Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Mulai terbiasa


__ADS_3

Renata memarkirkan BMW miliknya ke garasi tempah bada isya. Rumah menjadi sangat sepi setelah ia mengantar seluruh keluarga dan sahabatnya ke bandara untuk kembali ke tempat masing-masing.


Ia melangkah kerumah dengan lemah, biasanya ia selalu bersemangat ketika malam telah tiba, waktunya untuk menghabiskan waktu bersama suaminya karena lelah menjalani hari.


Sudah dua hari ia tak bertemu langsung dengan suaminya setelah pria itu menikah lagi. Meskipun sesekali Angga melakukan video call sekedar memberi perhatian dan menanyakan kabar. Kangen itu sudah pasti, Rena tak pernah bisa berjauhan dari suaminya. Tapi ya mau bagaimana lagi, ia harus rela berbagi waktu dengan madunya.


Mulai sekarang Rena harus mulai sadar bahwa semuanya tak lagi sama. Ia harus mulai membiasakan diri dengan keadaan yang tak akan sepenuhnya lagi untuknya. Meksipun rasa cemburu terus berkobar dan tak pernah hilang dari pikirannya, ia mecoba dengan lapang dada menerima apapun yang menjadi keputusan terbaiknya.


Ia membuka pintu kamarnya yang sekarang ia anggap tempat paling menyeramkan dirumah ini. Ia mendapati suaminya yang sudah berada di dalam kamar sibuk memandangi laptopnya. Rena pikir suaminya akan pulang satu atau dua jam lagi karena tak lihat mobilnya terparkir di halaman, tapi ternyata suaminya datang lebih awal.


Ia berhenti di ambang pintu, memandang seseorang yang sangat di rindukannya itu. Ia


pun berbalik berinisiatif ke dapur untuk membuatkan kopi suaminya. Padahal baru dua hari kenapa rasanya begitu lama ia tidak menyeduhkan kopi untuk suaminya.


"Ehm ... ada yang butuh kopi," seru Rena ketika memasuki kamar.


Angga seketika menoleh ke arah suara yang dia rindukan.


"Kapan datang dek," Angga berdiri melihat istrinya yang menghampirinya.


"Dari tadi, Mas aja yang enggak sadar kalau ada orang di dalam." Rena meletakan cangkir di meja dan kembali mengajak suaminya duduk di sofa.


"Maaf Mas enggak tahu Dek," balas Angga.


"Lagi ngelamun ya,"


"Nggak, siapa yang melamun, Mas lagi ngerjakan sesuatu."


"Memang lagi ngerjain apa sih, sampai nggak sadar ada istrinya masuk. Mas nggak kangen sama Rena." Rena berpura cemberut.


"Mas lagi periksa laporan dari kantor yang ada di perkebunan. Mas mau menyelediki beberapa hal yang ganjil disana. Mas akan lanjutkan nanti," Angga menutup laptopnya.


"Kok nggak ngomong sih kalau mas pulang cepat, jadi keduluan kan." Rena mengalungkan tangan di leher Angga.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Dek, Mas juga enggak sabar mau ketemu Adek." Angga membalas melingkarkan tangan di perut istrinya.


"Ngomong-ngomong, mobil Mas mana?"


"Mas parkir di rumah sebelah," ucap Angga.


"Celin udah pindah ke rumah sebelah? Rena punya tetangga sekarang," tanya Rena mencoba bercanda dengan rasa cemburu yang langsung mematik harus membahas adik madunya ketika sedang bedua seperti ini.


Angga mengangguk, ia tak mau membahas masalah Celin sementara ini saat berdua dengan Rena.


"Oh ya, tadi ada yang bawa kopi, mana ya sekarang," tanya Angga mencoba mengalihkan pembicaraan.


Rena dengan cepat mengambil cangkir yang ia taruh di meja.


"Sori Mas, tadi ke asyikan ngobrol. Mas pasti butuh kopi biar mata Mas terang saat lelah seharian kerja," Rena menyodorkan cangkir kopi ke mulut Angga.


Angga mencium aroma harum dari cangkir kopinya. Ia menyesap pelan kopi yang selalu menjadi favoritnya.


"Selalu enak seperti biasanya," Puji Angga.


"Tapi ada yang lebih Mas butuhkan lagi lebih dari kopi Dek," goda Angga.


"Apa?" Rena mengeryitkan dahinya.


"Mas butuh kamu," Angga semakin mengeratkan pelukan dan meletakkan dagunya di pundak Rena.


"Ih Mas, Rena lagi capek banget mau berendam dulu baru tidur," Rena melepaskan tangan suaminya, ia berdiri ingin mengoda suaminya.


Rena melihat dari balik kaca wajah suaminya yang cemberut. Suasana seperti ini tidak akan Rena rasakan tiap hari sekarang.


"Cieh marah," Rena kembali dan mengunci perut suaminya dengan tangannya.


"Siapa yang marah, kalau adek capek kita tidur aja," jawab Angga dengan nada keras, Rena tahu suaminya sedang kesal.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu, adek kira marah," Rena melepaskan lilitan tangannya.


Buru-buru Angga meraih tangan istrinya, kini ia berbalik melihat wajah istrinya.


"Mas serius kangen banget sama adek," ucap Angga.


"Hmmm, kejar kalau memang mau!" Rena berbalik berlari kecil menuju kamar mandi.


Belum sempat membuka pintu, tubuh tegap suaminya langsung membekap dan mengangkatnya menuju ranjang. Tak susah bagi Angga untuk menjatuhkan tubuh istrinya ke ranjang.


"Mulai nakal ya sekarang ngerjain suami," Angga terus menggelitiki perut istrinya.


Rena tertawa kegelian, "Ampun Mas, oke Adek nyerah." Rena terus menggeliat karena Angga semakin intens menggelitikinya. Rena memang sering melakukan hal kekanakan bersama Angga untuk mengusir kejenuhan karena belum hadirnya buah hati.


Tak butuh waktu lama untuk Angga membuka kerudung dan tunik yang melekat tubuh istrinya.


Keduanya kini melepaskan kerinduan yang sempat melanda. Kedua menikmati saat kedua raga menyatu melupakan semua masalah yang terjadi.


Andai waktu bisa diputar, bisakah Rena menginginkan suaminya seperti dulu?


.


.


.


.


.


Bersambung ......


Sori Ei nggak up beberapa hari terakhir,

__ADS_1


Ei akan usahakan up rutin biar cepat kelar novelnya biar nyeseknya nggak kelamaan 🤗🤗🤗


__ADS_2