
Pagi ini Zafira bangun terlambat. Hal ini membuatnya harus terburu-buru berangkat ke kantor. Namun diperjalanan dia melihat seorang Nenek yang keserempet sepeda motor saat sedang lari pagi. Namun sepeda motor itu pergi begitu saja. Zafira yang melihatnya memutuskan untuk turun dan melihat kondisi Nenek itu. Terlihat lutut sang Nenek berdarah. Zafira segera mengambil kotak P3K didashboard mobilnya.
Dengan telaten Zafira mengobati luka Nenek itu.
"Nenek lari pagi sendirian?. Apa nenek mau ke dokter untuk mengecek kondisi nenek? Atau nenek mau aku antar pulang?" tanya Zafira.
"terimakasih nak. Tidak perlu. Nanti biar cucu nenek saja yang bawa nenek berobat" kata sang nenek.
"tapi dimana cucu nenek sekarang kenapa dia meninggalkan nenek sendirian?" tanya Zafira.
"sebenernya Nenek lari-lari di taman ini tidak sendirian tapi bersama cucu dan juga suami Nenek. Hanya saja mereka meninggalkan Nenek untuk pergi merokok dan membeli kopi. Nenek sudah mencari mereka tapi tidak ketemu." kata sang nenek.
"apa nenek sudah coba hubungi mereka?" tanya Zafira.
"belum. Soalnya ponsel nenek tertinggal dirumah." kata sang Nenek.
"apa nenek ingat no pensel cucu Nenek. Biar saya hubungi cucu Nenek dengan posel saya" kata Zafira.
Sang nennk pun menuliskan nomor ponsel Cucunya itu. Lalu Zafira pun mulai menghubungi nomor tersebut. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya panggilan itu terjawab.
"halo siapa ini?" tanya suara dari sambungan telpon.
"assalamualaikum. Maaf apa benar ini nomor cucu daru nenek Syarifa Gulztaf?" kata Zafira
"iya bentul. Maaf ini dengan siapa?"
"saya Zafira. saya mau beritahu, tadi Nenek anda tertabrak sepeda motor dan kakinya sedikit terluka. Bisa kah anda datang kemari. Kami ada di taman senopati V." kata Zafira
"Ataghfirullah. Tunggu saya kesana sekarang" kata laki-laki tersebu dengan suara yang terdengar panik.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya ada 2 laki-laki. Yang satu masih muda dan yang satu laki-laki tua datang menghampiri kami. Laki-laki itu segara menanyakan kondisi Nenek itu.
"sudah nenek sudah tidak apa-apa. Tadi nak Zafira sudah membantu mengobati Nenek." kata sang nenek.
__ADS_1
Membuat kedua laki-laki beda generasi itu pun menoleh kearah Zafira.
"terimakasih sudah membantu isteri saya" kata laki-laki tua itu.
"iya sama-saka Kek."
"terimakasih sudah menolong Nenek saya" kata laki-laki muda itu.
Degh..
Kenaa wajahnya sangat mirip. Seakan yang berada dihadapanku ini adalah Dia yang selalu Fira rindukan. Untuk beberapa saat Zafira tertegun melihat wajahnya. namun segera ia tersadar dan mulai memalingkan pandangannya. Zafira pun berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Nenek itu.
"Nek, Fira pergi dulu ya. Fira sudah terlambat pergi ke kantor. Nenek baik-baik ya. Cepet sembuh. Dan lain kali harus lebih hati-hati saat lari pagi." kata Zafira.
"terimakasih ya Nak. Gara-gara menolong Nenek, Kamu jadi terlambat pergi ke kantor.oh ya lain kali kamu harus main kerumah Nenek. Nenek mau ngundang kamu untuk makan-makan dirumah nenek sebagai ucapan terimakasih nenek." kata sang nenek.
"insyaallah nek. Yasudah Aku pamit ya nek. Kek dan... Assalamualaikum"
Setelah berpamitan Zafira pun pergi kekantor.
Berbeda dengan Zafira. Saat ini Nadira yang juga sibuk dengan pekerjaannya akhirnya kembali bekerja diruangannya. sudah saat nya dia kembali mengerjakan pekerjaannya dikantor. Ada beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan Ali. Walau hati nya masih ada sedikit rasa kesal.
sejak kejadian hari itu Ali sudah mulai memmbatasi dirinya untuk mencampuri urusan Nadira. Dia sudah tidak lagi mengirimi Nadira pesan-pesan berisi perhatian dan peringatan akan apa yang boleh dan tidak boleh Nadira lakukan. Tidak ada lagi notifikasi yang membuatnya merasa terganggu.
Nadira berjalan ke ruangan Ali. Saat mengetuk pintu tidak ada jawaban dari dalam. Setelah beberapa kali mengetuk dan tidak ada respon akhirnya Nadira memberanikan diri masuk kedalamnya. Namun ruangan itu kosong.
"pantas saja tidak ada jawaban. Orang nggak ada siapa-siapa didalem ruangannya. Tapi kemana dia? Tumben biasanya jam segini dia lagi sibuk-sibuknya meriksa berkas-berkas" tanya Nadira.
Nadira pun memutuskan datang ke ruangan sekertaris Ali. Setelah mengetuk pintu dan mendapat izin dari sang empunya ruangan. Nadira pun masuk kedalam.
"Nadira. Sudah selesai survei lapangannya?. Ayo duduk sini" kata mbak Anis.
"makasih Mbak. Sudah. Oh ya mbak pak Ali kemana ya kok nggak ada diruangannya? Ada berkas-berkas hasil survei kemarin nih yang butuh tanda tangannya." kata Nadira.
__ADS_1
"loh Kamu nggak tau?" tanya Mbak Anis sekertaris Ali.
"nggak tau apa mbak?" tanya Nadira
"kan sudah 3 hari ini pakk Ali pergi ke Surabaya buat urus proyek yang disana yang sedang ada kendala. aneh loh kalau kamu yang asissten peribadinya Dia sampe nggak tau" kata mbak Anis.
"masa sih mbak. Aku bener-bener nggak tau loh soal ini. Dia nggak ada konfirmasi dulu sebelumnya ke Aku. coba Aku cek dulu siapa tau Pak Ali ada chat atau kirim email ke Aku tapi belum ku buka" kata Nadira
nadira pun mengecek ponselnya. Memeriksa apakah Ali ada memberitahunya. Setelah ngecek WA, Email, dan akun medsosnya tidak ada satupun pesan dari Ali. Nadira menjadi heran dan tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak.
"nggak ada Mbak." kata Nadira
Anis heran bagaimana bisa?. Nadira adalah Asisstennya. Biasanya sebelum berita dan keputusan apapun yang akan diambil Nadira adalah orang yang pertama tau. Tapi ini justru untuk pertama kalinya Nadira tidak tau apa-apa.
"Kamu sedang tida lagi ada masalah kan dengan Pak Ali?" tanya Anis.
Nadira bingung harus jawab apa.
"mbak kira gosip yang beredar selama ini itu cuman omong kosong belaka. Tapi melihat kamu yang hari ini. Mbak rasa berita itu bener adanya. Ada apa Nad? Kamu bisa cerita sama mbak. Kamu tau kan mbak selalu percaya sama Kamu dan tidak pernah menghianat kepercayaan Kamu. Mbak bisa kok jadi pendengar yang baik. Kamu sudah mbak anggap seperti adik mbak sendiri."
Setelah berpikir sejenak akhirnya Nadira memutuskan intuk menceritakan semuanya pada Anis.
"mbak tau apa yang kamu rasain. Jangankan ke Kamu, mbak juga sering mendapat perlakuan hal yang sama. Kamu tau kan Ali itu kakak yang baik buat kita. kamubjuga tau kan mbak ini adik pantinya Ali" kata Anis.
"Ali selalu berusaha untuk menjaga adik-adiknya. Begitu pula dengan Kamu. bahkan Kamu adalah adik kandung dari Kakak yang selalu jadi idolannya Ali. Bagaimana mungkin Dia tidak akan perhatian sama kamu. Tapi mungkin Kamu yang merasa bahwa sikapnya terlalu berlebihan sama Kamu. Tapi kalau menurut Mbak sikapnya masih sangat wajar." kata Anis. Berhenti sejenak
" Terlebih perhatiannya bukan hanya sebagai kakak ke adiknya. Bukan hanya untuk menjaga amanat sang kakak. Tapi juga karena rasa sayang dan cinta dia ke Kamu. Sebagai perasaan laki-laki kepada wanita yang dicintainya. Mungkin Kamu tidak sadar kalau Ali itu mencintaimu. Tapi Aku tau dan bahkan semua saudara-saudara sepanti juga tau. Bahkan Kak Zein juga tau. Hanya saja hati Kamu yang tertutupi dengan rasa amarah Kamu ke Dia sehingga membuat Kamu tidak bisa melihatnya" kata Anis
Degh..
Entah kenapa hati Nadira terasa sakit saat mendengar perkataan Anis. Rasa kecewa, dan bingung kini menyelimuti hatinya. Melihat raut wajah Nadira yang berubah Anis berusaha menghiburnya.
"sudah jangan terlalu dipikirkan. Ali hanya pergi untuk beberapa hari saja kok. Nanti juga kembali setelah masalah disana teratasi. Dan untuk berkas yang lerlu ditandatangai kamu kirimkan saja lewat emai nanti akan ditandatangani digital olehnya." kata Anis
__ADS_1
"apa Aku sejahat itu ya mbak ke Kak Ali?. Aku kasar banget sama Dia. Aku nyalahin dia tanpa tau alasan Dia apa" kata Nadira diliputi rasa bersalah.
"sudah jangan nangis. Kamu kan bisa minta maaf sama Dia. Coba kamu telpon dan chat dia. Ingat perasaan Ali itu tulus dan besar dia nggak akan pernah bisa marah sama Kamu. sudah ah. Jangan nangis, nanti mascara nya luntur loh" kata Anis yang terus berusaha menghibur adik angkatnya itu.