Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Mampu memenuhi?


__ADS_3

Rena bangkit dari kursi menemui suaminya. "Mas, Rena mau ke kantin cari kopi untuk kita biar segar."


Angga bangkit ikut berdiri, "Mas temani ini masih dini hari."


"Nggak apa-apa Mas, Rena sendiri aja, sebentar lagi juga subuh."


"Yakin?"


Rena mengangguk dengan senyum yang teduh, ia memegangi pipi suaminya. Angga yakin istrinya itu tak benar-benar ingin ke kantin.


Angga pun mengantar istrinya hingga di depan pintu kamar. Dipandanginya terus sang istri hingga menghilang dari belokan lorong rumah sakit.


Ditutupnya pintu kamar ruangan ini setelah memastikan Rena tak lagi terlihat. Segera Angga menemui Celin, ia duduk di tempat yang yang sama dengan Renata sebelumnya.


Diraihnya tangan istrinya yang lebam itu dengan rasa bersalah membayangkan sakit yang di alami istrinya.


"Ini sakit ya Sayang," ucap Angga mengelus tangan itu.


Celin langsung menarik tangannya dan menepis tangan Angga. Ia sekuat tenaga menahan sakit memiringkan tubuhnya. Ia memalingkan wajah tak ingin menatap suaminya.


"Maaf, Maafkan suamimu ini. Mas benar - benar menyesal," ucap Angga lirih. ia menempelkan kepalanya dengan kepala istirnya.


Celin masih tak bergeming, ia tak mau menatap suaminya.


Angga kini menurunkan tangannya ke perut istrinya yang mulai buncit. "Nak tolong, bantu Ayah supaya bunda maafin ayah."


Air mata Celin akhirnya luruh. "Mas suami tega! Mas jahat!" Sentak Celin berbalik ke arah suaminya.

__ADS_1


Angga langsung mendekap tubuh istrinya itu. Rasa bersalah semakin menghujani raganya. Celin terus meronta meskipun Angga semakin erat memeluk tubuh lemah ini.


"Maaf Yang, Mas kurang sehat dan ketiduran ...."


"Kalau memang Mas ingin bersama Kak Rena, Mas bilang sejak awal! Aku enggak perlu sampai tengah malam nunggu Mas datang!" tangis istrinya semakin pecah.


"Sungguh! Mas sama sekali enggak bermaksud seperti itu Yang."


"Saat nunggu Mas tiba-tiba lampu padam! Betapa takutnya aku Mas, terlebih aku melihat bayang-bayang orang yang akan masuk ke rumah! Aku takut hal buruk itu terjadi lagi. Aku mencoba lawan rasa takutku demi anak kita, aku pergi menaiki tangga ke kamar dengan cahaya seadanya sampai akhirnya aku terjatuh dan pasrah dengan hidupku. Saat tubuhku rasanya remuk menyentuh lantai hanya satu yang aku minta, selamat aku hanya demi anakku!"


Angga menciumi punggung tangan Celin, lagi-lagi jantungnya seperti diremas membayangkan bagaimana Celin meminta tolong memanggil namanya saat itu. Suami macam apa dirinya!


"Maaf Yang, Maaf," hanya itu yang mampu di ucapkan Angga.


"Dimana Mas? Mas sedang enak-enak tidur tanpa memikirkan aku kan!"


"Seandainya aku tidak bangun lagi pagi ini, Mas juga enggak peduli kan! Cih! Bodoh sekali aku. Harusnya aku sadar diri! Siapa Aku, kenapa aku harus tanya! Tentu saja Mas akan bersyukur tidak ada penghalang lagi antara Mas Angga dan Kak Rena ...."


Angga memeluk lagi istrinya sebelum Celin berbicara semakin menusuk hatinya. "Jangan pernah lagi berpikir seperti itu. Dengan cara apapun kita menikah kamu tetap istri Mas, sama dengan Renata."


"Tolong Cel, mulia sekarang, berhenti berpikir kamu tak penting. Sudah Mas bilang padamu! Bagi Mas, kamu dan Renata sama-sama berarti dalam hidup Mas." Angga tahu kondisi Celin sedang terguncang, istrinya hanya butuh ketenangan dan kekuatan dari seseorang yang disayanginya.


Isakan tangisan Celin mulai merada. Ia berusaha mengatur nafas menahan segala rasa dalam dadanya. Ia mulai bisa tenang sekarang dalam pelukan suaminya. Suaminya masih peduli padanya.


"Nanti aku akan tambah satu pembantu lagi, supaya kalau Mas tidak ada di dekat kamu. Dia bisa berjaga di lantai atas."


Celin bangkit dari pelukan suaminya. "Aku enggak butuh pembantu Mas! Aku butuh Mas Angga!" kata itu keluar begitu saja. Entah rasa sakit yang ia rasakan membuatnya menjadi berani mengutarakan keinginan terpendamnya!

__ADS_1


"Selama aku hamil waktu aku cuma tiga hari, itu pun juga kalau Kak Rena nggak ada keperluan. Jika aku minta, selama hamil, setengah hari dari satu hari waktu Mas dengan Kak Rena apa Mas Mampu memenuhi. Itu juga tidak mengurangi waktu Kak Rena dengan Mas kan."


"Ya," jawab Angga menurut tak ingin istrinya kembali terguncang.


"Kak Rena pasti keberatan," ucap Celin ragu.


"Kamu nggak boleh seudzon, nggak ada yang bisa memahami kita selain Rena."


Celin mengangguk mencoba percaya. Sedangkan Angga mencoba mengukir senyum tapi pikiran mulai berputar, memikirkan penjelasan seperti apa yang harus ia berikan kepada Renata. Sungguh, ia tak tega harus melihat istri pertamanya itu terluka lagi dan berkorban lagi.


"Sekarang kamu istirahat, Nanti kalau sudah subuh Mas bangunin."


Celin mengangguk menurut, wanita muda itu kembali membaringkan tubuhnya. Angga membantu membenarkan selimut Celin. Kini ia duduk di sebelah Celin. Ia menunggu istrinya yang kini mulai memejamkan mata.


Angga mengambil ponsel dari saku celananya, ia bermaksud menghubungi Rena menanyakan keberadaannya karena tak kunjung datang


.


.


.


.


.


Bersambung .....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘


__ADS_2