
Angga sudah tiba di rumah keluarga Pak Bramantyo yang ada di kota. Ya, mulai hari ini ia akan memulai kehidupan barunya. Baru sehari Angga mempunyai dua istri, rasanya sudah begitu berat.
Seperti saat ini ketika bersama Celin, ia selalu memikirkan Rena yang sedang berada di rumahnya. Meskipun istrinya terlihat baik-baik saja, Angga yakin Rena pasti juga memikirkan dirinya.
Ini begitu mendadak untuknya. Rena pasti butuh membiasakan diri dengan keadaan yang yang berbeda saat ini.
Disisi lain ada seseorang yang punya hak yang sama dengan istrinya. Ia juga harus memperlakukan Celin sama dengan Renata. Ia juga harus bisa membagi perhatian dengan sama rata.
Angga yang tadinya mengobrol sejenak dengan Pak Bramantyo kini ingin beristirahat sejenak mengingat hari yang melelahkan pikirkannya ini.
"Sekali lagi terima kasih Pak Angga sudah mau menikahi dan akan membimbing Celim," seru Pak Bramantyo.
"Semua sudah terjadi, kita jalankan saja apa rencana takdir selanjutnya," jawab Angga yang sebenarnya masih kesal dengan metua barunya itu.
"Saya mau menyusul Celin Pak," Angga menunjuk kamar di sebelah ruangannya.
"Ya Pak Angga," ucap Pak Bramantyo menempuk lengan Angga.
__ADS_1
Anngga mengayunkan langkah ke kamar untuknya bermalam. Ia membuka ganggang pintu yang tidak di kunci.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumusalam," suara yang terdengar masih asing di telinga Angga ketika masuk ke dalam kamar.
Angga mengamati wanita yang duduk di depan kaca membersihkan riasannya. Ia tak menyangka gadis kecil dari masa lalunya yang baru ditemuinya beberapa hari lalu kini sah menjadi istrinya.
Celin memang begitu cantik meskipun tanpa riasan, rambutnya yang hitam lurus dengan mata caramel yang semakin menegaskan wajah cantiknya.
"Mas Angga mau mandi dulu?" tanya Celin yang masih sibuk dengan kapas di tangannya membersihkan wajahnya.
Seperti halnya sepasang insan yang sudah halal dalam satu ruangan. Ada desiran hangat yang tiba-tiba menyelimuti diri Angga. Mendadak jantung jadi berdebar jika terus memperhatikan istri keduanya ini. Apakah bisa satu hati untuk dua cinta?
"Ya, Mas mandi dulu setelah itu kita sholat isya bersama" jawab Angga tak mau lama-lama menatap istrinya. Ia butuh waktu untuk situasi baru ini.
"Assalamu'alaikum warahmatullah," Kepala Angga menengok ke kiri usai tahiyat akhir mengerjakan sholat pengantin dua rakaat.
__ADS_1
Angga berbalik melihat Celin yang masih terbalut mukenah. Celin yang menyadari Angga memandanginya langsung meraih punggung tangan suaminya lalu menciumnya.
"Celin, meskipun pernikahan kita tak pernah terbayangkan sebelumnya, sekarang kamu istri Mas. Mas juga berkewajiban menjaga dan melindungi kamu seperti Renata. Begitu pula dengan kamu, kamu juga harus menghormati dan patuh pada perintah suamimu selama itu tidak maksiat."
"Ya Mas," ucap Celin. Ia cukup sadar pernikahannya ini adalah karena kesalahpahaman. Angga bersedia menikahi agar merendam masalah yang terjadi saja, ia sudah bersyukur.
"Sekarang kita istirahat ya," Angga langsung berdiri, entah kenapa ia menjadi canggung.
Bukankah seharusnya ia menunaikan tugasnya sebagai suami untuk menyempurnakan pernikahannya. Meskipun seperti mengkhianati Renata istri pertamanya. Ia juga harus tetap memperlakukan istri keduanya sama dengan Renata.
Sama hanya dengan Celin, ia juga masih canggung meskipun Angga seseorang yang baru di temuinya beberapa hari lalu adalah suaminya. Apakah ia salah jika ingin bermanja pada suaminya seperti pengantin baru pada umumnya.
Sudahlah, aku cukup sadar hanya istri kedua.
Ia pun berganti piyama tidur di kamar mandi. Karena masih sangat malu berganti baju didepan Angga.
Bersambung......
__ADS_1