
Prov. Ali
Perasaanku menjadi tidak karuan sekarang. Rasanya percuma jika Aku paksakan untuk mengerjakan pekerjaanku. Hanya akan membuat pekerjaan berantakan. Ku putuskan untuk pergi keluar mencari udara segar.
Disinilah aku berada sekarang. Duduk ditaman kota. Merenung, dan mengenang. Kulihat banyak anak-anak jalan yang sedang beristirahat sebentar duduk dibawah pohon sambil memakan sebungkus nasi yang dimakan bersama-sama.
Teringat 17 tahun lalu. Masa sulit untuk kami para anak panti. Yang berjuang bersama untuk bisa bertahan hidup setelah ditinggal oleh ayah yang harus kalah oleh penyakitnya. Dan ibu terus berjuang mencari uang untuk melunasi hutang yang digunakan untuk pengobatan ayah. Yang nyaris membuat kami harus hidup luntang lantung dijalan.
Hingga kak Zein datang dihidup kami. Anak kecil yang memiliki kemampuan luar biasa. Kami tidak menyangka anak kecil usia 9 tahun memiliki kecerdasan yang amat sangat luar biasa. Usahanya dan kerja kerasnya yang mati-matian siang malam akhirnya mampu mengeluarkan kami dari lilitan hutang.
Bukan hanya melepaskan kami dari lilitan hutang. Namun kemampuannya yang luar biasa membuat kehidupan kami dan rumah panti berubah 100 persen. Aku ingat betul kerja keras Kak Zein siang malam. Dia terjaga dimalam hari untuk kami. Bahkan disaat kondisinya yang terburuk pun dia selalu mementingkan kepentingan kami diatas kepentingannya.
Hal yang paling Aku syukuri seumur hidupku adalah pertemuan Ku dengan Kak Zein. Dan beruntung bisa menjadi adik angkatnya. Layaknya Kak Zein yang selalu mementingkan kepentingan Kami. Aku pun berjanji seumur hidupku akan selalu setia dan mendahulukan kepentingan Kak Zein dibandingakan kepentinganku.
Aku teringat satu permintaan Kak Zein saat dia meminta bantuan agar aku bisa menemukan adiknya yang sangat dia sayangi. Dan setelah Aku berhasil menemukannya aku merasa sangat bahagia karena bisa melakukan hal kecil untuk kak Zein.
Rasanya bahagia bisa membuat Kak Zein bahagia. Itu sebabnya saat Kak Zein memintaku untuk menjaga Nadira Aku tidak berfikir panjang untuk langsung menyetujuinya. Karena apapun akan Aku lakukan untuk Kak Zein.
Hingga hal ini membuatku semakin dekat dengan Nadira. Kakak beradik ini memiliki persamaan. Keduaanya memiliki sifat yang hampir sama. Sama sama pekerja keras, Keras kepala, baik, suka menolong, cuek, dan tidak pernah mau dianggap lemah apalagi dikasihani oleh siapapun.
Hingga berada didekat Nadira membuatku merasa seperti memiliki adik. Seperti keluarga layaknya saat bersama dengan Kak Zein. Rasa ingin selalu melindunginya. Menjaganya dan tidak ingin terjadi sesuatu dengannya. Namun sayangnya hal ini membuat Nadira membenciku.
__ADS_1
Aku yang terlalu takut tidak bisa menjaganya membuatku tanpa sadar berbuat berlebihan. Sehingga membuat nya merasa terkekang. Membatasi ruang geraknya. Hingga akhirnya dia yang jenuh pun mulai menunjukan sikapnya yang berontak karena terkekang.
Sekarang yang Aku rasakan adalah ketakutan. Katukan akan rasa benci Nadira kepadaku. Aku tidak bisa membayangkan gimana rasanya menahan setiap kebencian dari Nadira. Rasanya ketakutan dibenci Nadira sama rasanya dengan ketakutan kehilangan Kak Zein.
'ya Allah apa yang harus aku lakuin sekarang' batinku
tanpa terasa sudah hampir 3 jam aku berada ditaman. Jam sekarang sudah menunjukan pukul setengah lima sore. Aku harus segera ke bandara untuk menjemput. Nenek, kakek dan Kak El yang tak lain keluarga Kak Zein yang sudah berhasil ditemukan.
Dibandara setelah hampir setengah jam aku menunggu diperon kedatangan akhirnya mereka muncul. Aku segera menghampiri mereka. Nenek dan kakek yang sudah tua masih terlihat segar dan sehat. Dan Kak El juga sangat tampan dan gagah wajahnya hampir mirip dengan Kak Zein. Ini kali pertama kami bertemu secara langsung.
"assalamualaikum nek. Kek, kak El. Selamat datang di indonesia" kata ku menyambut kedatangan mereka.
"kamu pasti Ali kan? Adik angkatnya Zein, benar?" kata kakek berusaha menebak.
"ah kamu ini bisa saja." kata kakek senang
"sudah jangan terlalu memuji kakekmu itu. Nanti dia terbang karena terlalu dipuji" kata nenek
Aku tersenyum dengan komentar nenek.
"bilang saja kamu iri karena satu cucu mu ini hanya memujiku. Iya kan?" kata kakek.
__ADS_1
Senang rasanya melihat mereka yang terlihat harmonis, perdebatan kecil membuat mereka semakin terlihat romantis dan harmonis.
"emm.. Nenek juga sangat cantik kok. Bahkan ya kecantikan Nenek itu bukan hanya menghipnotis kakek. Tapi Aku juga juga jadi terpana. Kalau diizinin ya sama Kakek, Aku mau kok jadi pendamping nenek. Gimana kek apa aku boleh jadi pendamping nenek?" kata ku yang ikut merayu nenek dan menggoda kakek.
"ehh.. Dasar bocah semprol. Enak aja. Ini itu isteriku tercinta. Biarpun sudah tua dan keriput tetap Kakek cinta mati sama wanita tua ini" kata kakek
Nenek tersipu malu. Aku dan kak El pun tersenyum melihat keromantisan pasangan tua ini. Sungguh indah sekali. Semoga saja kelak aku bisa mendapatkan pasangan seperte mereka. Yang saling mencintai hingga tua dan bahkan sampe maut memisahkan.
"oh ya cucu cantik Nenek mana? Apa dia tidak ikut?" tanya nenek yang mencari Nadira.
"Nadira masih dikantor nek. Tadi Aku jemput kalian sengaja tidak kasih tau. Niatnya sih mau kasih surprise nanti dirumah nek." kataku mencoba mencari alasan yang logis.
"oh ya sudah ayo. Tunggu apa lagi kita pulang sekarang" ajak Kakek dan Nenek dengan semangat.
Hal yang lumrah di ibu kota dengan kemacetan. Hampir 2 jam kami terjebak kemacetan. Sehingga membuat kami sampa dirumah pukul 7 malam. kedatangan kami disambut oleh pata pelayan dan pekerja kebun. Sepertinya Nadira masih mengaji didalam kamarnya. Terdengar samar-samar suara Nadira yang sedang tadarusan.
Setelah memperkenalkan mereka dengan para pelayan dirumah ini. Aku pun mengantar Kakek dan Nenek kekamar mereka yang ada dilantai bawah. Sedangkan ka El dilantai atas. Sementara menunggu mereka keluar membersihakan diri Aku membantu si bibi menyiapkan makanan dimeja makan.
Tak berapa lama Nadira keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur. Aku yang melihatnya mencoba menyapanya. Dan berusaha untuk meminta maaf. Tapi sayangnya Nadira masih enggan untuk berbicara denganku.
Semua sudah berkumpul dimeja makan. Setelah sebelumnya suasana menjadi haru karena pertemuan dua keluarga yang sudah berpisah sejak lama. Senang rasanya bisa melihat Nadira kembali berkumpul dengan keluarganya. Dan kini suasana dimeja makan tidak lagi sepi seperti sebelumnya. Kini terdengar obrolan ringan, saling cerita.
__ADS_1
Berulang kali aku berusaha meminta maaf pada Nadira. Tapi dia seperti enggan berbicara apapun denganku. Apakah Nadira sekarang membenciku?. Aku terus berusaha agar tidak berfikir buruk. Aku akan terus berusaha agar Nadira kembali bicara denganku.
Karena hari yang sudah semakin larut Aku putuskan untuk berpamitan kepada mereka. dan lagi-lagi Nadira kembali terlihat tidak perduli. Dengan menghela nafas aku pun berjalan meninggalkan rumah.