
Radit benar benar panik,hanya bisa menatap sang pujaan hati yang terbaring dengan suhu dingin
"Letnan,kita gunakan gerobak untuk mengangkut yang terluka"Hasan memberi ide
Radit mengangguk,dia benar benar tak bisa berfikir
Setelah Kapten Rio dan Putri di baringkan giliran Almira juga dibaringkan
"gerobak terlalu kecil,miringkan saja Letnan"Hasan berbisik pada Radit yang hanya bisa mengangguk
Mereka menuruni lembah ,dengan 4 tawanan yang berhasil mereka tangkap
Sementara itu di sebuah Ruangan yang redup tampak Dewa memeriksa ponselnya
Erangan Keira tersengar pelan
"ada yang sakit sayang?"Dewa mendekati istrinya
"aku mau miring mas,punggungku panas"
Dewa sigap membantu membiarkan sang istri dengan posisi nyamannya mengelus punggung Kiera dengan penuh sayang
Kepala Kiera menyusup dilengan Dewa dan sesaat terlelap. Dewa mengangkat kepala sang istri dari atas tangannya dan tak sengaja tersenggol area dada Kiera yang tampak mengembung
Dewa menyadari bagian depan dada istrinya basah
Dia ragu untuk membangunkan Kiera yang tampak sudah terlelap,
Dewa segera keluar kamar
Hampir saja dia bertabrakan dengan Hadi
"ada apa?"
"ini rumah sakit,harap tenang"Hadi berkata sambil merapatkan jaketnya
"kau belum pulang?"
"ibu negara mengizinkanku menemanimu"
"oh baguslah"
"Hadi tampaknya baju istriku selalu basah"
Dewa berkata ragu
"namanya juga wanita habis melahirkan,apapun bisa terjadi"Hadi menjawab asal dan duduk kembali di sofa penunggu pasien
"ini selalu basah Hadi"Dewa menekankan
"hmmm,mungkin ASI nya sudah menumpuk"
"lalu aku harus apa?"
__ADS_1
"membersihkan ASI bagaimana?"
"aku tak tega membangunkan Keira."
"Hadi ..bangun" Dewa meninju ujung lengan Kapten Hadi
Hadi yang terkejut melotot
"hei...kau melakukan KDRT tau"Hadi ngedumel
"bukan kita para bapak bapak yang membereskan"
katanya lagi sambil menarik selimut
"cepat panggil perawat"Hadi melambaikan tangan kembali tidur
Dewa bergegas menuju nurse station.
Beberapa saat kemudian Dewa hadir bersama seorang perawat
"dokter Keira,izinkan saya periksa *********** ya"
Kiera menganguk pelan dengan menurut membiarkan perawat memeriksanya
"ASInya banyak dokter,apa mau di coba menyusui?"
Keira menatap bingung
"bisa ya dokter kasian jagoannya"perawat itu masih membujuk
Kiera mengangguk
"tapi badanku lengket"
"saya bantu lap ya sekalian ganti baju"
Kiera menurut.
"Biar aku bebersih sendiri"akhirnya Keira menjawab pada akhirnya
"bisakah?"Dewa bertanya khawatir
"bisa" yakin Keira
"baik dokter,saya bawakan jagoannya ke sini"sang perawat meninggalkan kamar Keira
Dewa membantu Kiera dengan sigap
"mas diluar saja,aku bau"Kiera menutup tubuh bagian depannya
Dewa malah mendekat dan mencium pipi Kiera
"harum gini koq dibilang bau"senyum Dewa terkembang
__ADS_1
Mata Dewa sekilas melihat betapa payudara sang istri kencang dan penuh
"sakitkah?"
Kiera menggeleng
"bisa kutahan"
Dewa mengancingkan blues yang dipakai Kiera
"tolong sisir rambutku mas"
"siap"Dewa menyisir dengan sigap
diakhiri kecupan di puncak kepala beberapa kali
Kiera mengeluh
"aku bau mas"
Dewa makin melanjutkan aksinya
Kiera tersenyum malu
"ehem..dokter siap menyusui?"
seorang perawat datang bersama putra kesayangan Kiera
"aku sudah sudah siap?"tanya Kiera ragu
"tentu"Perawat itu mendekai Kiera memposisikan bayi itu tepat di hadapan Kiera
Sesaat kemudian Kiera terkesiap saat mulut bayi tampan itu mengulum pelan dan berubah menjadi sedotan kuat karena rasa haus
Dewa memandang perubahan wajah Kiera
"sakitkah?"
"perih mas,luka diperutku juga terasa berdenyut"
Dewa hendak mengangkat putranya namun di tahan Kiera
"kalau begitu ,pria kecil ini harus di hentikan"Dewa berkata kesal
"tapi aku bahagia,aku mampu menahan rasa tak nyaman untuk putra kita"Kiera menahan tangan Dewa
Perawat mendekati
"dokter Hebat,pastikan posisinya nyaman ya agar punggung dokter tak sakit
Kiera mengangguk
matanya menatap putranya dengan kerinduan demikian pula Dewa yang takjub melihat pemandangan di depannya
__ADS_1