Takdir Cinta Sang Pengantin Pengganti

Takdir Cinta Sang Pengantin Pengganti
Selalu Merindukannya


__ADS_3

Setelah cukup lama Zafira didalam kamar mandi. Ia pun keluar. Kembali bergabung dengan Ibu Aminah, Syfa dan juga Kiya. dengan keadaan matanya yang sedikit sembab Zafira berusaha menutupinya dengan bersikap biasa saja.


"nak Fira tidak apa? Lama sekali dikamar mandi? Apa ada yang sakit? Perlu dipanggilkan dokter?" tanya ibu Aminah terlihat khawatir.


"tidak ibu, terimakasih. Fira baik kok." kata Zafira


"loe yakin Ra?" tanya Kiya memastikan.


"iya Kiya. Gue nggak apa-apa." jawab Zafira


"yaudah. Kalau Fira yakin nggak apa-apa. Oh ya ayo di makan cemilannya. Ibu yang buat loh." kata Ibu Aminah


"iya ibu terimakasih." kata Kiya lalu memakannya.


"emmm... Ini enak banget. Ibu jago sekali buat ini. Wah kapan-kapan aku ingin minta diajari cara buat ini. Boleh kan bu?" kata Kiya terlihat sangat menyukai cemilan itu.


" Sebenarnya ini cemilan kesukaan Zein. Dan entah kenapa hari ini ibu sangat merindukannya. Dan beberapa hari terakhir ini Zein sibuk dia tidak sempat mengabari ibu. Anak itu selalu saja begitu. Makanya ibu iseng buat cemilan kesukaan dia. Dan kebetulan ada kalian jadi ibu bisa makan bareng kalian." kata Ibu.


Zafira pun mengambil satu dan mulai memaknnya. Dan memang rasanya sangat enak. Dan entah kenapa hatinya kembali merindukan Almeer.


"Bu, apa Zein sudah menikah?" tanya Zafira ingin tau


" Belum. Setau ibu Zein belum pernah menikah. Dia tidak pernah mengenalkan ibu dengan wanita manapun. Bahkan bercerita tentang wanita yang dia suka aja nggak pernah." jawab Ibu Aminah.


Degh.


Lagi dan lagi Almeer tidak pernah menganggap pernikahannya. Bahkan dengan ibu asuhnya saja dia tidak pernah cerita tentang pernikahan mereka yang singkat itu. Apa sebegitu tidak inginnya Dia hubungan ini diketahui oleh orang-orang terdekatnya?.


Namun hati ini kenapa selalu merindukannya. Walau mungkin Almeer tidak akan pernah merasakan hal yang sama. Lalu harus sampai kapan Dia menunggu dengan perasaan ini. Terus merindukannya, dan selalu merindukannya. Walau pernikahan ini barjalan seumur jagung, tidak pernah kan dia sehari saja benar-benar menganggap pernikahan ini ada.

__ADS_1


Sekarang sosok itu sudah pergi. Dan mungkin tidak pernah mengingatnya. Lalu apa lagi yang Fira tunggu?. Sedangkan hatinya terus terluka karena menahan rindu.


Kring..kring..


Terdengar bunyi handphone Ibu Aminah. Terlihat binar matanya saat melihat layar hp nya.


"anak ibu Zein yang telpon. Biar ibu Loudspeaker." kata Ibu Amina terlihat bahagia.


"assalamualaikum ibu." terdengar suara dari telpon.


Degh.


'suara itu. Suara yang selalu aku rindukan selama satu tahun setengah ini.' batin Zafira


Syfa dan Kiya saling tengok. Ternyata benar Zein yang dimaksud adalah Almeer yang mereka kenal. Suara itu. Mereka kenal betul suara itu.


"waalaikum salam nak. Tumben kamu telpon. Sudah ingat kah sama ibu?" kata Ibu Aminh sedikit merajuk.


"Ada apa nak. Kenapa suara Kamu surau seperti itu?. Apa yang terjadi?. Kamu baik-baik saja kan?" Ibu Aminah terlihat panik.


" El, Bu. Dia tertembak semalam saat penyergapan markas Rudolf. Peluru itu menembus dadanya dan hampir menggores jantungnya. Gara-gara Aku, Bu. Aku gagal jaga Dia" terdengar suara Almeer pilu.


"astaghfirullahaladzim. Ya Allah. Lalu sekarang kondisinya bagaimana?" tanya Ibu Aminah


" Dia masih dalam penanganan dokter bu. Sudah hampir 6 jam bu dokter belum ada yang keluar dari ruang operasi. Aku takut bu. Aku nggak mau kehilangan lagi bu" kata Almeer.


"Kamu yang tenang ya sayang. Terus berdoa. Biarkan dokter yang berusaha dan Kamu bantu dengan doa. Ingat semuanya sudah menjadi kehendak Allah nak. Kondisi Kamu sendiri bagaimana?" kata Ibu Aminah.


"Aku nggak apa-apa bu. Aww.." terdengar suara Almeer yang meringis

__ADS_1


"Bisa pelan-pelan nggak sih. Itu kan luka bekas sayatan kalau Kamu siram pake alkohol bukan sembuh yang ada malah makin parah. Bisa nggak sih ngobatin orang?" terdengar Almeer yang sedang mengomel.


"katanya nggak apa-apa. Tapi masih meringis. Lagian udah dibilang obatin sama dokter masih aja ngeyel. Lagian heran kok ada orang yang takut diobatin sama dokter. Tampang doang berani kayak jagoan tapi kenyataannya takut sama jarum suntik" terdengar suara wanita yang sedang bertengkar dengan Almeer.


"Diem. Bisa nggak jangan cerewet. Orang sakit kok di omelin. Lagian gua nggak takut sama jarum suntik. Gua nggak bisa ninggalin sepupu gua yang lagi berjuang antara hidup dan mati. dan itu gara-gara nyelametin gua. Lagian gua nggak minta lo buat ngobatin luka gua. Gua bisa obatin sendiri. Tapi nanti tunggu dokter keluar dan setelah gua tau kondisi sepupu gua" kata Almeer ketus terdengar dari telpon.


"oke. Terserahlah-." kata wanita itu


"Shreya sorry. Gua bicara kasar. Gua nggak maksud" kata Almeer.


"iya gua tau loe kalut. Tapi loe nggak bisa ngabaiin keselamatan loe. Kalo loe kenapa-kenapa misi kita ini bakal hancur. Gua khawatir sama loe. Seperti loe yang terus nyelamatin gue dari bahaya gua juga nggak mau kalau loe kenapa-kenapa." kata wanita itu


"loe pulang ya. Loe pasti cape banget. Dianter sopir sama bodyguard. Inget loe jangan pernah keluar dari manssion. Apa lagi keluar seorang diri. Inget Rudolf berhasil nyelematin diri. Dan police belom berhasil nangkep mereka. Kita harus tetep waspada. Dan satu lagi jangan kasih tau nenek sama kakek kondisi gua sama El. Mereka pasti bakal khawatir." kata Almeer


"oke. Gua nurut. Kalau nggak juga loe bakal terus usir gua kan. Loe hati-hati disini. Kalau ada kabar El langsung kasih tau." kata wanita itu


hening. Sudah tidak terdengar lagi perdebatan di balik telpon.


"Zein. Nak kamu maaih disana?" kata Ibu Aminah akhirnya bicara setelah tifak mendengar pembicaraan Zein dengan seseorang disana.


"Iya Bu. Maaf tadi Shreya. Oh iya maaf bu, karena kalut sampai lupa tanya kabar ibu sana." kata Almeer


"Ibu baik nak. Hanya dari semalam ibu risau terus kepikiran sama kamu. Makanya karena rindu ibu buat cemilan kesukaan kamu. Ibu kangen kapan kita bisa buat kue baren makan bareng sama yang lain" kata Ibu


"Zein juga bu. Tapi zein harus selesaikan semua urusan Zein disini dulu. Pendidikan Zein sebentar lagi selesai. Setelah penelitian ini selesai Zein akan segera kabari Ibu. Terlebih Rudolf juga belum tertangkap. Setidaknya Zein tidak ingin jika Rudolf muncul lagi dan menngancan keselamatan orang-orang disekitar Zein lagi. Doakan Zein ya bu semoga semua urusan Zei disini cepat selesai" kata Almeer.


"iya nak. Ibu selalu mendoakan semua anak-anak ibu. Kamu ingat jaga. Kesehatan. Dan luka kamu juga harus segera diobati. ingat untuk menyelesaikan semua urusan kamu. Kanu harus sehat dan baik kalau nggak kamu akan kalah. Doa ibu menyertaimu nak" kata Ibu Aminah


Percakapan Ibu dan anak pun berakhir. Hati Zafira menjadi tidak karuan. Senang karena bisa kembali menndengar suara yabg dirundukannya. Sedih karena memang mungkin dia sudah tidak berarti dihisup Almeer. dan Khawatir mengingat jika ternyata Almeer sedang menghadapi masalah yang besar dan sangat berbahaya.

__ADS_1


'Kang Almeer. Bagaimana keadaan akang disana. Disini Aku selalu merindukanmu. Walau keadaan kita sudah tak sama namun entah kenapa aku tetap tidak bisa menghilangkan kamu dari pikiranku. Dan aku selalu merindukanmu. Semoga kamu baik-baik disana' batin Zafira.


__ADS_2