
“Mbak Cel!” panggil sri pada Celin yang berada di dapur.
Wanita yang sedang sibuk mengaduk kopi itu menoleh. “Ada apa Mbak Sri?” jawab wanita itu.
ART yang berkerja di rumah rena itu menyerahkan kartu yang serupa kartu kredit dan jaket kulit pada Celin. Celin membolak balik kartu itu.
“Kemarin kartu bapak ketinggalan di jaket ini waktu saya seterika.”
“Oh …”
“Jaket bapak yang di koper ibu yang dari Samarinda,” ucap Sri memperjelas maksudnya.
“Aku kasih tahu Mas Angga dulu.” Celin melenggang pergi menuju ke kamarnya.
Celin sudah berada dalam kamarnya sekarang. Ia mendapati suaminya yang bersiap akan pergi ke kantor. Ia meletakkan dulu jaket yang ia bawa di atas tempat tidur. Dengan sigap ia membantu suaminya mengancingkan kemeja birunya.
“Mas, ada kartu mas yang ketinggalan di jeket,” ucap Celin seraya merapikan kerah baju suaminya.
“Kartu apa?” tanya Angga binggung. Ia merasa tak pernah sembarangan menaruh kartu di dalam saku jaket.
Celin berbalik mengambil kartu, “ini.” Ia lalu kembali berbalik meraih jaketnya hitam itu. “Ini jaketnya.” Menyerahkan pada suamimya.
Angga tentu langsung tahu kalau jaket itu bukanlah miliknya. Ia bukan pecinta jaket kulit. Ia membolak balikkan jaket mencari petunjuk siapa pemilik jaket ini.
“Loh Mas, kenapa di kartu ini bukan nama Mas Angga. Farhan Ratarajasa,” seru Celin kaget membaca tulisan berwarna emas di kartu itu.
Nama itu tentu juga tak asing ditelinga Celin. “Oh ya. Aku baru ingat Mas, beberapa waktu lalu juga ada paket dari Farhan ini untuk Kak Rena yang Tono salah kasih ke aku.”
Angga langsung menyambar kartu yang di pegang istrinya itu. “Darimana Sri dapat jaket ini?”
“Katanya di koper Kak Rena yang dari Samarinda,” ucap Celin bicara apa adanya.
“Kayaknya selain sama Mas, Kak Rena juga punya kerjasama bisnis sama orang ini Mas,” seru Celin berusaha menyimpulkan pemikirannya.
Angga melempar jaket dan kartu itu ke ranjang, pria itu menyambar tas dan jas kerjanya.
“Mas sarapan di kantor saja.” Angga mencium kening Celin dan pergi tanpa menanggapi istrinya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Rena memeriksa lagi tumpukan kain yang usai diseterika. Ia sudah mengulang hampir yang ketiga kalinya tapi belum juga menemukan sesuatu yang ia cari. Ia turun ke bawah mencari di ruang laundry, barang kali sesuatu yang ia cari tertinggal disana.
“Cari opo toh Bu,” tanya Mbak Sri yang kebetulan lewat melihat majikannya yang sibuk membongkar tumpukan pakaian.
“Mbak Sri lihat jaket hitam yang waktu itu aku suruh ikut seterika?”
“Yang bahannya kayak kulit bukan Bu?”
“Ya betul!”
“Oh … Tadi pagi saya kasih Mbak Celin karena Ibu sudah pergi. Soalnya ada kartunya bapak ketinggalan di jaket.”
Rena menepuk dahinya berarti suaminya tahu. Rena tak bermaksud menutupi cerita kejadian bersama Farhan. Tapi waktunya saja yang belum tepat. Mengingat beberapa waktu belakangan ada masalah menyangkut Dion yang perlu diselesaikan.
“Kenapa di kasih Celin Mbak Sri! Itu bukan punya Mas Angga tapi punya teman saya,” seru Rena jadi merasa tak tenang.
“Maaf Bu, saya kira punya Bapak. Kebetulan Bapak dirumah Mbak Celin,” ucap ART itu merasa bersalah.
Rena berpikir positif, tidak mungkin suaminya berpikir buruk hanya karena sebuah benda kecil.
.
.
.
.
Angga berada diruagan kantor besar. Tangan Angga mengetuk-ngetuk meja menunggu seseorang yang ingin ditemuinya. Seseorang yang menjungkirkan dunianya pagi ini. Seseorang yang berhasil membuat paginya geram dan berantakan. Tak sulit bagi Angga untuk menemukan seorang Farhan Ratarajasa. Meskipun menempuh perjalanan jauh, ia tak peduli! Ia hanya ingin memperingatkan bocah itu!
“Silahkan Pak, Sebentar lagi Pak Farhan selesai rapat dan akan menemui Anda.” Wanita yang terlihat seperti sekertaris itu menyuguhkan gelas berisi lemon tea.
Angga hanya mengangguk tak bernafsu sama sekali bicara. Di teguknya habis minuman itu untuk meredakan rasa gerah yang meyergapi dirinya. Orang yang di tunggu akhirnya muncul dari balik pintu dengan senyum merekah yang hanya membuat Angga semakin mengepalkan tangannya ingin meluapkan kekesalan. Di ambilnya nafas dalam agar tak terpancing emosi yang hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
“Pak Angga, apa kabar?” Pria itu mengulurkan tangan dengan ramah.
__ADS_1
“Sepertinya kurang baik Pak Farhan.” Angga dengan malas membalas uluran tangan pria itu.
Pria itu melepaskan jasnya navinya, ia mengantung pakaian itu di kursi. Pria itu kini menempati kursinya duduk di hadapan Angga.
“Ada apa dengan Wilson Palm, kenapa mendadak sekali bertemu dengan saya,” ucap pria itu santai.
“Hanya menyampaikan undangan meeting club pengusaha kita,” ucap Angga sinis menyerahkan ipad.
“Kenapa harus repot-repot datang Pak Angga. Biasanya di kirim melalui grup,” balas Farhan.
“Ada hal lain yang ingin saya sampaikan!" ucap Angga penuh penekanan.
"Silahkan Pak Angga."
"Pak Farhan yang terhormat. Jauhi istri saya! Jangan berusaha mendekati dia dengan berlaga jadi pahlawan kesiangan!” hardik Angga keras.
Farhan tersenyum sinis, ia mulai mengerti, rupanya tidak akan ada pembahasan bisnis. “Bagaimana jika dia lebih butuh seseorang yang membuatnya merasa nyaman!”
“Jaga mulut Anda Pak Farhan!” Angga berdiri menunjuk pria yang ada dihadapannya.
“Lepaskan saja dia Pak Angga! Bagaimana aku bisa terima jika setiap bertemu Renata yang aku lihat di matanya hanya airmata!” Farhan juga ikut berdiri menantang rekan bisnisnya itu.
“Lancang sekali Anda Pak Farhan!” Angga tak lagi peduli dengan nilai kesopanan mendengar ucapan pria itu.
“Itulah kenyataan yang ada,” balasnya tersenyum mengejek.
“Tahu apa kamu tentang istriku!” Angga tak bisa lagi menahan diri menarik baju pria itu.
“Yang aku tahu tak ada wanita yang bahagia jika suamimya juga memiliki wanita lain! Aku juga tahu orang seperti apa Anda!” sentak Farhan menyingkirkan tangan Angga dari bajunya.
“Carilah wanita single yang masih banyak di luar sana! Aku peringatkan sekali lagi! Berhenti mendekati wanita yang sudah bersuami atau kamu akan menyesal!” Angga menunjuk marah wajah pria yang bicara seenaknya tanpa dosa itu.
“Kita lihat saja nanti Pak Angga,” ucap Farhan dengan nada ringan.
Angga pun meninggalkan pria itu sebelum kesabaran dan amarahnya memuncak. Bocah itu malah bersikap kurang ajar dan mengancam dirinya. Bocah kemarin sore itu bisa jadi duri dalam rumah tangganya. Pria penganggu itu tak bisa ia biarkan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung .....