
Suara pintu di dobrak membuat Almira terlonjat dan reflek bersembunyi dibalik tubuh Radit.
Radit menatap tajam ke arah 3 orang lelaki yang menodongkan senjata pada mereka.
"keluar,cepat!" teriak orang2 bersenjata yang menggiring Radit dan Almira keluar kamar.
Di ruang aula tampak para tamu sudah terkumpul dengan tangan terikat.Seorang wanita tambun tampak terduduk dengan luka bekas pukulan.Radit dipaksa duduk di sebuah kursi dan diikat kencang tangan dan kakinya.Almira di tempatkan di samping Radit dengan tangan terikat juga,beberapa tamu tampak ketakutan dan disiksa saat di interogasi.
Tiba giliran Radit dan Almira di introgasi,mereka berdua ditarik masuk sebuah ruangan.Tampak Pria dengan pakaian berwarna merah marun menghampiri
"apa kalian kenal Kapten Rio?"
Almira terkejut namun Radit tampak bingung fan menggelengkan kepala
Pria berpakaian merah itu tersenyum penuh arti
"tapi gadis ini tampaknya mengenal nama Kapten Rio."
Almira menelan ludah ,pria tersebut mendekati sambil mengambil cemeti
"kau mau bercerita sendiri atau perlu aku bantu?"
Almira terdiam
Radit tampak khawatir menatap wajah Almira
Pria itu mengayunkan cemetinya pelan ke arah pipi Almira
"bisa kita mulai nona?"
Almira terdiam melirik pada Radit
" aku tidak tau apa maksud anda tuan."
Almira berkata setenang mungkin
"hmm...hmm...begitu rupanya."
Cetar...sebuah sabetan mengenai lengan Almira
Almira meringis menahan rasa panas yang meninggalkan nyeri seperti merobek kulitnya
__ADS_1
"apa masih belum ingat?"
"aku tidak tau."jawab Almira lagi
Cemeti siap melayang mengarah pada wajah Almira.Radit bergegas berteriak
"aku kenal,stop jangan sakiti dia."
Cemeti terhenti di udara
"well,kau akhirnya bersuara."
"lepaskan mereka semua,introgasi saja aku."Radit berteriak
"kita lihat seberapa baik kisahmu."
Radit menatap Almira yang terkulai lemas,menatap pria itu tanpa berkedip.
"kita mulai saja"tawa pria itu mengarah ke hadapan Radit
"sebelumnya lepaskan para sandera,silahkan interogasi saya"pinta Radit tegas
"kau bukan dalam posisi memberi perintah tuan."
Radit bergeming
cetar....tiba2 cemeti mendarat di dada Radit Almira berteriak melihat kejadian itu
Radit terdiam
"ini baru pemanasan,aku tak punya waktu banyak segera katakan."
Almira sudah terdengar terisak disudut ruangan
Radit tetap terdiam namun ekor matanya menangkap wajah pria pengantar nasi goreng diantara pasukan sang pria bercemeti
"baik,aku mengenal Kapten Rio,dia adalah salah satu anggota pasukan khusus TNI."
Pria di depannya menahan geram dan amarahnya
"dimana keberadaan Kapten Rio?
__ADS_1
"aku tidak tau." elak Radit
Cemeti segera melayang ke pipi Radit namun tiba2 pintu di dobrak paksa oleh pasukan berseragam hitam
mereka segera menangkap dan membebaskan sandera
"Letnan Radit bertahanlah."Pria pengantar nasi goreng memapah Radit
"aku baik2 saja Kapten."
Sang pria tersenyum simpul
"anda benar2 pasukan khusus sangat survive!"
Radit berdiri dan segera ke arah Almira
Almira segera berhambur kepelukan Radit
"hu..hu...
Radit terkesiap menahan tubuh Almira dan isakan gadis itu di dadanya
"dokter please kau tidak malu jadi tontonan?"
Almira bergeming malah mengeratkan pelukan
Sementara pria yang memehang cemeti berhasil dilumpuhkan
"bawa mereka ke markas .lakukan itrogasi segera."
"siap komandan."
Sang polisi mendekati Radit dan mengulurkan tangan menjabat tangan Radit yang bebas dibelakang punggung Almira
"Hasan"
"Radit"
Hasan memberi lambaian tangan
"urus pacarmu dia hampir pingsan melihat mu di siksa."
__ADS_1
Radit mengangguk kebingungan.