
Almeer memjamkan matanya dibawah langit malam. Ditemani dengan sang adik disamping nya Almeer terlelap. Nadira terus menjaga sang Kakak. Berharap kali ini sang kakak dapat istirahat dengan baik.
"Mah... Pah.. Bangun kalian jangan kalah sama dia. Lari sejauh mungkin. Tolong.. Jangan jangan bunuh Mamah, Papah.. Jangan.. Jangan.."
Almeer mengigau. Dia terlihat gelisah dalan keadaan tertidur. Sepertinya dia sedang mengalami mimpi burik. Keringat bercucuran seakan habis lari maraton.
"Kak , sadar Kak. Bangun kak. Ini Dira Kak" kata Nadira berusaha membangunkan sang kakak. Nadira terlihat sangat panik.
Almeer masih terus mengigau. Bahkan usaha Nadira untuk membangunkan Almeer pun tetap tidak berhasil.
"Tolong.. Jangan ambil jantung Mamah. Jangan. Berhenti ambil organ-organ Mamah. Papah bangun pah. Sebelum dia mengambil jantung Papah. Saya mohon berhenti jangan lakuin itu ke Mamah dan Papah" Almeer terus mengigau.
Zafira yang melihat Nadira panim dan terus berusaha membangunkan Almeer pun berjalan mendekati Nadira. Zafira berjongkok disamping Nadira dan ikut membantu nadira membangunkan Almeer.
Mendengar suara orang ribut dari luar Elmeer, Ali, Althar dan Kiya pun tersadar dan segera keluar dari dalam tenda mereka. Mereka kaget saat melihat Almeer yang berkeringat dan terus merancau memamnggil Mama dan Papa.
"Kak Zein Bangun Kak. Sadar lah." Ali dan Althaf sangat panik.
Ali memegang dahi Almeer. Dan tangannya terasa sangat panas.
"Ya Allah Kak Zein demam. badannya panas banget" kata Ali.
Nadira pun segera memeriksa dahi Almeer. Dan benar dahi Almeer sangat panas.
"Tolong ambilin termometer sama Alat buat kompres." kata Nadira panik.
Kiya dan Elmeer segera berlari kedalam rumah untuk menggambil perlengkapan obat.
"Kang Bangun Kang. Akang harus kuat. Akang pasti bisa melawan semuanya. Bangun Kang disini Kami begitu mengkhawatirkan keadaan Akang." Kata Zafira.
__ADS_1
Zafira memegang tangan Almeer yang juga terasa panas. Seketika Almeer memegang tangan Zafira. Pegangan itu sangat erat seakan tidak ingin ia pergi.
"Mah, jangan tinggalin Zein ya. Mamah tetap disini dengan zein. Zein nggak sanggup jauh dari Mamah"
Almeer terus mengigau. Namun dari nada ngigauannya sudah jauh lebih tenang saat Almeer memegang tangan Zafira. Dalam Alam bawah sadarnya Almeer merasa tangan yang dipegangnya adalah tangan sang Mama.
"Mah, Zein sayang Mama" kata Alneer.
Elmeer dan Kiya keluar membawa berapa barang yang berguna untuk menurunkan panas.
Nadira segera memeriksa suhu tubuh Almeer dengan termometer. Terlihat angka 39,3°C.
"Ya Allah demamnya tinggi banget sampe 39°. Kita harus bawa Kakak ke rumah sakit" kata Nadira sangat panik.
"Baiklah Aku siapin mobinya dulu." kata Elmeer segera ke kamar mengambil kunci mobil.
Saat mereka ingin mengangkat Almeer. Zafira berusaha menyingkir agar tidak menghalangi mereka mengangkat tubuh Almeer. Namun pegangan tangan Almeer begitu erat. namun Zafira berusaha melepaskan pegangan itu. Dan saat tangannya terlepas. Almeet terlihat gelisah kembali. Mereka semua merasa heran.
Nadira merasa jika saat ini hanya Zafira yang bisa membuat Kakaknya tenang. Seakan hati keduannya saling terhubung satu sama lain.
"Fira, kalau nggak keberatan tolong tetap biarin tangan kalian berpegangan. Sepertinya Kakak lebih tenang saat dia memegang tanganmu." kata Nadira.
Zafira bingung.
"Iya Ra. Tolong." kata Ali dan Althaf setuju
Setelah berfikir sejenak. Akhirnya Zafira memegang kembali tangan Almeer. Dan Almeer kembali tenang. Lalu mereka pun menggotong Almeer kedalam mobil.
Saat sampai dihalaman. Elmeer segera membukakan pintu mobil.
__ADS_1
"Fira masuklah dulu" titah Ali.
Zafira pun masuk. Dan kemudian mereka perlahan mulai memasukan Almeer kedalam mobil. Kepala Almeee dibiarkan berada di atas bantal yang diletakkan diatas paha Zafira. Kemudian Nadira masuk ke bangku depan. Dan Elmeer masuk ke kursi pengemudi.
"Kalian susul pake mobil Villa aja ya. Ayo Kak" kata Nadira.
Elmeer pun mulai menjalankan mobil teraebut menuju rumah sakit terdekat. Dari balik kaca Elmeer melihat keadaan Almeer dibangku belakang. Dia khawatir. Namun dalam hati bertanya kenapa sedari tadi Almeer terus memegang Zafira. Dan dia terlihat jauh lebih tenang. Elmeer merasa ada sesuatu diantara mereka. Tapi apa?
"Kamu kenapa sih El. Kamu nggak boleh curiga begitu. Lihat kodisi Zein sekarang. Dia ngga sadarkan diri. Mungkin dalam alam bawah sadarnya Dia sedang mengang tangan tante Hana." kata Elmeer dalam hati.
...----------------...
Setelah 8 jam dirawat di UGD. Kondisi Almeer perlahan mulai membaik dan dipindahkan kekamar rawat inap. Setelah pukul 12.35 Almeer akhirnya sadar. Mereka semua merasa senang.
"Kenapa Kakak ada disini?" tanya Almeer lemah.
"Semalam Kakak demam tinggi" kata Nadira.
Almeer menghela nafasnya.
"Maaf sudah membuat kalian repot. Tujuan kalian ke puncak untuk liburan. Tapi Kakak malah mengacaukan rencana kalian" kata Almeer.
"Hust apa sih Kak. Kan kita udah bilang. Kita bakal bantu Kakak. Kita bakal bantu Kakak buat kuat menghadapi trauma kakak itu. Kakak percaya kan sama Kita?" kata Ali.
Almeer tersenyum.
"Makasih." kata Almeer.
Zafira terlihat lega saat melihat Almeer kembali sadar. Dan perlahan kondisinya mulai membaik. Dia terus berdoa semoga Almeer bisa jauh lebih kuat lagi.
__ADS_1