
Angga membelah langit malam yang gelap melanjutkan perjalanan ke salah satu mall untuk menepati janji menonton bersama istrinya.
Diliriknya sang istri yang tersenyum sambil mengelus perutnya. Angga ikut mengukir senyum melihat wajah bahagia Celin. Ia bersyukur apa yang dilakukan ini bisa membuat istrinya itu bahagia.
"Maaf tadi agak lama," ucap Angga memecah keheningan.
"Nggak apa-apa Mas," jawab wanita bermata hazel itu. "Mas, tadi Mas nggak malu ajak aku ketemu sama rekan bisnis Mas," sambung Celin.
"Kenapa harus malu Cel, pada kenyataannya Mas memang punya dua istri kan. Kamu bukan wanita simpanan Mas, kamu juga bukan istri simpanan Mas. Semua keluarga kita tahu kita menikah secara sah menurut hukum Agama dan negara."
Celin merasa terharu, ia sekarang semakin percaya bukan hanya anak yang ia kandung yang berharga untuk suaminya. Tapi dirinya juga penting untuk Angga, meskipun awalnya ia berpikir hanya Renata yang menjadi prioritas suaminya.
"Sebenarnya Mas juga nggak terlalu suka ikut berkumpul dengan para pengusaha besar itu, tapi mencari relasi dan memperbanyak link dengan orang-orang besar akan sangat membantu kelancaran bisnis untuk perusahaan. Memupuk kerakraban, bermintra dan mencari banyak dukungan dari orang-orang besar juga berpengaruh untuk kelancaran bisnis. Jangan mencontoh apa yang jelek dari mereka. Itu wajar karena mereka merasa punya segalanya dan ingin memiliki segalanya. Sifat serakah pada manusia itu berbeda-beda. Kita sebagai orang mengaku bertaqwa kepada Allah harus selalu bisa membentengi diri dengan doa, agar tidak terpengaruh dan justru harus bisa mempengaruhi. Kita contoh yang baik dari mereka kita kesampingkan yang nggak patut di contoh." Tutur Angga pada Celin.
Celin hanya mangut-mangut, "tapi sekarang mereka pasti berpikir Mas orang yang sama, suka main perempuan dan nikah lagi."
Angga mengacak kepala istrinya yang tertutup hijab foal itu.
"Kenapa harus pusing dengan penilaian orang Yang, pada akhirnya hanya akan mengotori hati kita."
"Aku nggak enak hati Mas," seru Wanita itu.
"Semua yang terjadi sudah takdir Yang, sebaik apapun orang melihat Mas dan akhirnya berpikir sebaliknya ya bagaimana lagi, jika memang qodar mas menikah lagi. Itu garis takdir yang harus Mas jalani meskipun Mas mengelak sekeras apapun. Sekarang lebih baik kamu fokus pada anak kita, jangan berpikir yang bukan-bukan."
Celin mengangguk, hatinya kembali tenang mendengar penuturan suaminya. Baginya sekarang, hanya Angga tempat terbaiknya untuk bersandar dan berkeluh kesah.
Mobil kini berhenti di area parkir mall. Keduanya segera turun menuju tempat yang ramai di akhir pekan ini. Lama sekali rasanya Celin tak menginjak tempat ramai ini, selama hamil ia membeli kebutuhan baju yang nyaman untuknya melalui marketplace. Ia tentu tak berani keluar rumah sendiri, ia masih tak sanggup jika bertemu orang yang mengenalinya dan menghukumi dirinya sebagai pelakor.
Angga mengandeng tangan Celin menyusuri store menuju gedung bioskop. Langkah Angga tiba-tiba terhenti di salah satu store yang memajang perlengkapan bayi.
"Yang, kamu nggak mau beli perlengkapan bayi untuk anak kita? Tuh lucu-lucu," tanya Angga antusias menunjuk pajangan pakaian bayi dibalik kaca.
Celin tertawa renyah. "Mas perut aku aja masih belum terlalu besar, masa mau beli perlengkapan bayi sekarang."
"Kan bisa di simpan untuk nanti Yang," balas Angga.
"Kata Ibu, kalau mau beli perlengkapan bayi nunggu sampai tujuh bulanan baru mulai nyicil. Lagipula kita belum tahu jenis kelamin anak kita Mas."
"Ya Bumil, kita lanjut." Celin mengangguk kembali meraih tangan suaminya.
__ADS_1
"Maaf!" Seorang pria yang keluar dari store jam tangan tak sengaja menabrak Angga.
"Tidak apa-apa," seru Angga.
Angga membantu memungut benda dalam kotak yang terjatuh ke lantai.
"Pak Dion," seru Angga mengenali pria yang tadi bersenggolan dengannya.
"Pak Angga! sedang jalan-jalan," sapa pria itu menjabat tangan mengangguk pada Celin yang di balas dengan senyuman.
"Ya Pak. Pak Dion ada keperluan dikota?" tanya balik Angga.
"Kebetulan besok saya ada urusan di kantor pusat. Jadi saya datang lebih awal sekalian menyempatkan ada keperluan yang tertunda." Ia menunjuk store jam tangan.
"Oh ... Jam tangan Pak Dion Retak?" kata Angga menyerahkan kotak terbuka berisi arloji milik bawahnya itu.
Tangan pria itu langsung menyambar kotak itu. "Hanya sedikit Pak, jatuh waktu saya mandi," balasnya.
"Sayang sekali Pak, saya tahu berapa harga jam itu. Semoga bisa diperbaiki dengan baik," seru Angga menepuk bahu pria itu.
"Ya Pak, sepertinya hanya bisa di perbaiki di ibukota." Pria itu menutup kembali dengan penutupnya yang terlepas. "Kalau begitu, saya permisi Pak Angga, selamat berakhir pekan dengan istri."
"Cel," seru Angga melihat istrinya yang mematung tanpa kata dan tangannya menggenggam jarinya erat.
"Yang, kamu kenapa?" Angga mencoba membangunkan lamunan istrinya.
"Mas, kita bisa pulang?" ucapnya tiba-tiba.
"Kamu kenapa?" Angga panik melihat istrinya yang berubah pucat.
"Mas bisa kita pulang sekarang!" tanya Celin lagi semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Ya Sayang, ayo kita pulang." Angga menuruti kemauan istrinya itu.
Keduanya berjalan kembali menuju tempat parkir. Meskipun banyak pertanyaan masih bercongkol di kepala Angga melihat istrinya yang berubah menjadi aneh setelah bertemu dengan bawahannya itu.
"Mas, jangan jauh-jauh dari aku Mas," Celin memeluk Angga ketika sudah berada di dalam mobil.
"Mas nggak akan kemana-man. Ada apa sebenarnya?" tanya Angga binggung mengusap punggung istrinya.
__ADS_1
"Malam itu Mas, aku memberontak dengan mengigit jam tangan pria itu hingga rentak. Pria itu menjadi marah dan semakin berbuat ...." Celin terisak dan kembali teringat memori kelamnya malam itu.
Angga mengusap lembut punggung istrinya yang bergetar itu. "Tenang Sayang, mungkin itu hanya kebetulan."
"Jam tangan itu mengingat aku pada malam itu Mas, karena hanya itu benda yang bercahaya dan bisa aku gigit," seru Celin masih dengan ketakutan hebat yang tiba-tiba menyergapnya.
Angga menemukan satu fakta baru dari istrinya. Apakah? tentu ia tak bisa menuduh tanpa bukti hanya dengan kesaksian istrinya.
"Sekarang kamu tenang Cel, semua masih dalam penyelidikan. Cepat atau lambat pelakunya pasti akan tertangkap."
Celin mengangguk, ia menarik nafasnya dalam-dalam mengikuti instruksi yang dulu pernah ia pelajari dari psikolog.
"Aku takut Mas," serunya mulai tenang di dada Angga.
"Ada Mas disini yang akan melindungi kamu, kamu nggak perlu takut."
Celin mencoba menenangkan dirinya dalam dekapan Angga. Orang tak bermoral itu belum sempat mengambil hal berharga darinya. Ia tak kehilangan kehormatannya. Orang yang memeluknya sekarang adalah penolongnya dari neraka malam itu. Penolongnya yang juga telah memberikan kehidupan baru untuknya meskipun ia harus mengiba pada istri pertamanya.
"Istighfar Sayang. Tenang, Bunda tidak boleh stres. Ingat bayi dalam perut kamu." Angga menurunkan tangannya mengelus perut istrinya.
Celin mengangguk, suaminya benar. Ia berhak bangkit dari kejadian kelam itu, menjalani kehidupan yang baru dan bahagia bersama suami dan anak-anaknya kelak.
.
.
.
.
.
.
Bersambung .....
Sori baru up🙏🙏
Makasih dear terloph udah ngikutin sampai part ini 😘
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘