Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Terkoyaknya Bahtera


__ADS_3

"Ngga, kamu dimana? Susah betul dihubungi!" suara panik dari balik layar MacBook Angga.


"Masih di kantor Bu. Tadi ketemuan sama investor!"


"Kedua istrimu ngga! Kata Tono mereka bertengkar di halaman rumah sakit!"


"Kok bisa sih Bu!" seru Angga panik setengah mati.


"Ibu juga nggak tahu! Tadi waktu ibu tinggal di rumah sakit mereka akur-akur saja. Malahan masuk rumah sakit bergandengan tangan."


"Ibu tenang, sekarang ibu cerita mereka bertengkar karena apa?" Angga menyela ibunya yang terus bicara tanpa jeda.


"Nanti ibu kirim saja video yang di rekam Tono, tadi dia sempat merekam karena enggak berani menengahi."


"Ya bu, Sekarang mereka dimana Bu!"


"Celin nangis-nangis waktu pulang sama Tono. Dia sekarang nggak mau keluar kamar dan nggak mau ngomong apa-apa sama ibu! Ibu lebih cemas lagi sama Rena. Dia pulang sendiri. Ibu tanya Sri, Rena juga nggak ada di rumah!"


Jantung Angga seperti jatuh ke lantai, "Ya udah Bu, Ibu tunggu di rumah!" Angga menutup teleponnya.


Angga menunggu kiriman video dari ibunya. Ia harus tahu dulu apa permasalahkan yang membuat istri-istrinya itu bertengkar. Baru selanjutnya ia bisa menengahi untuk memberi keputusan yang bijak kepada istri-istrinya atas permasalahannya.

__ADS_1


Angga langsung naik pitam setelah melihat isi video dari Tono. Ia tak pernah merasa semarah ini sebelumnya. Kenapa hal tidak menyenangkan silih berganti datang pada rumah tangganya beberapa waktu terakhir.


Tanpa pikir panjang, Ia segera meraih kunci mobil dan langsung menghubungi nomor Renata, nada panggilan masuk terus berdering tanpa ada jawaban dari pemiliknya. Jantung Angga berdegup kencang memikirkan keadaan istrinya. Jeep Wrangler yang ia tumpangi melaju dengan kecepatan batas merah. Angga selalu susah mengontrol emosinalnya ketika pikiran sedang kacau meskipun mulut terus beristighfar.


"Sri! Sri!" teriak Angga memanggil ART ketika memasuki rumahnya.


"Ngeh Pak!" Sri berlari menghampiri Angga dengan tergopoh-gopoh.


"Ibu sudah sempat pulang!" tanya Angga.


"Belum Pak, terakhir pergi sama Mbak Celin dan Bu Sinta."


Angga sedikit lebih lega setidaknya Renata masih ada di kota ini. Ia harus cari Renata sampai ketemu.


"Halo Siska, ibu ada di toko!" tanya Angga pada orang kepercayaan Rena.


"Iya Pak, ibu langsung ke lantai tiga! Tadi nangis nggak bicara apa-apa. Saya jadi khawatir Pak."


"Siska kamu tolong awasi ibu! Jangan biarkan ibu pergi kemana-mana sebelum saya datang. Ibu sedang dalam keadaan kacau!"


"Ya Pak," balas siska.

__ADS_1


Angga kembali berlari keluar rumah menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah. Ia mengeber lagi kendaraan itu dengan kecepatan tinggi.


"Disini Pak." Siska menyambut Angga untuk masuk lewat pintu khusus yang bersebelahan dengan toko.


Wanita berkerudung merah itu, menemani Angga menuju ke lantai 3 ruko yang terdapat kamar yang biasanya di gunakan Rena untuk berisitirahat.


Siska juga ikut panik melihat atasan dan suami bosnya yang terlihat kacau. Ia tahu sebelumnya rumah tangga mereka sangat harmonis, meskipun bukan rahasia lagi kalau suami Bosnya itu menikah lagi. Tapi di mata siska mereka masih terlihat tenang dan kompak seperti sebelum-sebelumnya.


Apapun masalah mereka, sebagai bawahan yang mengenal keduanya, Siska hanya bisa berdoa agar keduanya dapat segera menyelesaikan masalahnya dan bisa damai kembali. Ia saksi Bu Renata orang sangat baik dan Pak Angga juga suami yang baik, ia tak rela jika terjadi sesuatu pada pasangan yang berjasa padanya itu. Siska pun berpamitan pergi setelah menyelesaikan tugasnya, ia membiarkan pasangan suami istri ini saling bicara.


"Dek, ini Mas Dek. Mas tahu Ade di dalam! tolong buka pintunya Dek!" Angga terus mengetuk pintu tanpa berhenti meskipun tak ada sahutan sama sekali dari dalam.


"Dek, Sayang. Renata tolong kasih kesempatan Mas untuk bicara!" Angga tak menyerah terus mengetuk pintu dan memanggil - manggil nama istrinya.


"Dek, dengarkan Mas dulu Sayang!" Angga tak berhenti mengetuk meskipun udah membujuk ke sekian kali.


Tangannya sudah mulai lelah untuk mengetuk pintu, tubuhnya dan hatinya letih. Tubuhnya merosot ke lantai sejenak untuk mengambil jeda. Ia lebih baik menerima segala makian dari istrinya daripada Sang istri diam seperti ini. Ia tak akan pergi dari depan pintu sebelum berbicara dengan sang istri.


Bersambung ......


Sabar ya dear, tahan esmossi nya Ei akan lanjut nanti .....

__ADS_1


__ADS_2