
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Duduklah" jawab Almeer.
Akhirnya setelah 15 menit Almeer menunggu Nadira,Ali, Elmeer, Zafira, Altahf, Kiya dan juga Arthur. Mereka datang juga. Semalam Almeer mengirim chat pada mereka untuk datang ke La Tahzan Cafe&resto. Mereka duduk. Tak berselang lama seorang pelayan datang dengan memmbawa buju menu.
"Silahkan dipesan kak" kata pelayan itu.
Mereka pun mulai memilih menu yang mereka inginkan.
"Saya minta jangan ada yang pesan steak atau apapun yang memakai pisau. Saya tidak ingin ada pisau di meja makan ini." kata Almeer sarat akan makna.
Mereka pun mulai memesan makanan. Setelah selesai mencatat pesana makanannya pelayan itu pun undir diri.
"kabar Kakak gimana? Semalam Kakak tidur dimana?" kata Nadira.
"Nggak tidur. Semalam beres-beresin kekacauan rumah. Ya sekitar setengah 5 baru beres." kata Almeer.
"Kakak sendiri beresinnya?. Lagian kakak kenapa sih nggak ngizini kita bantuin beres-beres." kata Nadira.
"Nggak kok. Di bantu sama Dimas. Laki-laki yang kemarin nganter kalian." kata Almeer.
Almeer tau banyak hal yang akan mereka tanyakan. bahkan Almeer sendiri sudah siap untuk mengatakan semuanya pada mereka. Hanya saja dia tidak yakin pada dirinya sendiri. Apakah dia bisa mengendalikan dirinya nanti.
"Oh ya gimana susana tempat ini menurut kalian? Lumayan nyaman kan. Disini juga ada Live musiknya. Bentar lagi live musiknya aka mulai." kata Almeer berusaha mengalihkan perhatian mereka.
"Udah lama Aku nggak denger Kakak nyanyi. Dulu Kakak selalu nyanyi dan ngasih persembahan lagu di hari jadi Ibu. Suka sekali main gitar, biola, juga piano. Dulu kakak sampe nyewa keyboard buat acara ultah Ibu. Kangen rasanya pengen denger Kakak nyanyi." kata Althaf.
Almeer tampak berfikir sejenak.
"Sebentar"
Almeer bangun dari tempat duduk nya. Dia berjalan kearah panggung. Dan sempat berbincang sebentar dengan beberapa personil band yang akan tampil. Almeer pun duduk didepan sebuah piano yang disiapkan oleh cafe tersebut.
"Selamat sore semua. Disini saya ingin mempersembahkan lagu untuk keluarga saya yang duduk disana. Dan kalian semua. Semoga kalian semua terhibur."
Almeer pun mulai memainkan tuts piano menjadi sebuah melodi.
🎹🎼
Pernakah kau bermimpi seketika,
Berada ditempatku membayangkan
pahit manis berlaku
entah siapa yang tahu
mungkin nanti kau jua merasakan
berdepan dengan kata menyesakkan
__ADS_1
Takkan tugumu kebal, Tanpa pertimbangan
keheningan malam membangunkan
kepayahan jiwa meluahkan
andai kau jujur memahami, tiada ku menjauhi.
dan kisahku yang masih panjang
menambahkan berat yang memandang
lantas kupendan, kuputuskan, biarlah rahsia
Semakin aku hidup dalam cinta
tak kuasaku mampu mengahalangnya
hentikan kata-kata bertulangkan dusta. 🎶🎶🎶
Almeer menyanyikan sebuah lagu dengan sangat dalam penuh penghayatan..seakan dia bernyanyi dengan hatinya. seakan dia sedang mengutarakan hatinya melalui lagu-lagu tersebut. Nadira dan Zafira menangis. Hingga lagu itu selesai dinyanyikan. Sorak dan tepuk tangan terdengan dari para pengunjung cafe yang ikut hanyut mendengarkan lagu tersebut. Dan Almeer kembali padi kursinya.
"kita makan dulu makannya baru kita bicara." kata Almeer.
Mereka pun mengikuti perkataan Almeer. Walau di dalam benak mereka tersimpan banyak pertanyaan yang mengganjal. Almeer terlebih dahulu menyelesaikan makkannnya. Dia berfikir bagaimana memulai semuanya. Akankah dia sanggup mengungkap luka lama yang membuatnya menderita.
Almeer pun mulai bercerita tentang kejadian 19 tahun lalu. Awal dari penderitaannya. Hal yang tidak pernah dia ungkap kepada siapapun. Bahkan psikolog yang sudah menanganinya selama 12 tahun ini.
Mereka mendengarkan cerita Almeer dengan seksama. Mereka kaget dan merasa apa yang terjadi sangat amat mengerihkan. Pantas saja Almeer mengalami trauma. Almeer menceritakan kejadian itu dengan perasaan yang berkecamuk. amrah dan dendam itu jelas terlihat dari kilatan matanya. Almeer terus menggenggam botol kosong yang sengaja dia pesan. Botol tersebut digenggam dengan sangat kuat. Hingga perlahan botol itu pun pecah dalam genggaman tangan Almeer.
"Kak.. Tangan Kakak." kata Nadira.
"Kalian tau. Ada kalanya rasa ingin tau kalian yang berlebihan justru terkadang menyakiti orang lain. Dan kali ini apa yang kalian lakukan justru membuat luka lama yang berusaha aku tekan dan sembuhkan kini basah kembali." kata Almeer
"Kak. Maafkan kami." kata Nadira.
"Aku tau semuanya. Kalian coba cari tau tentang obat yang ada dikamarku. Kalian terus mendesak Arthur untuk cerita. Dan Arthur menceritakan semuanya yang dia tau. Aku tau semua. Bahkan kalian yang datang ke tempat pegulatan ilegal itu. Buat apa kalian lakuin itu.? Untuk memuaskan rasa ingin tahu kalian. Apa kalian sudah puas saat kalian mengetahui semua aib dan kelemahan yang berusaha saya tutupi selama ini" kata Almeer dengan aura dingin.
"maaf kak" kata Ali dan Althaf.
"Ya emang benar Oabt itu milik saya. Obat itu yang selama ini memmbantu saya terlihay normal dihadapan kalian. Ya Saya memang gila. Punya gangguan mental yang harus terus minum obat penenang. Itu kan yang ingin kalian tau. Itu sebabnya saya tidak pernah berani untuk mengambil keputusan buat kebahagiaan diri saya sendiri." kata Almeer.
"Nggak kak. Kakak nggak gila. Jangan ngomong kayak gitu lagi" kata Nadira sambil sesegukan.
"kalian tau setiap malam saya terus ketakutan trauma itu terus datang. semua yang saya liat itu seakan kembali terrekam kembali. Kamu tau rasanya otak saya ingin pecah. Ingin menghancurkan apa yang ada dihadapan saya. berharap bayang-bayang mengerika itu lenyap dari hadapan saya. Tapi nyatanya saya nggak pernah berhasil. Bahkan obat itu tetap tidak berkerja dikala malam tiba. Dan kalian tau kapan puncak luka dan trauma itu tiba?" kata Almeer.
Mereka menangis. Saat melihat betapa hancurnya Almeer saat Almeer mengungkap semuanya.
"semua keadaan mulai normal saat kita bisa berkumpul bersama. Syam selamat dari mau. Rudolf si dalang pembuhaan itu berhasil dieksekusi mati ditangan saya langsung. Tapi seminggu yang lalu trauma itu kembali datang saat saya melihat dengan mata kepala saya pembunuh itu ada dihadapan saya. ya setelah 19 tahun saya mencari akhirnya saya bisa bertemu pembunuh itu langsung." kata Almeer.
"Maksud kak Al?" tanya Arthur.
__ADS_1
"Ya saya sudah bertemu dengan sang eksekutor yang membunuh mama dan papa. Bahkan dia mengakui dan menyesalinya secara langsung. Dan dia rela menyerahkan dirinya langsung ke polisi untuk satu syarat saya tidak boleh mengungkap identitasnya terlebih kepada keluarganya. Dia tidak ingin keluarganya membencinya. Bahkan untuk itu dia rela walau nantinya dia harus dihukum mati." kata Almeer.
Semua menganga
"lucu bukan. Kalian tau rasanya saya ingin sekali menghabisinya langsung dengan tangan saya sendiri. Membunuhnya sama persis seperti dia membunuh papa dan mama. membelah tubuhnya dan mengambil seluruh organ penting ditubuhnya. Mencongkel matanya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Karena itu kana sangat melukai hati orangyang saya sayangin. Karena orang itu begitu penting untuk orang yang saya sayangi." kata Almeer.
"siapa kak orang nya. Biar kami yang mengeksekusinya." kata ali dan althaf terlihat marah.
"tidak. Bahkan kallian pun tidak akan sanggup melakukannya. Kalian tau sulit rasanya menahan amarah yang seperti bom waktu. saya kalah. Saya tidak bisa mengalahkan amarah ini. Lihat lah orang yang kalian anggap baik ini. Orang yang kalian anggap seperti pahlawan kalian. Tidak lain hanya seorang laki-laki lemah yang kalah dengan amarahnya. Yang penuh dengan dendam yang siap menghancurkan siapapun. Bahkan sya tidak layak untuk siapapun. saya tidak pantas berada ditengah-tengah orang baik seperti kalian. Saya sudah putuskan." kata Almeer.
"putuskan apa kak?" tanya Nadira sambil terus menangis.
"setelah ini. Kita tidak ada hubungan apapun. Kalian tau rasa ingin tau kalian itu menyakitkan buat saya. Dan ada harga yang harus kalian bayar untuk menemukan jawaban dari keingintahuan kallian itu. Dan harga yang pantas adalah pergi dan menjauh dari hidup saya. Jangan pernah ganggu saya. Dan biarkan saya jalani kehidupan saya sendiri. Jangan coba cari saya. Dan terus lanjutkan kehidupan kalian" kata Almeer.
Mereka semua kaget. Mereka tidak terima dengan putusan Almeer.
"Nggak kak. Kakak nggak boleh pergi. Aku ini adik kandung kakak. Kami keluarga kakak. Dan kakak nggak boleh pergi dari kami. Tolong maafkan kami yang nggak sengaja nyakitin kakak. Tapi tolong jangan pergi aku mohon kak. Jangan" Nadira terus memohon. Dia bahkan terus menangis memeluk Almeer.
"Nggak dek. Setiap perbuatan akan ada kosekuensinya. Dan kalian harus siap. Ini pertemuan kita terakhir. Selepas ini jangan pernah mencoba mencari keberadaan saya. Atau kalian akan menemukan saya sudah tidak benyawa lagi. Kalau kalian ingin saya tetap hidup dengan tenang maka menjauhlan dari saya. Selamanya." Almeer pun bangkit. Dan pergi dari sana.
Nadira Ali dan yang lain berusaha mengejar Almeer. Mereka mencoba menghentikan Almeer. Namun Almeer tetap tidak menengok ke belakang. Hingga Nadira pun memmutuskan berdiri di tengah jalan.
"Nadira apa yang kamu lakukan?" kata ali sambil berteriak.
"Nadira jangan gila. Nanti kamu bisa ketabrak" kata Kiya berteriak.
Almeer yang mendengar teriakan itu pun berbalik. Dia melihat sang adik berdiri di tenagh jalan.
"Nadira jangan Gila kamu. Kembali." kata Almeer berteriak.
"buat apa kak?. Cuma Kakak yang aku punya. Dan sekarang kakak mau ninggalin aku. Buat apa tetap hidup ka" kata Nadira.
Dari jauh Almeer melihat mobil truk besar berjalan dengan cepat terus memmbunyikan klakson. Tanpa berfikir panjang Almeer lari untuk menarik sang adik.
"Bodoh. Apa kamu gila hah. Kalau kamu ketabrak tadi gimana? Mending kalau kamu langsung mati. Tapi kalau kamu selamat dan justru patah kaki atau hancur organ dalam kamu gimana. Bukan disiksa dineraka kamu tapi malah disiksa dulu didunia." kata Almeer mengoceh.
"ihh kakak jahat masa ngomong kayak gitu ke aku" kata Nadira ngambek mendengar omelan sang kakak.
Almeer pun langsung memeluk Nadira dengan erat. Dia tidak bisa melihat adiknya kenapa-kenapa.
"jangan lakuin hal bodoh lagi dek" kata Almeer.
"kakak juga. Jangan pernah pergi lagi dari Aku. Cuma kakak yang aku punya." kata Nadira.
"kakak nggak bisa janji tapi akan kakak usahakan" kata Almeer.
Nadira mengambil tangan sang kakak. Melihat luka ditelapak tangannya.
"kita obatin tangan kakak." kata Nadira
"ini nggak sakit dek. Nggak sesakit saat kakak kehilangan mama, papa dan juga menghadapi trauma itu." kata Almeer.
__ADS_1
"kita lewati ini sama-sama aku yakin perlahan kita mampu menyembuhkan luka di hati kakak. Tapi sebelum itu kita obati dulu luka ditangan kakak ini." kata Nadira.
Zafira melihat eratnya hubungan Nadira dan almeer merasa bahwa ikatan persaudaraan mereka begitu erat. Dia tidak menyangka dibalik tegarnya seorang Almeer tersimpan kerapuhan yang bisa hancur kapan saja.