
Baru akan duduk setelah mencuci tangan usai menyuapi bocah itu makan. Rena langsung di hadang lagi bocah itu dengan mengulurkan tangannya di depan Renata.
"Tangannya kotor," ucap Rena melihat kedua tangan Arzen yang di penuhi lelehan es krim.
Dengan sigap Rena mengambil dua lembar tisu. Ia menunduk membersihkan tangan bocah imut itu dengan pelan. Padahal ada babysiter dan maminya di situ, kalau ada dirinya pasti Arzen jadi lengket padanya. Arzen langsung berlari menuju maminya usai tangan bersih.
Benar-benar hari yang menyenangkan bagi Rena, untuk sejenak setelah sekian lama pikiran Rena teralih memikirkan apa yang dilakukan suaminya dan istrinya di seberang sana. Kunci tetap waras untuk saat ini adalah dengan tak memikirkan sejenak apa yang menjadi sumber sakit itu sendiri.
"Ren?" sapa seseorang yang membuat Rena memalingkan tubuhnya 180 derajat setelah bangun dari posisi menunduk.
Mata Rena membulat mengetahui siapa seseorang yang menyapanya. Wanita itu langsung menangkupkan kedua tangannya ke dada.
"MasyaAllah, kamu kok bisa disini." Rena tentu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Kota ini memang sempit, akhir-akhir ini Rena sering sekali bertemu dengan pria ini.
"Aku mau ketemu Pak Davin Adiguna, benarkan ini mejanya?" tanya Pria bersetelan kemeja hitam itu.
"Ya bener, Silahkan duduk. Kita satu meja kalau begitu," seru Rena. Pria itu langsung mengambil tempat di depan Rena.
"Gimana kaki kamu? Udah baikan?" seru Farhan.
"Alhamdulillah udah baikan."
"Sampai nangis terseduh begitu pasti sakit," sambung pria itu mulai memahami saat itu sekarang. Mana yang lebih sakit, kaki atau hati Rena.
"Akunya memang yang terlalu drama," elak Rena terkekeh. "Aku panggilkan Bang Davin dulu." Rena menunjuk pria bersama bocah kecil yang melihat aquarium resto.
"Ren tunggu," cegah Farhan sebelum Rena berdiri. "Sepertinya Pak Adiguna masih seru dengan anaknya. Mumpung ketemu disini, bisa ngomong sebentar nggak? Ada yang mau aku diskusikan sama kamu?"
Rena tak menjawab karena ragu.
"Hanya sebentar," pria itu mencoba meyakinkan.
Rena pun kembali duduk dan memberi sedikit waktu untuk Farhan bicara hal yang kedengarannya penting itu.
"Aku ada rencana untuk buat meet up lagi sama teman-teman UKM. Lama kan kita nggak ketemu bareng."
__ADS_1
"Ide bagus sih, tapi aku yakin pada sibuk dengan urusan masing-masing. Apalagi yang udah berkeluarga."
"Untuk silaturrahim Ren, gimana menurut kamu? Sekalian kita buat kegiatan sosial supaya kegiatan kita juga bermanfaat," sambung pria itu lagi. Entah bisikan setan apa yang merasuki pikirannya, kenapa ia jadi ingin lebih sering bertemu dengan istri orang itu.
"Oke, nanti kita buat grup untuk bicara hal ini dengan yang lain!" seru Rena. "Eh tunggu, bukannya Farhan Ratarajasa orang sibuk ya. Sampai cari pasangan aja nggak ada waktu. Kenapa sempat-sempatnya buat acara begini?" canda Rena.
Farhan tertawa renyah, "memang hidup untuk cari uang saja, sekali-kali menyambung silaturahmi dengan teman lama kan nggak salah. Sambil nostalgia jaman-jaman kuliah."
Rena hanya mangut-mangut.
"Ngomong-ngomong ... Suami kamu dimana Ren?" tanya pria itu.
"Udah pulang duluan ke kaltara," jawab Rena sambil menyesap jus alpukat yang dipesannya
"Kamu baik-baik saja kan Ren?" ucap Farhan menguap begitu saja.
Rena menyipitkan mata. "Baik! Kamu lihat sendiri kan aku berdiri tegak seperti ini di depan kamu."
"Terkadang orang lebih memilih untuk banyak tersenyum hanya karena tidak mau menjelaskan mengapa ia bersedih," seru pria itu.
Rena membalas dengan tersenyum, entah kenapa ada sindiran di ucapan temannya itu. "Jika memang ada kesedihan menghinggapi hati seseorang bukankah lebih baik dia berdoa, karena hanya tuhan yang tahu bagaimana caranya menciptakan kebahagiaan untuk hamba-nya."
Rena hanya mengerutkan dahi, ia mulai menyadari Farhan seolah tahu masalah hidupnya.
"Pak Farhan," seru Davin yang sontak membuat kedua orang yang itu mengalihkan pandangan.
"Pak Davin, Nyonya Adiguna." Farhan berdiri menjabat tangan pria yang mengendong balita laki-laki itu.
"Kalian sudah saling kenal?"
"Mereka satu angkatan kuliah Bang," seru Abel pada suaminya.
"Oh ... Kalau mau lanjut mengobrol dulu untuk reunian silahkan, kita bahas bisnis nanti," seru Davin.
"Nggak kok Bang, kebetulan aku mau lanjut ke bandara sama Abel dan anak ganteng," tolak Rena, ia mengambil Arzen dari gendongan ayahnya.
__ADS_1
"Ya udah kalau begitu, hati-hati," ucap Davin.
Rena pun menunduk berpamitan dengan dua pria dihadapannya.
"Ren," Rena berhenti melangkah."Dalam waktu dekat aku kirim proposal untuk acara meet up ya, tolong beri kritik atau saran," seru Farhan.
"Oke," balas Rena. Kemudian ia mulai melangkah dengan sahabatnya meninggalkan dua pria itu.
Farhan menatap kepergian Rena dan istrinya. Davin merasakan ada tatapan yang berbeda dari partner bisnisnya itu pada Renata.
"Hmmm, ada yang pernah menasehati saya kalau pandangan mata itu salah satu panah iblis yang beracun." seru Davin membangunkan lamunan Farhan.
"Maaf Pak Adiguna," Farhan kembali duduk. "Saya hanya lama tak melihat Renata, sekarang dia jauh berbeda dari jaman kita kuliah," elak Farhan mencoba meyakinkan semua wajar pada senior bisnisnya itu
"Itu wajar, Tapi ingat, Renata wanita bersuami Pak Farhan. Mari kita mulai bicara bisnis."
Ada apa denganku, apakah karena rasa simpati, Aku sekarang tak bisa mengontrol diri seolah seperti ingin memulai mematik api. Farhan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1
sori baru up 🙏
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘