
Dibawah semilir pohon mangga yang rindang daunnya. Angga duduk sejenak melepas lelah menempuh perjalanan dan mengangkat barang suruhan ibunya ke mobil.
"Minum Mas," ucap Celin. Wanita cantik ini muncul disaat yang tepat untuk menyejukkan dirinya siang ini. Ia menyodorkan segelas jus jeruk.
"Makasih Yang," ucap Angga menerima gelas dari istrinya. Angga meneguk jus itu hingga tandas. Ia menepuk tempat kosong di sebelah memberi tanda agar sang istri duduk bersamanya.
Wanita hamil itu duduk disebelah suaminya sekarang. Angga menatap istrinya itu, diraihnya kedua tangan sang istri.
"Gimana? Kamu betah tinggal dirumah ibu," tanya Angga.
Wanita bermata hazel itu hanya mengangguk, "Betah Mas, ibu baik dan banyak kasih tips kehamilan," balas Celin. Tentu saja ia berbohong ia lebih bahagia jika bisa bersama suaminya dua puluh empat jam selama kehamilan tuanya ini. Tapi tentu itu sesuatu yang tak akan terjadi.
"Kamu beneran betah?" Angga memastikan karena raut wajah Celin tak seantusias biasanya. Wanita itu kembali mengangguk semangat sambil mengukir senyum.
"Ibu minta nanti dekat persalinan kamu tinggal sementara sama ibu, biar ada orang tua yang berpengalaman untuk ngerawat dan membimbing kamu," ucap Angga.
"Mas Angga?" tanya Celin. Ia tak mau Angga tak disisinya nanti menjelang persalinan.
"Mas akan terus bersama kamu nanti menjelang persalinan," balas Angga.
Celin kembali tenang, tapi betapa rindunya dia jika harus berpisah dengan suaminya nanti. Tapi ia tak bisa menolak karena saran dari ini dan suaminya juga baik untuknya dan bayinya.
"Auh!" pekik Celin memegangi perutnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Angga panik.
"Beberapa hari terakhir anak kita aktif Mas. Ia suka nendang bundanya."
"Masa, suka godain bunda ya kalau nggak ada ayah." Angga mengelus perut istrinya.
"Mas, dia malah muter-muter Mas pegang. Kayaknya mau main bola sama ayahnya." Celin mengarahkan tangan suaminya ke gelombang yang ia rasakan dari sang janin.
"Sabar ya jagoan ayah, nanti malam ya main bolanya." Canda Angga mencium perut istrinya.
"Ih Mas kok menjurus ke situ sih. Mesum," muka Celin berubah merah.
"Mas kira bundanya mau ikut main bola juga. Mas udah terlanjur seneng," goda Angga.
"Apa sih Mas," seru Celin menjadi malu.
"Udah Mas, nanti kak Rena lihat loh," seru Celin menghentikan tangan suaminya.
Seketika tangan Angga juga berhenti. Celin menyadari senyum di wajah suaminya langsung lenyap. Suaminya menampakkan wajah yang berubah 180 derajat. Tegang, binggung, panik.
Angga menoleh kesana-sini mencari keberadaan istri pertamanya itu. Bagaimana ia bisa tak sadar Rena juga ada di rumah ini.
"Cel, Mas masuk ke dalam dulu," seru Angga berpamitan pada Celin.
__ADS_1
Angga menelusuri rumah mencari keberadaan istrinya. Hatinya lega melihat Rena yang turun dari tangga.
"Dari mana saja?" tanya Angga.
"Rena langsung ke kamar," jawab Rena dengan suara serak.
Tentu saja Angga mengerti keadaannya istrinya tidak baik. Ditariknya pundak sang istri dan matanya basah
"Nggak akan lagi," seru Angga langsung meraih tubuh sang istri dalam dekapannya. Kali ini ia kecurian oleh Rena berdua dengan Celin.
Rena hanya bisa meluruhkan air matanya diperlukan suaminya.
Sementara di sisi luar, Celin masuk ke dalam rumah melalui pintu samping. Langkah wanita itu langsung terhenti ketika melihat dua pasangan manusia berpelukan dengan mesra. Ia menyembunyikan diri di balik pintu. Tubuhnya mendadak jadi sesak, ia tak pernah merasa sesakit ini ketika melihat mereka bersama.
Air matanya mendadak luruh, di elushya sang jabang bayi di perutnya untuk memberinya kekuatan. Jantungnya mendadak kebas, Cinta itulah alasannya. Ia sekarang sudah benar-benar sangat mencintai suaminya. Tentu hati kecilnya tak rela melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain, meskipun selama ini ia sudah berusaha membuat dinding Kokoh di hatinya agar tak mencemburui kakak madunya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung .......