
Prov Zafira.
Flashback
Sebulan sudah, pernikahanku dengan Kang Almeer berjalan. Seorang pemuda yang dipilihkan Abi Rahmat untuk ku. Sebagai pengganti Aa Reyhan yang pergi tanpa kabar. Pemuda yang baik menurut gambaran Abi Rahmat.
Tak kusangka hubungan kami mampu bertahan sampai sejauh ini. Sosoknya yang pendiam dan tidak banyak bicara. Cuek namun diam-diam sangat perduli. Apa adanya dan tidak pernah menuntut. Mungkin sosok imam idaman bagi kaum wanita.
Sosoknya yang sederhana, ramah dan suka menolong membuat orang begitu mudah menyukainya. Bahkan sering ayah dan bunda memujinya. Hampir setiap malam dia selalu menyempatkan mampir kepenjual makan untuk dibawa saat pulang. Dan dia juga selalu menyempatkan untuk menemani ayah menonton bola, walau sangat terlihat jika dia tidak menyukai bola.
Selepas sholat Isya berjamaah, Aku pergi kekamar. Entah kenapa malam ini aku tidak ingin makan nasi. Rasanya aku ingin sekali makan Baso Cuanki emperan dekat Alun-alun. tapi mengingat sudah malam dan sebentar lagi Kang Almeer datang rasanya nggak mungkin juga Aku pergi malam-malam. Dan nelpon Kang Almeer untuk membelikannya juga tidak enak. Biarlah Aku tahan sampai besok. Aku akan ajak Syfa dan Kiya makan baso cuanki besok sepulang mengajar ngaji.
Jam sudah menunjukan pukul 10.00 malam. Namun Kang Almeer belum juga pulang. Aku yang sambil mengerjakan tugas kuliah menunggunya harap-harap cemas. Tidak seperti biasanya Kang Almeer pulang selarut ini tanpa memberi kabar. Aku pun tidak bisa konsentrasi menyelesaikan tugas karena menunggu Kang Almeer.
Tok..tok.. Tok..
"Assalamualikum.." terdengar suara Kang Almeer dari balik pintu.
"waalaikum salam." jawabku.
Aku pun segera beranjak untuk membukakan pintu. Setelah ku buka pintu terlihat Kang Almeer yang sedang kerepotan membawa nampan berisi satu buah mangkok berisi baso dan 2 gelas kosang dan 1 teko berisi air putih. Aku yang melihat Kang Almeer membawa semangkok baso cuanki heran , bagaimana bisa sangat pas seperti yang Aku inginkan. Apakah Kang Almeer punya indera ke-6 sehingga bisa tau apa yang Aku inginkan.
Aku yang melihatnya kerepotan meminta nampan itu untuk Aku bawa. Namun Dia menolaknya dan hanya meminta Aku membukakan pintu kamar saja. Kang Almeer masuk dan meletakan nampan tersebut dimeja. Aku masuk dan mengunci pintu kamar. Aku pun mengulurkan tangan untuk bersalaman mencium tangannya.
"Kamu belum Tidur?" kata Almeer
"belum Kang. Nunggu Akang sambil ngerjain tugas kuliah" kataku.
"maaf ya pulang nya telat" kata Kang Almeer.
"tidak seperti biasanya Akang tidak memberi kabar saat akan pulang terlambat. Fira risau terjadi sesuatu ke Akang." kata Fira.
"maaf, seharian ini Akang ninjau lapangan. Jadi tidak sempat Charger hp. Makanya hp nya low." kata Kang Almeer
__ADS_1
"Iya Kang. Akang sudah pulang saja Fira sudah tenang" kataku.
"oh iya, tadi Akang pulang nya lewat Alun-alun. Akang mampir sebentar beli Baso cuanki. Tadi sudah Akang hangatkan sebentar sebelum ke dibawa kesini. Kamu makan ya. Akang mau bersih-bersih badan dulu." kata Kang Almeer
"sebentar kang. Biar Fira siapkan lagi air hangatnya. Air yang Fira siapkan tadi sudah dingin" kata ku. Lalu berjalan ke kamar mandi.
Sementara Aku menyiapkan air hangat, Almeer melihat kearah tempat tidur yang berserakan buku-buku. Sepertinya Fira tidak bisa konsetrasi mengerjakan tugasnya. Terlihat banyak coretan dibukunya dan beberapa kertas yang disobek karena mungkin jawaban tugasnya salah.
Kang Almeer pun mandi. Setelah itu Kang Almeer melaksanakan Sholat Isya. Aku terpana melihat Aura Kang Almeer yang sedang khusyuk sholat. Entah kenapa aku merasa damai saat memandanginya. Risau rasanya saat dia tidak ada dihadapanku. Kini rasa risau itu hilang saat wajahnya bisa ku pandangi.
Ya Aku jatuh cinta. Aku sudah jatuh cinta pada sosoknya yang penuh perhatian dalam sikap diamnya. Laki-laki yang sudah tinggal dalam satu kamar yang sama selama satu bulan ini. penuh lemah lembut, perhatian, dan sangat bertangung jawab. Tidak pernah sekalipun egois dan bahkan selalu mementingkan kepentingan ku dan kelurgaku diatas kepentingannya.
Kang Almeer sudah selesai sholatnya. Dan tak sadar bahwa selama dia sholat aku terus memperhatikannya. Aku yang kepergok Kang Almeer yang sedang memperhatikannya merasa kikuk. Kang Almeer tersenyum. Senyum yang sangat menawan yang membuatku terpesona. Yang semakin manambah ketampanannya. Ya Aku memang suamiku sangat tampan, baik, dan juga perhatian.
Kang Almeer menghampiriku dan duduk tepat disampingku. Aku menyambut tangannya dan mencium tangannya.
"kenapa belum dimakan basonya? Apa nggak enak?" tanya Kang Almeer.
Aku pun mulai menyendokakn baso tersebut. Dan pertama Aku memberikannya ke Kang Almeer. Walau sedikit sungkan aku memberanikan diri untuk menyuapinya. Namun Kang Almeer hanya menatapku.
Deg..
Hatiku bergetar saat ditatapnya sedekat ini. Dan hal ini membuatku semakin kikuk. Jarak ini semakin dekat dan sangat dekat. membuat wajahku seakan panah. Mungkinkah Kang Almeer mau menci*m ku?
Namun terasa tanganku ada yang memegang. Dan hap. Sendok yang berisi basopun masuk kedalam mulut kang Almeer. Sambil mengulum senyum Kang Almeer memakannya.
Bodoh. Sungguh bodoh. Aku merutuki kebodohanku. Bagaimana bisa aku berfikir jika kang Almeer akan menci*um ku. Sungguh malu rasanya mengingat pikiran bodohku ini. Semoga saja Kang Almeer tidak membaca pikiranku.
"enak. Rasa Basonya 10 kali lebih enak dari biasanya" kata Kang Almeer.
Dahiku mengkerut. Tidak mengerti maksudnya
"karena makan dari tangan Kamu." kata Kang Almeer.
__ADS_1
Sontak saja pipiku merona. Tidak ku sangka Kang Almeer akan mengatakan itu. Dia menggombal.
"Fir,kamu nggak apa-apa kan?. Kenapa pipi kamu merah?" kata Kang Almeer masih terus menggodaku.
Aku malu. Bisa-bisanya kang Almeer menggodaku. Aku memalingkan wajahku. Berharap Kang Almeer tidak akan melihat wajahku yang seperti ini.
Ku biarkan Kang Almeer mengambil sendoknya dari tanganku. Karena untuk menyuapinya lagi rasanya aku tidak akan sanggup. Namun tiba-tiba tangan kang Almeer menyentuh pipiki. Dan membuatku kembali menengok kearahnya. Dia menyodorkan seseondok baso kehadapanku.
"gantian." kata Kang Almeer
Aku masih diam
"makan dari tangan orang lain rasanya akan jauh lebih enak. Ayo" kata Kang Almeer terlihat meminta
Akupun membuka mulutku dan memakannya. Memang benar makan disuapi rasanya lebih enak. Terlebih disuapi dengan penuh kasih sayang oleh orang yang kita cintai. Alhasil kami makan berdua. Kami saling mennyuapi satu sama lain. Hingga semangkok baso cuanki itu pun tandas.
"Sekarang Aku bantuin Kamu kerjain tugas kampus. Aku tau kamu nggak bisa konsen gara-gara aku yang terlambat pulang. Sekarang gantian biar Aku bantu." kata Kang Almeer
Akhirnya Aku bisa mengerjakan tugas kuliah dengan penuh konsentrasi. Dibantu oleh kang Almeer yang menjelaskan beberapa materi semakin mempermudah Aku menyelesaikannya. Hanya dengan 30 menit tugas kuliahku akhirnya selesai. aku pun merapihkan semuanya.
"Akang mau kemana?" tanyaku saat melihat Kang Almeer hendak keluar kamar.
"kenapa?" tanya Kang Almeer.
"ini sudah malam. Akang jangan tidur diluar ataupun disofa. Akang tidur disini disamping Fira" kata ku
Kang Almeer terlihat berfikir sejenak. Dan Kang Almeer pun menurut. Dia berjalan kearah tempat tidur.
Ya setelah kupikirkan matang-matang sudah saatnya kami memulai hubungan ini menjadi seperti seharusnya. Dia suamiku dan Dia berhak atas Aku. Dan jika memang Dia menginginkan Aku maka Aku akan melakukan kewajibanku dengan sepenuh hatiku.
Kang Almeer naik ketempat tidur. dan merebahkan badannya. Walau aku sendiri merasa deg-degan karena untuk pertama kalinya ada laki-laki yang tidur ditempat tidurku. Kami akan tidur di tempat tidur yang sama. Walau dia suamiku dan dia sangat berhak namun kenapa rasa grogi ini tidak bisa hilang.
Kang Almeer pun mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.
__ADS_1