
Rena membawa nampan yang berisi nasi goreng yang dibuatnya. Ia menyiku pintu yang terbuka sedikit untuk bisa melangkah masuk. Ia masih mendapati suaminya yang sibuk mengoperasikan ponsel di sofa dekat jendela.
"Mas, makan sarapan dulu yuk," seru Rena mendekati suaminya.
Angga mengulurkan tangan kepada istrinya. "Bantu berdiri," serunya.
Manja banget sih. Rena berpura-pura malas menarik menarik tangan suaminya. Bukannya sang suami yang berdiri malah Rena yang tertarik ke dalam hingga terjatuh di pangkuan suaminya. Wajah Rena pun mengenai wajah sang suami. Tangan Angga erat memeluk pinggang wanita yang tersungkur di dadanya. Angga tertawa pelan melihat ekspresi istrinya yang yang kesal.
"Mas! Usil banget sih!" Rena memukul berkali-kali bahu suaminya.
"Keterusan Dek," seru Angga sambil mencubit pipi Rena. Ia rindu sekali bersifat kekanakan dengan Rena seperti ini.
Rena segera berdiri dan melipat tangan ke dada berpura kesal.
"Ayo!" Angga kembali mengulurkan tangan dengan wajah memelas.
Rena dengan terpaksa menarik tangan suaminya. Jika suaminya bercanda lagi awas saja! Angga berdiri sungguh-sungguh kali ini, ia mengandeng tangan Rena menuju meja makan dengan dua kursi yang ada di kamar ini.
Angga tanpa ragu melahap masakan yang dibuat istrinya itu. Selalu enak meskipun hanya nasi goreng dengan telur ceplok di atasnya.
Ponsel Angga berbunyi di sela waktu makannya. Angga meraih ponsel di atas meja yang tak jauh dari jangkauannya. Ia melihat nama di layar ponsel kemudian menaruh lagi di sebelah piringnya.
"Siapa?" tanya Rena penasaran melihat suaminya mengabaikan panggilan itu.
"Nanti Mas telepon balik, kita makan dulu," jawab Angga kembali meneruskan makannya.
"Bunda ya?" tebak Rena. Ia hapal nama kontak madunya di ponsel suaminya.
"Iya," jawab Angga singkat tak ingin memancing pertanyaan untuk istrinya.
"Angkatlah Mas. Siapa tahu ada yang penting," saran Rena.
"Mas sudah bilang nanti mau telpon balik," seru Angga.
__ADS_1
Rena hanya mangut-mangut tak ingin lagi memaksa suaminya.
Tak lama berselang ponsel Angga berbunyi lagi dengan bertepatan suapan terakhir. Angga melihat lagi nama dilayar ponselnya mengira itu adalah istri keduanya. Tapi ternyata dugaannya salah.
"Ya," jawab Angga mengangkat telepon dari sekretarisnya.
"Kamu yakin!" seru Angga keras yang langsung mengagetkan Rena.
"Dimana sekarang!" tanyanya tak kalah lebih keras yang malah membuat Rena semakin penasaran.
"Saya akan segera kesana!" Angga menutup telpon menghampiri Rena.
"Siapa Mas? Ada apa?" seru Rena yang tak bisa tenang melihat wajah suaminya berubah menjadi merah padam seperti menahan emosi yang besar.
"Mas harus pergi sekarang," ucap pria itu mengecup kening Rena dan berjalan cepat menuruni tangga.
Tanpa pikir panjang, Rena langsung menyambar kerudung seadanya lalu berlari keluar mengejar suaminya yang tiba-tiba menjadi seperti singa yang ingin melahap mangsanya.
Rena akhirnya bisa mengejar suaminya yang masih di dalam mobil.
Rena masih mengekor setengah berlari mengikuti langkah suaminya yang seperti seorang yang gelap mata. Tentu saja Rena sangat khawatir dengan keadaan suaminya. Sangat berbahaya jika membiarkan orang yang emosinya tidak stabil menyetir.
"Tunggu Mas!" Rena memberanikan diri menghadang suaminya yang akan menuruni tangga.
"Mas harus pergi de," ucap Angga masih lembut seperti Biasa tapi dengan tatapan datar dan tajam tak seperti biasanya.
"Mas nggak bisa pergi dengan keadaan seperti ini!" protes Rena lantang. "Rena ikut!" sambung Rena.
"Nggak perlu dek," seru Angga datar.
"Jangan pergi kemana-mana!" ancam Rena. Ia tak ingin suaminya yang terlihat panik tak bisa fokus berkendara yang bisa mengancam keselamatan. Wanita itu pun berlari masuk ke dalam kamar.
Angga pun menurut tak beranjak dari tempatnya. Perasaan sadar di tengah emosinya muncul. Tak mungkin ia menyetir dengan keadaan penuh emosi seperti ini.
__ADS_1
Rena sudah kembali dengan jaket denim dan tas selempang tanpa sempat berganti baju apalagi berdandan.
"Kuncinya," Rena menadahkan tangan. Ia tak akan membiarkan suaminya menyentir untuk beberapa waktu ke depan.
Angga menyerahkan kuncinya tanpa bisa menolak keinginan istrinya itu. Rena langsung mengandeng lengan suaminya keluar.
"Kita mau kemana?" tanya Rena ketika sudah berada di dalam mobil.
"Ke Bandara! Kita ke kantor." seru Angga keras.
"Oke!" Rena mulai menyalakan mesin.
Mobil pun sudah berada dijalan raya, Rena melihat dari spion depan suaminya yang mulai tenang.
"Sebenarnya ada apa Mas! Kenapa kita ke kantor disaat Mas sedang cuti," seru Rena mulai memberanikan diri untuk bertanya.
"Orang yang sudah melecehkan Celin sudah tertangkap dengan bukti yang kuat. Apa hukuman yang pantas untuk orang tak bermoral seperti itu!" Angga kembali tersulut emosi.
"Tenang Mas, kita bisa pertimbangan nanti setelah bertemu pelakunya," seru Rena mencoba memahami suaminya.
Entah kenapa terselip rasa perih di dada Rena. Suaminya begitu emosi mengetahui pelaku yang melecehkan Celin sudah di temukan. Entah karena suaminya merasa, orang itu sumber masalah dari terbelahnya kisah rumah tangganya. Atau justru malah suaminya marah karena lebih merasa cemburu?
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ......