Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Madu Pernikahan


__ADS_3

Celin membuka mata karena mendengar kumandang adzan subuh. Setelah beberapa hari terakhir, malam-malam terakhir ia tidur dengan sangat nyenyak. Ia merenggangkan tubuhnya yang kaku. Ia melirik ke samping betapa bahagianya ada seseorang yang akan selalu menemani tidurnya.


Celin memperhatikan sejenak lelaki yang menjadi suaminya sekarang. Wajahnya tetap terlihat tampan meskipun sedang tidur, pria ini juga memperlakukan dengan lembut. Ia tak menyangka Angga akan bersikap begitu lembut padanya, meskipun pernikahannya tak lebih karena kesalahpahaman dan belas kasih istri pertama suaminya Renata. Suaminya tetap memperlakukan dan mengayomi selayaknya seorang istri.


Ia mengingatkan kembali kejadian malam pertamanya yang membuatnya merasa malu tapi begitu bahagia. Bunga-bunga kasmaran mulai bermekaran di hati Celin. Ia disentuh dengan lembut seperti porselen berharga yang mudah pecah oleh suaminya, perlahan rasa ketakutan karena sentuhan orang tak bermoral itu memudar. Yang terbayang hanyalah malam saat ia merasakan indahnya memadu kasih dengan seorang yang halal untuknya. Ia sudah memberikan mahkotanya untuk orang tepat. Ia tidak sia menjaga hal itu selama ini dari mantan kekasihnya, meskipun sekarang ia hanyalah istri kedua.


Tapi salahkan bila ia bermimpi, suatu saat nanti ia bisa memiliki Angga seutuhnya tanpa dibayangi wanita lain.


Hush! Celin mengelengkan kepalanya, betapa serakahnya ia ingin memiliki suaminya sendiri. Sedangkan ada istri suaminya dengan rela hati mengizinkan dirinya masuk dalam kehidupan suaminya.


"Sudah subuh?" suara serak khas orang bangun tidur menyadarkan lamunan Celin.


"Sudah Mas, Mas Angga mau mandi dulu, biar aku siapkan air."


"Ya," jawab Angga. Ia masih ingin merebahkan tubuhnya yang terasa lelah usai semalam menjalankan kegiatan suami istri hingga dini hari.


Meksipun hal baru untukya. Ia harus mulai terbiasa melayani keperluan Angga ketika suaminya itu bermalam dengannya.


.

__ADS_1


.


.


.


Celine mencium punggung tangan Angga yang pulang menunaikan sholat subuh berjamaah di masjid.


"Mas, Celin udah siapkan baju kerja Mas," Celin menunjuk kemeja yang ada di atas ranjang.


"Makasih Yang," balas Angga.


"Celin juga sudah buat kopi sama roti isi untuk sarapan," ia menyodorkan secangkir kopi pada suaminya.


"Enak," puji Angga menghargai usaha istrinya.


"Makasih Mas, Mas lanjut sarapannya," Celin ikut duduk di sofa kamarnya bersama Angga.


"Oh ya Yang, kamu udah bereskan barang-barang kamu?"

__ADS_1


"Udah Mas sebagian, aku lanjutankan nanti setelah Mas Angga berangkat ke kantor."


"Kalau sudah siap, hubungi Mas. Biar nanti Leo yang bantu angkat barang-baranh kamu, sore setelah pulang kerja Mas akan jemput kamu," seru Angga.


Celin mengangguk. Sesuai kesepakatan bersama dengan Renata istri pertamanya. Celin akan pindah ke rumah milik Angga yang berada di samping rumah tinggal suaminya dan Renata. Semua bukan tanpa alasan, jarak rumah keluarga Celin dan kantor kerja Angga terlalu jauh. Jika keduanya tinggal berdampingam akan memudahkan Angga melakukan pengawasan dan jadwal gilir.


"Nanti malam Mas bermalam dengan Rena," ucap Angga ditengah mengunyah sarapannya.


Celin mencoba menaikan ujung bibirnya menyembunyikan rasa seperti panas di dadanya. Rasanya baru kemarin ia merasakan manisnya pernikahan. Sekarang ia harus sadar kembali suaminya itu juga punya istri lain yang dicintai.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung .....


__ADS_2