Takdir Cinta Sang Pengantin Pengganti

Takdir Cinta Sang Pengantin Pengganti
Siuman


__ADS_3

"Kak. Bangun." kata Nadira


"Mau sampai kapan Kakak terus terlelap seperti ini" kata Nadira lagi.


Nadira Duduk tepat disamping brangkar rumah sakit tempat Almeer tak sadarkan diri. Banyak selang penopang hidup terpasang ditubuh sang Kakak. Miris dan pedih saat melihat kondisi sang Kakak.


Tit..tit.. Tit..


Suara mesin pendeteksi jantung.


Dengan hati-hati dan telaten Nadira membersihkan tubuh Almeer.


Nadira terus menggenggam tangan sang kakak. Sudah lebih dari 2 minggu tidak sadarkan diri pasca operasi.


"Kakak bangun kak. Dira rindu suara Kakak. Dira kangen cerita sama Kakak. Kita bahkan belum ada 1 bulang ngabisin waktu bareng. Kata Dira.


Hancur sudah perasaan Nadira. Pecah air mata yang berusaha Dia tahan. Melihat Sang Kakak terbaring lemah tak sadarkan diri.


"Kakak janji kan, saat sudah kembali ke indonesia kakak nggak akan ninggalin aku lagi. Kakak bakal jagain Aku seperti papah sama mamah jagain Aku. Bangun kak." kata Nadira


Terisak. Terdengar begitu pilu tangisan Nadira. Betapa Dira baru saja merasakan kasih sayang dari Kakak Kandungnya yang sudah 18 tahun terpisah. Namun saat mereka baru saja meraskana kebersamaan. Kejadian buruk menimpa sang Kakak.


"Bangun Kak. Bangun. Apa Kakak nggak cape tidur terus?" kata Nadira sambi tangannya terus menggenggam tangan sang Kakak. Dengan suara yang terdengar frustasi.

__ADS_1


"Jangan tinggalin Dira Kak. Dira nggak mau ditinggalin sama Kakak lagi" kata Dira.


Dia sudah tidak mampu menahan rasa takut kehilangan yang mengisi hatinya. Air matanya terus menetes. Hingga ada beberapa butir yang menetes ke tanggan sang Kakak. Nadira menyandarkan kepalanya pada tepi ranjang. Dekat dengan tangan Almeer.


Setelah sekian lama menyandarkan kepalanya sambil menangis. Nadira merasakan ada pergerakan lembut dikepalanya. Nadira mendongakan kepalanya.


Nadira melihat tangan sang kakak bergerak perlahan.


"Kak. Kakak bergerak." Nadira tampak antusias melihat sang Kakak mulai memberikan pertanda dia akan sadar.


Dengan semangat Nadira keluar untuk emmanggil dokter.


"Dokter.. Suster.." nadira terus berteriak dari pintu.


"Syukurlah pak Almeer sudah sadar." kata dokter Andre


"Saya ada dimana?" tanya Almeer lemah.


"Pak Almeer mengalami kecelakaan. Setelah sebulan akhirnya Pak Almeer sadar." kata Dokter Almeer.


Almeer berusaha mengingat kembali. Sekelebatan kejadian sebelum dia tak sadarkan diri melintas dibenaknya. Ya dia ingat. Dia menyelamatkan Syfa dari kecelakaan.


Bagaimana dengan Syfa. Apa dia baik-baik saja?" kata Almeer.

__ADS_1


"Kakak nggak perlu mikirin yang lain. Syfa baik. Sekarang kakak harus fokus biar cepet sembuh" kata Nadira


Nadira sangat bahagia. Melihat sang Kakak akhirnya sudah sadar dan membuka matanya.


"Kondisi pak Almeee sudah berangsur membaik. Tapi Pak Almeer tidak boleh diajak berfikir keras dan harus benar-benar rehat. Kalau begitu saya permisi dulu. nanti Dokter Steve akan visit untuk mengecek keadaan pak Almeer." kata Dokter Andre


Dokter pun keluar dari ruang rawat Almeer.


Nadira menghampiri sang Kakak. duduk tepat disamping ranjang sang Kakak. Dengan mata berbinah. Penuh haru nadira berhambur pada sang kakak.


"Jangan nangis dek. Kakak sudah baik-baik saja." kata Almeer menenangkan sang adik.


"Pokoknya kakak harus janji bakal jaga diri kakak." kata Nadira


"Insyaallah." kata Almeer.


"Handphone Kakak Mana dek?" kata Almeer.


"Untuk Apa?" tanya Nadira


"Nggak cuma tanya aja. " kata Almeer


"Ada di dalem laci. Tapi kakak nggak boleh main hp dulu kakak harus pulih dulu. Nanti biar aku aja yang kasih kabar keyang lain" kata Nadira.

__ADS_1


Nadira pun akhirnya menghubungi yang lain untuk memberi tahu kondisi Almeer yang sudah siuman. Almeer tetap tidak mengindahkan perkataan Nadira. Almeer tetap memainkan ponselnya. Nafira melihat sang Kakak yang tidak mengindahkan perkataannya hanya bisa mengehela nafasnya.


__ADS_2