Takdir Cinta Sang Pengantin Pengganti

Takdir Cinta Sang Pengantin Pengganti
Derita Hati Almeer


__ADS_3

Malam makin larut. Almeer terlihat gelisah didalam kamarnya. Suhu tubuhnya menjadi terasa panas. Keringat bercucuran. Tubuhnya gemetar. Raut wajahnya memancarkan ketakutan.


Sekelabat bayang masa kecil hadir. Kepingan potongan masa kelam itu seakan terlihat nyata dihadapannya. Wajah ketakutan semakin kentara.


"Tidak.. Jangan... Jangan bunuh papa.. Jangan tolong. Jangan ambil mata papa. Tidak.. Tidak.. Papa.." kata Almeer sambil menangis.


"Tidak.. Tidak.. Pergi.. Pergi.." kata Almeer ketakutan.


Almeer perlahan berjalan ke teras kamarnya. Melihat kearah luar semua baik.. Namun saat melihat kedalam kamarnya bayang itu terus hadir. Rasanya percuma jika dia bertahan didalam kamar hingga pagi. Hanya akan membuanya tersiksa dibayang-bayang pristiwa tragis malam itu.


Hari semakin larut. Jam didinding menunjukan pukul 11.15 malam. Almeer mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan kamarnya.


Almeer mengendap-ngendap menuruni anak tangga. Dia tidak ingin ada yang melihatnya keluar disaat hari sudah semakin larut. Setelah berjalan perlahan akhirnya Almeer behasil keluar dari dalam rumah. Almeer memacu mobilnya kesuatu tempat yang bisa membuat pikirannya lebih tenang.


Deburan Omabak menghantam bibir pantai. Hembusan angin malam membawa hawa dingin menusuk hingga ke sumsum tulang. Dengan segala pikiran yang berkecamuk Almeer melangkahkan kakinya di tepian pasir pantai. Sapuan ombak membuat setiap langkahnya hilang terbawa arus.


"Aaaaaa......."" Almeer berteriak ditepi pantai menghadap ke laut.


"Papa, Mama, Almeer rindu." kata Almeer berteriak.


"Aaaa...."


Almeer terus meluap kan emosi didalam dadanya. Seakan beban didadanya ikut menghilang.


Merasa Lelah setelah berteriak. Almeer berjalan ketepi pantai. Almeer duduk menghadap laut lepas. Dengan kaki ditekut yang dijadikan untuk tumpuan kepala.


Lagi. Almeer menangis. Perasaannya kacau. Menyesal tidak seharusnya hinggap dihatinya. Dia yang meminta Zafira menjadi isteri sang saudara. Tapi kenapa dia merasa terluka. Kenapa dia tidak bisa bahagia untuk mereka?.


"Mah, Pah. Almeer lelah. Almeer ingin hidup normal seperti yang lainnya. Almeer tersiksa. Mampu kah Almeer terus bertahan menghadapi kehidupan seperti ini?" gumam.


Almeer terus meundukan kepalanya dan menangis.

__ADS_1


"Tidak layak kah Zrin bahagia?" kata Almeer.


Saat sesak itu semakin terasa memberatkN dadanya. Almeer teingat intuk beristighfar. Almeer terus beristighfar berharap mendapatkan pengampuna karena telah menyalahkan takdir yang sudah menjadi ketetpan Allah.


Perlahan perasaan Almeer membaik. Dia sudah jauh lebih tenang dan bisa mengendalikan diri.


Ikhlas dan sabar adalah dua kunci kebahagiaan. Namun nyatanya melakukaknnya tidak semudah memmbalik kan kedua telapak tangan.


Tiba-tiba seseorang berdiri dibelakang Almeer.


"Duduklah." kata Almeer.


orang itu pun duduk disamping Almeer. Tanpa menoleh Almeer sudah tau siapa yang ada disampingnya saat ini. Tercium dari aroma parfumnya yang sudah dangat familliar diindra penciumannya.


"Ini sudah sangat larut. Tidak seharusnya kamu ngikutin Aku. Terlebih kamu seorang perempuan" kata Almeer.


Orang itu diam saja.


"Aku sudah baik-baik saja. Pulanglah. Kamu membutuhkan istirahat. Aku akan kembali nanti" kata Almeer.


"Tidak. Aku akan pulang jika kamu ikut pulang. Titik !. Tidak ada bantahan !" kata orang itu keras kepala.


Almeer diam saja. Rasanya percuma berdebat dengannya.


Mereka terdiam cukup lama. Hampir satu jam lamanya mereka duduk terdiam memandang langit malam. Tanpa ada satupun obrolan lagi.


Setelah dirasa cukup. Akhirnya orang itu memberanikan diri untuk berbicara.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya nya.


"Jauh lebih baik." kata Almeer.

__ADS_1


"Aku rasa keputusanmu kali ini. Lagi-lagi bukan hanya menyakitinya tapi juga menyakitimu. Benar begitu kan?" kata Orang itu lagi.


Almeer menengok kepada orang itu.


"Sampai kapan kamu mau terus berpura-pura dengan hati mu?. Menganggap hatimu baik disaat dia benar-benar hancur" tanya nya lagi dengan sedikit terbawa emosi.


Almeer diam.


"Cukup. Sudah cukup kamu menyiksa dirimu sendiri. Belajarlah untuk berdamai dengan hidupmu. Biar kamu bisa berjuang demi kebahagiaan kamu." kata nya lagi


"Kamu tau caranya?" tanya Almeer.


"Katakan padaku. Bagaimana caranya. Saat semua cara sudah Ku coba. adai melakukannya semudah saat kamu mengatakannya." kata Almeer. Almeer menghela nafasnya.


"Kamu tau? Aku sendiri sudah merasa lelah dan ingin rasanya berhenti dan menyerah. Semua cara Aku coba. Namun mengikhlaskan semua dan berdamai dengan takdir tidak semudah yang Ku bayangkan" kata Almeer.


Kali ini orang itu yang terdiam.


"Kamu tau. Aku selalu saja berandai. Seandainya Aku bisa hidup normal seperti yang laiinnya. Seandainya aku bisa menghilangkan semua rasa traumaku. Mungkin Aku sudah hidup bahagia."kata Almeer.


"Kata orang mencari ilmu ikhlas ada di pesantren tempat kita mengenal agama. Dan aku pun sudah pergi kesana untuk mencarinya dan belajar, tapi belum Ku temukan."


" Kata orang guru terbaik adalah pengalaman. Dan sudah bannyak pengalaman hidup, kepahitan dan air mata. Namun hanya menyisakan trauma. Sekarang apa yang harus kulakukan?" kata Almeer.


"Katakan Hana. Apa yang harus ku lakukan sekarang?!. Disaat luka lama yang tak kunjung mengering harus tergores lagi oleh luka yang baru." kata Almeer


Ya. Orang yang sejak tadi mengikuti Almeer adalah Hana. Sahabatnya. Yang merasa khawatir sehingga memutuskan untuk menginap. Namun saat tengah malam dia mendengar suara orang yang mengendap-endap. Dia tau Almeer lah yang mengendap-endap keluar. Karena dia khawatir dengan keadaan sahabatnya yang sedang sangat terluka. Dia pun mengikutinya.


Hana menangis saat mendengar semua curahan hati sang sahabat. Ini pertama kalinya Dia mendengar secara langsung perasaan sahabatnya itu. Selama ini Almeer tidak pernah mengatakan apapun tentang perasaannya kepada siapapun. Almeer selalu menahan semua beban dan perasaannya seorang diri.


Hanya saja Hana yang memang sangat perduli dan bisa memahami dan mengenal secara baik pribadi Almeer. Sehingga bisa membuatnya tau apa yang saja yang dirasakan dan dipikirkan Almeer. Itu sebabnya tidak heran Almeer menjulukinya 'cenayang' karena Hana memang tau segala hal meski Almeer tidak pernah mengatakannya.

__ADS_1


__ADS_2