
dikantin Kantor. Zafira, Kiya, Nadira dan Anis berkumpul untuk makan siang bersama. Namun Anis yang tetap sedang asik berkirim pesan dengan Ali pun membuat Nadira penasaran.
"ka Anis boleh pinjam hp nya sebentar.aku mau hubungi Nenek tapi hp nya ketinggalan diatas." kata Nadira berbohong.
"ini" kata Anis memberikan poselnya.
Nadira pun mengambil poselnya. Dan mulai mengotak-atik ponsel Anis.
Dia pun membaca satu persatu pesan dari Ali, Ashraf, Altaf dan Ibu Aminah. Membaca pesan-pesan tersebut membuat Nadira merasa sakit. dia tidak menyangka jika Ali saat ini sedang dirawat. Dan tidak ada satupun yang memberitahunya. Kenapa? Apa karena Ali yang meminta mereka untuk tidak memberitahunya.
"jadi Ka Ali sakit?. Jawab Ka? Apa bener Ka Ali lagi dirawat dirumah sakit?" kata Nadira sambil berusaha menahan amarahnya.
Anis menunduk. Dia bingung bagaimana menjelaskannya. Rasanya tidak enak jika bilang langsung alasannya kenapa tidak memberitahu kondisi Ali pada Nadira.
"jawab Kak. Kenapa diam aja?" tanya Nadira berusaha untuk tidak semakin emosi.
"iya. Dia baru saja selesai menjalani operasi usus buntu. 5 hari lalu." kata Anis.
Zafira, Kiya dan Nadira kaget.
"Aku mau jenguk dia. Dia dirawat dimana?" kata Nadira
"dirumah sakit di surabaya."
"nanti sore aku bakal ke Surabaya buat jenguk dia" kata Nadira.
"kita boleh ikut?" tanya Zafira
"iya. Kita berangkat setelah solat maghrib. Nanti aku samper ke apartemenmu" kata Nadira.
"kita kesana bareng" kata Anis.
...****************...
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu berjama-jam. Akhirnya mereka sampai dirumah sakit tempat Ali dirawat. Sesampainya didepan ruang rawat Ali terlihat Davin baru saja keluar dari dalam.
"apa Pak Ali ada?" tanya Anis
"Pak Ali masih didalam. Ada Ibu, serta kedua adik-adiknya. Silahkan langsung Masuk saja. Saja permisi dulu" kata Davin
Mereka pun masuk kedalam. Terlihat Ibu yang sedang mengomel karena Ali terlihat tidak mau makan makanan rumah sakit.
"assalamualaikum" kata mereka serentak
"waalaikum salam" jawa Ali.
"kalian disini?" kata Ali tidak menyangka.
"maaf pak, kami datang mengganggu bapak. Kami hanya ingin menjenguk dan melihat kondisi bapak" kata Zafira
"terimakasih. Kondisi saya sudah baik. Hanya perlu istirahat saja" kata Ali.
Nadira hanya diam saja. Tatapannya begitu menyedihkan. Dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak nangis.
"kalian berangkat dari kapan?" tanya Ibu Aminah
"kemarin selepas maghrib bu." jawab Anis.
mereka pun saling bertanya. Hanya Nadira saja yang tidak mengatakan apapun. Ibu Aminah bisa melihat ada hal yang perlu dibicarakan antara Ali dan Nadira. Mereka memerlukan waktu untuk bicara berdua.
"kalian pasti kelelahan diperjalanan. Dan pasti kalian belum sarapan. Mari ikut Ibu kita sarapan dulu." kata ibu bangkit dari tempat duduk. Lalu mengajak mereka keluar.
"Kak kita keluar dulu ya" kata Ashraf dan Altaf.
__ADS_1
Ali hanya mengangguk lemah. Mereka pun pergi dan hanya tersisa Nadira dan Ali. Nadira masih setia berdiri ditempatnya.
15 menit berlalu tidak ada percakapan apapun diantara keduanya. Nadira masih tetap berdiri ditempatnya. Ashraf dan Altaf yang ternyata setia menunggu dan mengintip dari luar hanya bisa mengehla nafas.
"sumpah ya. Gereget banget liat mereka berdua. Kalau suka ya tinggal bilang sih. Ini malah main diem-dieman. Pengen rasanya nyemplungin kepala mereka ke kolam." kata Altaf yang gemes sendiri melihat tingkah Ali dan Nadira
Didalam ruangan.
"duduk Nadira, kamu nggak pegel berdiri terus?" kata Ali.
Perlahan Nadira pun mulai melangkahkan kakinya mendekat dan duduk di samping ranjang Ali. Masih setia melihat tajam ke arah Ali.
"gimana kondisi Ka Ali?" tanya Nadira akhirnya.
"baik. Kata dokter lusa udah boleh pulang." kata Ali.
"kamu nggak sarapan bareng mereka?" tanya Ali.
"apa sekarang aku udah nggak penting dihidup kakak?" tanya Nadira.
" " ali diam
" apa sebegitu sibuknya sehingga tidak bisa mengirim kabar ke Aku?" tanya Nadira.
" " Ali masih diam
"bahkan nggak ada satupun yang kasih tau aku tentang kondisi Kakak" kata Nadira.
"sudah lah Ra. Kondisi saya juga udah nggak apa-apa." kata Ali.
Nadira merasa kecewa dengan jawaban yang diberikan Ali. Namun dia sadar semua ini terjadi karena berawal dari dirinya. Nadira melihat makanan Ali masih utuh. Dia mengambilnya dan segera mengambil sesuap dan kemudian dia arahkan pada Ali.
"nanti saya makan sendiri. Saat ini rasanya perut Saya nggak bisa menerima makanan masuk" kata Ali
"nanti saya makan sendiri" kata Ali bersikeras.
Melihat sikap ali yang tetap dingin dan seperti menjaga jarak membuat hati Nadira terasa sakit.
"Aku minta maaf. atas sikap aku yang sudah keterlaluan. Aku tau aku udah kasar sama Kakak" kata Nadira menunduk berusaha menahan air matanya.
"jangan nangis Ra. Tidak ada yang marah. Dan kamu tidak salah. Jadi nggak perlu minta maaf" kata Ali
"nggak. Aku udah keterlaluan. Sampe akhirnya kakak membenci aku. Dan nggak mau ketemu aku lagi. Kakak ngejauh dari aku"
"itu nggak benar. nggak ada yang bilang begitu" kata Ali terdengar lirih
"tapi itu kenyataannya kan ka?. Aku telpon kakak berkali-kali, chat kakak. Tapi nggak ada satupun respon dari Kakak."
Nadira memang benar. Tidak ada satu panggilan telpon pun yang dia jawab. Tidak chat yang dia balas. Tapi bukan karena dia membencinya. Namun karena dia tidak yakin untuk tidak perduli dengan nya. Sedangkan dia harus berusaha untuk tidak lagi mengatur Nadira.
"apa sebesar itu kesalahan Aku Ka?," tanya Nadira.
Ali diam. Dia tidak bisa menjawabnya. Karena memang nyatanya dia tidak pernah dan tidak akan pernah bisa membenci Nadira.
Nadira tidak bisa lagi membendung perasaan sesak didadanya. Yang kini tumpah dalam air mata.
"jangan nangis ra" kata Ali. Berusaha untuk bangun agar bisa menggapai Nadira. Meskipun dia merasa sakit dibagian perutnya karena ada gesekan di bekas jahitan operasinya itu.
"ssttstttt..." kata Ali meringis.
"jangan nagis ra. Sia-sia rasanya aku menjauh saat tau akhirnya kamu menangis karena aku. Aku ngelakuin ini semata-mata agar kamu bahagia. Karena aku tau selama dengan aku kamu merasa tersiksa. Itu sebabnya aku menjauh. Jadi tolong jangan nangis ya. Katakan apa yang harus aku lakuin biar kamu berhenti menangis" kata Ali
Nadira mengusap air matanya. Dan melihat kearah Ali.
__ADS_1
"jangan pernah tinggalin Dira lagi. Jangan pernah sekalipun berfikir buat menjauh lagi dari Dira." kata Nadira
Ali bingung. Dulu Nadira memintanya untuk pergi sejauh mungkin dari hidupnya tapi kenapa sekarang dia minta aku jangan pernah tinggalin dia.
"dulu Aku pikir jauh dari Kakak bisa buat aku bahagia. Tapi nyatanya jauh dari Kakak justru buat aku makin tersiksa." kata Nadira
Ali tersenyum mendengar kejujuran dari Nadira. Mungkinkah Nadira sudah??
"kenapa kamu tiba-tiba berubah fikiran? Apa karena kamu abis patah hati sam cowok yang kamu taksir?" kata Ali
"kenapa Kakak mikir kayak gitu?" tanya Nadira
"karena dulu saya sering liat kamu dekat denga salah satu karyawan kantor. Kalian sering bercanda, tertawa bareng. Sikap kamu ke dia manis banget. Beda kalau dengan saya. Jutek dan bawaannya pengen marah terus. Saya kira kamu mencintainya" kata Ali
Degh..
'Jadi selama ini dia merhatiin aku sampe segitunya.' batin Nadira.
"dia juga pernah nembak kamu kan? Buat jadi caon isterinya? tapi sayangnya waktu itu saya langsung panggil kamu dan nyuruh kamu. Dan kamu kesel banget sama saya. Kamu inget?" kata Ali
Ya tentu Nadira inget. Dan dia sangat kesel banget dengan Ali. Namun karen hal itu juga justru nyelametin dia dari sakit hati. Karena pada akhirnya dia tau kalau laki-laki itu suka sekali deketin banyak cewek. Dan sering ganti-ganti pasangan. Dan akhirnya dia sadar kalau selama ini yang Ali lajukan untuk melindunginnya.
"kamu mencintainya kan?" tanya Ali.
"enggak. Kata siapa?" Nadira langsung mengelaknya.
Mendengar jawaban Nadira yang langsung menolaknya membuat Ali merasa lega. Dia senang mendengar Andira yang tidak mencintai laki-laki itu.
"terus kalau kamu nggak mencintai laki-laki itu. Lalu siapa yang kamu cintai?" kata Ali ingin tau
"apaan sih kok malah jadi bahas itu" kata Nadira.
"ya tinggal di jawab aja kali" kata Ali.
"nggak. Lagian ngapain juga harus kasih tau Kakak siapa yang aku suka. Emang Kakak siapa? Bukannya kakak udah nggak perduli lagi sama Aku?" kata Nadira.
Ali diam. Bingung harus jawab apa. Sedangkan Nadira menunggu apa jawaban Ali. Dia ingin tau apakah Ali akan mengatakan jika dia mencintainya. Seperti yang dikatakan Anis, Ashraf dan Altaf.
"setidaknya kalau Saya tau perasaan kamu, Saya jadi tau harus bersikap seperti apa ke Kamu." kata Ali.
Nadira bingung maksud dari kata-kata Ali.
...----------------...
Diluar ruangan terlihat Altaf yangsedari tadi terus berkomentar. Mengenai sikap Nadira dan Ali dari yang dia lihat.
"heran deh kenapa sih Kak Ali oon banget. Kenapa nggak bilang langsung sih kalau dia cinta. Kan beres. lagian masa dia nggak ngerti juga sma kode yang dikasih Nadira." katta Altaf sebel.
"udah-udah. Sekarang kita gabung aja yuk sama yang lain. Lagian tadi juga aja Kiya kan. Cewek yang diem-diem lu taksir iya kan?" kata Ashraf
"lu juga sama kan. Diem-diem naksir Syfa. Bisa kebaca kali dari gelagat lu kemaren." kata Altaf.
"iya gua emang suka sama dia. Dan berencana buat khitbah dia. Tapi gua nunggu waktu dulu. Rasanya kecepetab deh kalau gua langsung lamar dia. Kalau lu gimana?. Tadi kan lu ngatain Kak Ali oon gara-gara nggak peka dan nggak langsung bilang cinta. Emang lu berani ngomong cinta langsung ke Kiya?" kata Ashraf
"iya berani gua. Cuma kan sama kayak lu. Kita baru aja kenal belum ada seminggu masa gua langsung tembak aja. ada proses kali bang" kata Altaf
"yaudah yuk kita samperin yang lain aja. Lagian mereka udah baikan ini" kata Ashraf
"ehh.. Tapi aman nih kita tinggalin aja berduaan. Nanti kalu mereka berbuat yang enggak-enggak gimana?" kata Altaf
"enggak-enggak pale lu. Mana mungkin Ali berani macem-macemin SAz. Kan lu liat sendiri gima dia ngejagain Saz jadi nggak mungkin dia mau ngerusak Saz. Udah ah.. lagian Nadira itu wanita terhormat yang bisa jaga kehormatannya. Nggak bakal mungkin dia bakal berbuat yang macem-macem. Udah ah kelamaan mikir lu? " kata Ashraf.
Ashraf langsung pergi meninggalkan Altaf yang terlihat masih mikir
__ADS_1