Takdir Cinta Sang Pengantin Pengganti

Takdir Cinta Sang Pengantin Pengganti
Dilema


__ADS_3

Prov. Zafira


Akhirnya penantianku berakhir. Namun Aku sendiri tidak mengerti akhir dari penantian ini. Sosoknya yang membuatku mengenal arti Rindu. Kini hadir dihadapanku. Sempat secercah harapan menyirami tandusnya penantian.


Namun siapa bisa menebak takdir?


Aku yang bahagia dengan kehadirannya namun ternyata hanya semu. Kini harapan itu hanya menyisakan pilu. Pilu yang menambah luka lama yang tak kunjung sembuh.


Aku termenung memikirkan semua hal yang terjadi beberapa meneit lalu. Tak ku sangka Dia yang ku kira datang untuk kami. Tapi justru Dia datang melamarku untuk orang lain. Bagaimana bisa aku menerimannya. Saat hatiku sendiri masih miliknya.


Tak mampu membendung peeasaan yang berkecamuk di hatiku. Aku memutuskan untuk undur diri.


"Ayah,Bunda, Fira ke kamar kecil dulu ya. Kebelet. Saya permisi." Aku pun pergi.


Sambil berusaha menahan tangis. Aku melangkah dengan cepat ke kamar mandi. Tangis ku pun pecah. Berharap tangis ini bisa meluruhkan duka hatiku.


"Ayah, Bunda kedatangan saya kemari ingin melamar putri ayah dan bunda untuk sepupu saya Elmeer Syam"


Kata-kata itu terus terngiang ditelingaku. Membawa luka yang teramat dalam.

__ADS_1


"kenapa Kang?. Kenapa Akang datang hanya untuk melepaskan Aku?" Aku bertanya seakan-akan ada dia disini.


"Apa Akang tidak pernah mencintai Aku? Begitu mudahnya Akang meminta Aku untuk orang Lain?" kataku lagi


Aku teringat saat dia mengucapkan kalimat sakral yang mengikat kami dihadapan Allah. Disaksikan kedua orangtuaku dan para kerabat. Sikapnya yang tenang membuatku seketika jatuh hati padanya. Meski pada awalnya Aku belum bisa menerimanya sepenuh hati.


setelah merasa tenang aku kembali bergabung bersama dengan yang lain. Aku duduk di samping bunda.


"Kamu nggak apa-apa nak?" tanya bunda


Aku berusaha tersenyum untuk menampilkan suasana hatiku yang sebenarnya.


"Fira nggak apa-apa bun" kataku.


Dulu melihatnya adalah hal yang selalu kutunggu. Namun kini saat berhadapan dengannya adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan.


"Sebelumnya saya ingin bertanya kenapa Nak Almeer datang kemari ingin melamar putri ayah untuk saudara Nak Almeer?" tanya Ayah.


Mendengar pertanyaan Ayah. Kang Almeer yang menunduk langsung mebgankat kepalanya. Menengok ke arah sepupunya yang terlihat sangat cemas. Kang Almeer seakan memberikan isyarat pada sang sepupu.

__ADS_1


"Ayah, Bunda. Tanpa mengurangi rasa hormat. Sungguh saya mengenal Ayah dan keluarga sangat baik. Demikian pula dengan sepupu saya ini. Sungguh dia laki-laki yang sangat baik, setia pekerja keras, dan taat beribadah. Bukankah laki-laki yang baik diperuntukan untuk wanita yang baik pula. Dan Fira adalah wanita yang baik. Selain itu. Karena sepupu saya ini sudah jatuh hati pada putri ayah." kata Kang Almeer.


"Nak Almeer sendiri tau sebelumnya putri Ayah sudah dua kali gagal dalam menjalin hubungan. kedua laki-laki itu baik. Hanya saja keduanya pergi meninggalkan putri ayah. Bahkan sampai saat ini hati putri ayah masih terbawa oleh suaminya. Lalu apakah jaminan yang bisa membuat ayah yakin jika anak Ayah Fira akan bahagia dan tidak akan ditinggalkan pergi lagi?" kata Ayah.


Raut wajah Kang Almeer berubah seketika. Namun sulit untuk aku memahaminya.


"Om, sebelumnya saya juga mengalami hal yang sama. Hanya saja dalam kasus yang berbeda. Saya ditinggalkan pergi oleh tunangan saya untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan. Saya merasakan betapa hancurnya hidup saya. Butuh waktu 7 tahun untuk bisa bangkit. Dan saat pertemuan saya dengan Fira membuat saya merasa jika Fira adalah otang yang bisa membuat saya melupakan kesedihan saya. Saya tidak akan meninggalkan Fira apapun keadaannya nanti. Mungkin saya terkesan terburu-buru karena pertemuan kami terbilang masih baru. Tapi saya tidak ingin kehilangan lagi untuk kedua kalinya. saya ingin membersamai Fira untuk bisa hidup dengannya, membahagiakannya. menemani saya dalam suka maupun duka." kata Pak El.


"keputusan,Ayah serahkan sepenuhnya pada Kamu Nak. Apa jawabanmu atas lamaran ini?" kata ayah bertanya.


Ya Allah. Aku bingung. Sungguh hatiku saat ini masih terpaut untuk nya. Tapi bagaimana bisa aku menerima orang lain. Aku nggak mau menyakiti siapapun. Aku terdiam.


"bagaimana Nak?" tanya bunda. Sambil mengusap pundakku.


"Ayah, bunda. Fira tidak bisa jawab sekarang. Fira butuh waktu. Ini terlalu mendadak untuk Fira" kataku.


"Bagaimana nak El. Nak El bisa dengar jawaban putri Ayah. apa Nak El masih mau menunggu jawaban Fira? Jika Nak El tidak bisa menunggu lagi maka keputusan tetap ditangan Nak El. Nak El bisa memutuskannya sekarang" kata Ayah.


Setelah mendengar jawaban ku dan ayah terlihat Pak El mempertimbangkan nya sebentar bersama Kang Almeer dan Nadira.

__ADS_1


"baik Om. Saya akan tunggu. Sampai Fira siap memberikan jawabannya." kata Pak El


Pembicaraan pun berlanjut. Obrolan ringan mengisi ruang tamu ini. Hanya saja aku yang sedang bimbang tidak bisa fokus dengan obrolan ini.


__ADS_2