
Rena sama sekali tak konsentrasi hari ini. Berkali-kali ia menginput data yang berujung hanya salah mengetik saja. Ia teguk kopi untuk mengembalikan fokusnya.
Sia-sia! Ia masih di rudung kepanikan. Direbahkanlah tubuhnya itu ke sandaran kursi, ia tak mau lagi melihat layar komputer.
Ia meraih ponselnya, hasilnya tetap sama! Angga tak menjawab atau membalas telepon dan pesannya meskipun ada tanda pesan terkirim.
Tak biasa-biasanya suaminya seperti ini! Justru sang suamilah yang lebih sering menghubungi dirinya.
Waktu bahkan sudah menunjukkan pukul satu siang! waktu yang selalu ia gunakan untuk berbalas pesan dengan suaminya menceritakan suka duka kegiatan masing-masing di hari ini.
Ada apa dengan suaminya! Apa karena? Ibarat kata, tidak ada asap tanpa api. Tapi kenapa suaminya mengacuhkan hampir seharian? Buat orang panik saja.
Rena terpaksa nekat menelpon Leo, ia selalu bersama suaminya kemanapun berada. Tak butuh waktu lama Leo langsung mengangkat teleponnya.
"Ya Bu."
"Bapak sama kamu?" seru Rena sebenarnya malu, ia hanya tak mau sopir pribadi suaminya itu menyangka rumah tangganya sedang ada bermasalah.
"Bapak nggak ke kantor Bu. Kata seketarisnya Bapak langsung keluar kota! Ibu nggak dikasih tahu?"
Rena langsung diam! Sejak kapan suaminya ke luar kota tanpa memberitahukan dirinya. Biasanya sang suami selalu meminta izin dan doa padanya ketika akan berbisnis ke luar kota.
"Ya udah Leo makasih infonya? Assalamu'alaikum!" Rena memilih menutup telepon. Leo memang seorang pria, apa ada jaminan ia tidak suka bergunjing.
Hati Rena dihinggapi perasan tak tenang. Pasti ada sesuatu! Apa ia telepon saja ke kantor? Apa itu tidak terlalu berlebihan? Mungkin saja suaminya memang sedang sibuk dan tak sempat mengabari dirinya. Ia harus lebih tenang hingga sore nanti ketika tiba di rumah.
.
__ADS_1
.
.
.
"Makan dulu saja Bu," ucap Mbak Sri. yang melihat majikannya menyangga tangan ke dagu di depan makanan di meja makan
"Tunggu Mas Angga dulu Mbak," balas Rena.
"Bapak kok lama pulangnya Bu," seru Mbak Sri sambil menyusun piring.
"Itu lah Sri, dari tadi Mas Angga susah di hubungi. Aku jadi khawatir, kata Leo ke luar kota," seru Rena memutar ponselnya.
"Mungkin sibuk ya Bu," balas ART itu. Rena hanya mengangguk.
"Bapak belum datang Bu," seru Sri yang kebetulan lewat usai menyapu.
"Belum Mbak Sri," balas Rena panik.
"Ngaputen Bu, apa mungkin Bapak di rumah sebelah. Apa perlu saya tanyakan?" ucap Mbak Sri memberanikan diri memberi masukan.
"Nggak perlu Mbak Sri, biar aku telepon lagi," seru Rena menghargai pendapat ARTnya.
Rena hampir tak memikirkan kalau Angga pulang ke rumah Celin. Ini waktu suaminya bermalam dengannya. Apa mungkin?
Rena menelpon kembali suaminya, Tapi kali ini tak butuh waktu lama telpon langsung tersambung.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Kak Ren," suara tak asing terdengar di telinga Rena.
Rena menghembuskan nafasnya kasar. "Wa'alaikumusalam. Cel, Mas Angga ada disitu?" tanya Rena kesal.
"Ya Kak tapi lagi tidur, Kakak ada perlu? Aku bangunkan ya."
"Nggak usah Cel, yang penting aku udah tahu Mas Angga dimana sekarang!"' Rena menutup telepon menahan gemuruh di dadanya.
"Mbak Sri," panggil Rena.
"Ngeh Bu," sahut wanita yang sibuk menyapu itu.
"Mbak bener, Aku nggak perlu cemas lagi Mas Angga udah ada ditempat yang nyaman!" ucap Rena dengan kesal berlari menuju kamarnya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
Lanjutannya Ei update ntar ya..... Ei potong dulu.