
Prov Nadira.
Dengan perasaan kesal Aku kembali kekantor. Wajah yang ditekuk membuat para karyawan lain enggan untuk sekedar bertanya pada ku. Aku pun masuk kedalam ruangannya. Melampiaskan segala kekesalan dihatiku selama ini.
Rasa kesal yang sudah bertumpuk didalam hatiku. Yang selama ini Aku tahan kini sudah tidak terbendung lagi. Berulang kali Aku bicara dengan Ka Zein untuk berbicara dengannya. Agar memberikan sedikit ruang agar Aku bisa melakukan apa yang Aku mau. Namun tetap tidak berhasil. Kak Ali selalu saja mengaturku untuk segala hal.
Walau kak Zein memberikan kebebasan untuku melakukan hal yang aku mau. Tapi Kak Zein tetap bersikeras agar Kak Ali tetap menjagaku. Namun menurutku dengan meminta Kak Ali mengawasi dan menjaga ku itu sama saja membuatku seperti hidup dalam sangkar mas. Tetap terkurung dan tidak bebas. Terlebih sikap Kak Ali yang overprotektif membuat ruang gerakku terbatasi. hingga setiap teman baru ku selalu diawasi dan dicurigai.
Untuk mengalihkan rasa kesalku. Aku memutuskan untuk mengerjakan pekerjaanku. Saat sedang memeriksa laporan ada seorang yang mengetuk pintu ruanganku. Aku sengaja mengabaikannya. Karena Aku tau siapa orang yang mengetuk pintu ruanganku.
Karena tidak ada jawaban dari ku. Membuat orang yang mengetuk pintu menerobos masuk kedalam. tepat seperti dugaanku Kak Ali masuk. Aku yang masih marah sengaja mengabaikan kehadiran Kak Ali. Tetap fokus dengan pekerjaanku. Kak Ali duduk tepat dihadapanku.
Aku terus mengabaikannya. Dan Kak Ali terus memperhatikan ku. Lama kelamaan Aku pun merasa tidak nyaman dengan posisi seperti ini.
"Jika tidak ada kepentingan bisakah meninggalkan ruangan saya Pak Ali yang terhormat?!" kata Ku sambil tetap mengerjakan pekerjaaannya.
Mendapati sikap Aku yang ketus,Tetap tidak menyurutkan niat Ali.
"Aku kesini bawa makanan buat Kamu. Tadi kamu makan sedikit. Jadi makan lah. Takutnya asam lambung kamu naik" kata Kak Ali penuh perhatian.
"Terimakasih. Tapi Saya sudah kenyang. Dan Saya minta pada Pak Ali yang terhormat untuk meninggalkan ruangan Saya. Karena saya merasa tidak nyaman saat ini" kata ku dengan tegas.
__ADS_1
"Aku minta maaf atas sikap Aku tadi. Tapi aku nggak akan pergi sebelum kamu makan" kata Kak Ali dengan menyodorkan makanan ke hadapan ku.
"sampai kapan sih Kakak mau kayak gini. Aku capek ka. Kakak terus aja ngatur-ngatur Aku. Aku bukan anak kecil ka. Aku bisa urus hidup Aku sendiri." kata Nadira.
"Kamu adiknya Kak Zein. Dan Ka Zein titip Kamu ke aku. jadi Kamu itu tanggung jawab Aku. Apapun yang ada hubungannya sama Kamu sudah sepantasnya Aku tau." kata Ali bersikeras.
"Stop.! Udah berulang kali Aku bilang Kakak bukan siapa-siapa Aku. Ya emang Kakak itu adik angkatnya Kak Zein tapi bukan berarti kita juga punya hubungan. Inget kita nggak ada hubungan apapun. Jadi tolong kakak harus tau batasan." kata Nadira dengan emosi
"makan." titah Ali dengan aura yang tegas.
"nggak mau. Aku bilang berhenti urus hidup Aku" kata Nadira bersikeras tidak mau kalah.
Nadira semakin naik pitam. Dia tidak bisa membendung lagi rasa kesalnya. Dia bawa makanan tersebut. Lalu dia berjalan keluar pintu dan menemukan seorang OB. Lalu dia memberikan bungkusan makanan itu pada OB tersebut. Dan kemudian kembali menghadap Kak Ali.
"Pak Ali yang terhormat sudah waktunya jam kerja. Saya minta dengan hormat pada Pak Ali untuk keluar dari ruangan saya. Karena saya ingin melanjutkan pekerjaan saya. Dan saya merasa terganggu jika Bapak masih ada diruangan saya. Silahkan pak" kata Nadira yang mengusir Ali.
Ali pun menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dengan terpaksa dia akhirnya mengalah. Melihat emosi Nadira yang sudah mulai tidak terkontrol. Dia tidak ingin memancing perhatian yang lain dengan perdebatan mereka. Ali pun keluar dari ruangan Nadira.
Setelah Kak Ali keluar. Aku kembali duduk dibangku kerjanya. Sungguh sebenarnya dia juga merasa dirinya sudah betindak terlalu tegas dengan Kak Ali. Namun Aku sudah benar-benar muak dengan semua tingkah Jaj Ali yang terus mengaturnya.
Aku mengingat semua sikap Kak Ali selama ini. Dia yang terus mendikte ku akan segala hal. 'Nadira kamu harus ini. Nadira kamu nggak boleh begini. Nadira kamu harus begitu. Nadira kamu nggak boleh begitu. Dan masih banyak lagi. Aku tau dia melakukannya untuk kebaikanku. Tapi Aku juga tau apa yang harus aku lakuin dan nggak boleh aku lakuin.
__ADS_1
'Kak Zein. Kakak kapan pulang sih?. Aku kangen banget sama kakak. Aku lebih suka Kakak yang jagain Aku dari pada Kak Ali. Kakak yang paling bisa ngertiin Aku.' batinku menangis menahan kerinduan pada sang kakak Zein.
Prov Nadira end.
Berbeda dengan Ali. Ali kembali ke dalam ruangannya denga perasaan yang bercampur aduk. Kesal, marah dan khawatir pada Nadira. Bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Selama ini memang Nadira selalu protes dengannya yang selalu ada disekitarnya.
'Tidakah kamu mengerti aku melakukan ini karena kamu itu penting buat aku' batin Ali.
Ali terlihat frustasi. Mengingat sikap Nadira yang begitu kasar padanya tadi. Sungguh sakit rasanya mendapat perlakuan seperti itu. Kata-kata kasar itu terus terngiang diotaknya. Selama ini Nadira tidak pernah berlaku kasar. Walau dia sering protes dengannya tapi dia tidak pernah berlaku kasar.
'apa kali ini aku sudah sangat keterlaluan?' tanya Ali
Ali kembali teringat akan wajah Nadira tadi. Tatapannya yang penuh amarah dan kebencian sangat terlihat. Semoga saja itu hanya amarah sesaat. Sungguh Ali tidak bisa membayangkan kedepannya akan seperti apa jika Nadira benar-benar membencinya selamanya.
'andai Kamu tau Dira, jika selama ini yang aku lakuin bukan semata-mata karena Ka Zein. Tapi karena rasa sayang Aku ke Kamu. Aku Cinta sama Kamu dan Aku terlalu takut terjadi sesuatu denganmu. Makanya Aku begitu menjagamu.' batin Ali lagi
'bagai mana nanti hidup aku jika yang kamu rasa ke Aku hanya kebencian. Aku tidak sanggup jika terus menghadapi kebencianmu.' kata Ali
Rasanya memikirkan hal itu membuat Ali diliputi rasa takut. membayangkan nya saja membuat Ali begitu menderita. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi. Rasanya dia lebih baik kehilangan jabatannya dari pada harus melihat kebencian dimata Nadira untuknya.
Ali yang frustasi memikirkan sikap Nadira tadi membuatnya tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Merasa sters akhirnya Ali memilih keluar dari ruangannya.
__ADS_1