
Almeer menghentikan mesin motornya. di garasi mobil tepat disamping mobil Zafira. masuk kedalam Rumah dengan membawa makanan yang sengaja dia beli dijalan. Ya hal yang rutin dia lakukan sejak dia resmi menjadi menantu dikeluarga pak Damar. memberikan satu kantong plastik untuk kedua orang tua Fira, satu kantong untuk para pekerja dirumah ini dan satubkantong lagi untuk dia bawa ke atas dan dia berikan ke Zafira.
Tok.. Tok.. Tok..
"boleh aku masuk" dari depan pintu kamar Almeer bertanya
"iya."
Almeer pun masuk dengan membawa makanan yang tadi dia beli dan sudah dia tata di piring.
"aku beli singkong keju. Makan lah duluan aku mau bersih-bersih dulu" kata Almeer sambil memberikan piring itu.
Setelah Almeer selesai mebersihkan badannya dia duduk dibangku dan membuka kembali laptopnya. Ada beberapa kerjaan yang harus segera dia selesaikan. Dia juga ingin mnegecek apakah ada email balasan mengenai beasiswannya.
"kang Almeer udah makan?" tanya Fira
"sudah tadi siang. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan segera jadi tadi pulang lart dan cuma mampir beli singkong keju itu aja nggak sempet mampir buat makan" kata Almeer menjelaskan
"sibuk apaan orang jelas tadi siang dia asik ngobrol direstoran sama seorang laki-laki yang lebih tua dan perempuan" kata Fira dengan suara yang sangat pelan
"kenapa?" tanya Almeer yang memastika karena menndengar Fira yabg sedang berbicara namun sangat pelan.
"oh.. Enggak. Nggak apa-apa."
"beneran.? Entah kenapa aku ngerasa kamu sedang mendumel. ngomong aja"
"owh.. Ini aku cuma mau bilang singkongnya enak kenapa nggak makan ini aja" kata Fira mencari Alasan
Almeer tidak percaya sepenuhnya perkataan Fira. Namun banyaknya pekerjaan membuat dia tidak bisa menunda kegiatannya.
"tadi siang saya bertemu guru saya. Profesor Rainhard dan putrinya Alince. Mereka datang ke indonesia untuk beberapa urusan." lata Almeer
__ADS_1
"owh..." kata Fira
mendapat reaksi demikian Almeer merasa ada sesuatu.
"profesor adalah salah satu dosen pembimbing yang sangat membantu aku sewaktu pendidikan dulu. Ya walau sebagian mahasiswa sangat enggan berurusan dengan beliau. Karena dia terkenal orang yang kejam. Tidak segan membuang tesis dan esai mahasiswa yang sudah hampir selesai hanya karna satu kesalahan. Bisa dibayangkan sih rusaknya mood mereka saat melihat usaha mereka harus berakhir ditempat sampah. Tapi beruntungnya saya tidak pernah mengalami hal itu. Bahkan profesor sering melibatkan saya dalam penemuan-penemuan dan juga beberapa riset beliau." almeer mulai bercerita
"mahasiswa kesayangan. Sungguh istiwa berarti" Fira menanggapi cerita Almeer
"mungkin karena intrnsitas kami yang sering bertemu dan berdiskusi memmbuat kami bisa saling mengenal dan memahami karakteristik dan jalan pikiran masing-masing. Ada banyak hal yang beliau ajarkan dan sangat berguna. Ya mungkin tanpa beliau aku akan jadi gembel dinegara orang. Bayangkan saja mahasiswa miskin seperti saya tinggal dinegara orang tanpa uang, tempat, tinggal, pekerjaan dan hanya mengandalkan beasiswa. Saya juga nggak mungkin bisa kembali ke indonesia saya rasa. Itu sebabnya saya menghargai setiap perintah beliau. Buat saya perintah beliau sama seperti perintah papah, yang tidak akan bisa saya tolak sama seperti kiyai rahmat
"apa pernah dia memintamu melakukan sesuatu?" tanya Fira
"ya selalu. Meminta permintaan yang sama. Menjaga putrinya Alince" jawab Almeer tanpa ragu
"lalu kenapa kamu tidak penuhi?" tanya Fira dengan suara yang sedikit berat. Perasaannya gemuruh saat menanyakan pertanya seperti itu. Dia sendiri tidak yakin siap mendengarkan jawabannya.
"tentu. Selalu aku penuhi." jawab Almeer
"iya selalu. Kenapa?" kata Almeer
"nggak apa-apa."
Suasana hening. Almeer mulai mencerna kembali obrolannya tadi.
"selain anak dari Profesor Rainhard, Alince juga sahabat aku. Satu-satu orang yang selalu nyelametin aku dari cewek-cewek yang selalu berusaha deketin aku. Buat orang-orang yang kenal kami mereka bakal mikir kalau kita ini best couple tapi ya kita pure sahabatan nggak lebih. Ya walau dia baik dia juga sangat menyebalkan. Ya cenayang yang menyebalkan. Selalu tau isi hati dan pikiran banyak orang. entah kelebihan atau musibah dia selalu bisa tau isi hati dan pikiran orang hanya dari tatapan mata atau gestur tubuh orang. Dan lebih banyaknya itu lebih menguntungkan." jelas Almeer
"ohhh..."
"ya.. " Almeer mengulum senyumnya saat Fira hanya memberikan reaksi oh.. Saat dia sudah panjang lebah bercerita.
"kenapa senyum?" kali ini Fira yang bertanya
__ADS_1
"oh.. Nggak. Aku cuma berasa kayak orang yang lagi diintrogasi aja tau nggak" kata Almeer
"siapa yang lagi introgasi kamu. Emang kamu ngelakuin apa sampe harus di introgasi segala?"
"entahlah. Mungkin karena tadi aku cerita kalau aku abis ketemu Profesor Rainhard dan Alince. Atau mungkin karena alesan lain? "
"alesan lain apa?"
"nggak. Mungkin aku salah duga."
hening. Lagi lagi suasana menjadi canggung. Fira yang merutuki dirinya sendiri yang tanpa sadar bersikap berlebihan semenjak melihat kejadian siang tadi yang mungkin membuat Almeer berfikir yang tidak-tidak tentang dia. Dan Almeer juga mulai mencerna setiap reaksi Fira saat dia menceritakan tentang Profesor Rainhard dan Alince.
"Zafira.."
"ya?"
"Apa Kamu Cemburu?" akhirnya kata-kata itu terucap dari mulutnya
"cemburu? Nggak. Aku nggak cemburu" Fira terlihat salah tingkah
"beneran?" kata Almeer memastikan
"iya, buat apa aku cemburu. Itukan hak kang Almeer. Fira kan nggak punya Hak untuk itu." Fira terus berusaha menyangkalnya
"yah.. Padahal aku berharap kamu beneran cemburu." kata Almeer dengan suara pelan. Namun masih bisa sedikit didengar Fira walau samar-samar.
"hah? Akang ngomong apa?" tanya Fira memastikan
"emm. Nggak. Silahkan dilanjut makan singkong nya aku lanjut kerjain ini. Masih banyak yang harus diselesaiin"
tidak ada lagi obrolan diantara keduanya. Almeer kembali fokus dengan pekerjaannya. Dan Fira yang sudah merasa mengantuk mulai merebahkan badannya dan tidur. Almeer yang melihat Fira yangs edikit gelisah dalam tidurnya berinisiatif mematikan lampu kamarnya dan dia memilih melanjut pekerjaannya diluar.
__ADS_1