Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Gemuruh Hati


__ADS_3

Celin mengaduk susunya yang sudah tercampur dengan air. Andaikan pagi ini suaminya ada bersamanya, ia tak perlu repot-repot melakukan hal ini. Suaminya pasti sudah sigap melakukan untuknya.


"Mbak Cel," suara Mbak Marni tergopoh-gopoh menemui majikannya yang berada di dapur.


"Bi Marni kenapa buru-buru begitu," tanya Celin.


"Mbak, kata Sri Bapak lagi sakit? Mbak Celin nggak tahu?"


Celin mengeryitkan dahinya. Perasaan kemarin saat bersama suaminya, Angga terlihat baik-baik saja sebelum berpamitan menjemput kakak madunya ke bandara.


"Mas Angga sakit apa Bi?" tiba-tiba rasa cemas langsung Menghinggapi perasaan Celin.


"Tadi Sri yang cerita Mbak, dia masak bubur untuk bapak yang lagi sakit. Saya nggak tahu sakit apa?" seru Mbak Marni.


Marni menyenggol lengan Celin, "Lihat saja Mbak, siapa tahu di tengokin anaknya, bapak langsung bisa sembuh."


Celin hanya tersenyum menanggapi godaan Mbak Marni, tapi jujur ia lebih cemas dengan keadaan Angga di bandingkan memberikan semangat karena anaknya.


"Kak Rena gimana, kalau aku lihat Mas Angga Bu," seru gadis bermata hazel itu.


"Ibu memang cerewet Mbak, tapi aslinya orangnya baik. Masa lihatin suami sendiri nggak boleh," usul Marni.


Dengan mengelus dadanya yang berdebar Celin melangkah ke Laundry room, satu-satunya ruangan yang terhubung dengan rumah kakak madunya. Celin memberanikan diri masuk ke rumah besar suami dan kakak madunya.


Selangkah demi langkah ia menaiki tangga dengan perasan tak menentu. Benarkah tindakannya ini? Menerobos masuk ke lantai dua yang di khususkan menjadi ruang pribadi suami dan Kakak madunya. Hampir lima bulan lebih Celin menjadi istri Angga, ia belum pernah sekalipun naik ke lantai atas rumah kakak madunya.


Ia seorang istri yang bisa saja cemburu melihat suaminya bersama wanita lain di atas sana.


Ia juga seorang wanita yang bisa iri melihat perhatian suaminya yang mungkin lebih besar pada kakak madunya saat ini. Celin hanyalah wanita yang sedang mengandung anak suaminya yang seharusnya bisa lebih di jaga perasaannya.


Apakah sanggup ia akan menyaksikan hal yang mungkin membuatnya akan terasa perih tanpa ada yang memikirkan perasaannya?


Ia masih menerka ruangan yang menjadi kamar suaminya di lantai dua yang luas ini.


"Mas, ayo makan lagi. Tadi Mas makannya dikit banget Mas," seru suara yang di denger Celin dari balik pintu kamar yang setengah terbuka.

__ADS_1


"Kepala Mas masih berputar Dek,"


Rasanya ia ingin sekali masuk dan ikut merawat suaminya. Nampak dari cela pintu kamar, suaminya merebahkan diri di paha kakak madunya terlihat lemah. Sedikit rasa sesak yang ia rasakan saat ini.


Celin menghentikan langkahnya ragu untuk meneruskan keinginannya. Ia masih berdiri di depan pintu kamar tak berani melakukan apapun walau hanya sekedar mengucap salam.


Hingga suara langkah kaki yang mulai mendekat ke arahnya.


"Cel, kamu disini?"


"Kak Ren, Bi Marni yang bilang Mas Angga sakit," ucap Celin.


"Iya, masuk saja Cel, Mas Angga demam dari semalam sekarang masih lemes. Aku mau ke bawah ambil bubur."


"Aku saja Kak," tawar Celin berbalik.


Rena meraih pundak wanita itu, "kamu lagi hamil Cel, nanti kecapean naik turun tangga. Temani saja dulu Mas Angga."


Rena dengan langkah cepat meninggalkan Celin menuruni tangga.


Ia membantu Angga meraih gelas yang ada di atas nakas. Angga menepis tangan Celin. Celin mengepal menyimpan tangannya.


Keduanya saling menatap kaget, bagaimana Celin bisa ada di kamarnya.


"Mas bisa ambil sendiri Cel, Mas nggak apa-apa," seru Angga.


"Kak Rena sendiri yang nyuruh aku masuk Mas," ucap Celin cepat memberi penjelasan.


"Sekarang kamu keluar saja Cel, sudah ada Rena yang jaga Mas," ucap Angga lembut.


Celin tanpa membantah berbalik menuju pintu dengan hati yang seperti akan terbelah. Tangannya mengusap perutnya yang buncit untuk menguatkan langkahnya. Meskipun kata yang diucapkan suaminya pelan tapi begitu menusuk dan mengingatkan posisinya saat ini yang tak pernah bisa menyamai kakak madunya.


"Cel, mau kemana?" tangan lembut menghentikan langkah Celin.


"Ma .... mau ke bawah Kak," jawab Celin terbangun dari lamunannya.

__ADS_1


"Tunggu saja sebantar, dokter yang periksa mas Angga mau datang." Rena mengandeng lengan wanita hamil itu.


Celin terpaksalah berbalik kembali ke kamar mengikuti langkah kakak madunya.


"Dek, darimana lama sekali sih," seru Angga.


"Ambil bubur untuk Mas," Rena langsung duduk di tepi ranjang. Sedangkan Celin memilih duduk di sofa tak jauh dari ranjang.


Angga langsung mengambil posisi merebahkan kepalanya di paha istrinya. Celin menarik nafas panjang menahan gemuruh hebat di dadanya. Wanita itu berusaha melihat apapun benda di dalam kamar asalkan tidak melihat pasangan suami istri di depannya.


"Mas, manja banget sih. enak juga sandaran di kasur. Kenapa suka sekali rebahan di paha Rena."


"Kepala Mas berat banget De,"


"Sabar Sayangku sebentar lagi dokternya datang." Rena mengusap kepala suaminya.


Tidak ada yang lain yang dilakukan Celin selain berharap agar dokter itu segera datang dan matanya tak lagi perih melihat kemesraan suaminya dengan wanita lain.


.


.


.


.


Bersambung .....


Halo Ei cameback......


Happy new year ya😍😍😍 semuanya, semoga tahun ini kita jadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.


Mudahan cerita Ei bisa tamat tepat waktu. 🙏🙏🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2