdengar di telinga Angga.
"Sayang, itu hanya fitnah. Adek percaya kan sama suamimu ini," Angga melepaskan pelukan, ia memandang lekat istinya itu.
"Tanpa perlu Mas minta, Rena selalu percaya Mas Angga."
Angga menghembuskan nafasnya lega. "Terima kasih de, Mas yakin, hati adek enggak akan goyah dengan berita yang memfitnah suamimu ini."
"Tapi Mas tetap harus menikahi Celin seperti yang di sampaikan Pak Bramantyo," seru Rena lirih.
"De, ada apa dengan kamu?" seru Angga yang menjadi heran melihat istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung .......
__ADS_1