
Disebuah Restoran tampak Radit menunggu dengan gelisah
Dia beberapa kali melirik jam hitam di tangan kirinya.
tiba tiba Sebuah pukulan menghatam punggungnya
"letnan,kamu benar2 kurang ajar"tampak Almira dengan penuh amarah meneriaki Radit
"dokter ada apa?"
"malu...lihat kau jadi pusat perhatian"Radit mengingatkan sambil berusaha menyuruh Almira duduk.Almira yang memang dasarnya pemalu langsung tersadar dan duduk di hadapan Radit
"ada apa ?"
"bicarakan baik baik"pinta Radit
Saat mulai bicara Almira malah terisak Radit menjadi bingung.Bisa bisanya dokter galak pujaan hatinya menangis terisak
Radit hanya bisa diam dan memberikan sapu tangannya.
"kotor,banyak kuman"Kata Almira di sela2 isakannya
Radit menahan tawa
"iya belum sempat ku cuci,tapi kan ini bekas ingusmu juga sebelumnya"Radit menerangkan tanpa rasa bersalah
Almira melotot
"kalian tentara begitu miskinya sampai ga bisa pakai jasa laundry"desisnya
Radit mengangguk memasang wajah tak berdosa
Almira menarik nafas dan menaruh ponselnya di hadapan Radit ,tampak foto Almira sedang memeluk Radit diatas tempat tidur
Radit terdiam
Dia benar benar harus mencari kata kata yang tak membuat Almira tersinggung
"aku ga mungkin kan memelukmu?"
glek...Radit mengangguk terpaksa dan segera meralat
"begini dokter,sebenarnya kita berdua tak salah"
Almira melotot kembali
"mungkin lebih banyak aku yang salah"
__ADS_1
"maaf"
"aku terlalu lelah hingga tertidur dikamar jagamu"Radit mengakui dengan tulus
"aku jadi bahan gosip di departemem bedah"
"aku malu"
"barusan sudah sampai Lobby depan"jawabnya pelan
"apa yang sampai lobby depan?"
"gosipnya Letnan,kau itu bodoh ya?"
"ooh..iya. iya"
"dokter istirahatlah, nanti aku akan jelaskan pada teman2mu"
"benar?"
"tentu"Radit menganggkat tangan dengan simbol promise dia harus memaksa Almira kembali keruangannya karena Hasan sudah tampak di pintu Restoran
"ok,aku tunggu ya"
"siip,maafkan aku ya dokter"
Radit berdiri dan melambai pada Hasan yang tampak mencarinya
"selamat sore Kapten"
"sore"
"apa kabar letnan?"
"alhamdulillah baik Kapten"
"silahkan"
Hasan duduk dihadapan Radit
"mau order apa Kapten?"
"cukup kopi hitam saja"
"baik"Radit memanggil pelayan dan memesan 2 kopi hitam
"langsung saja Letnan,aku baru menerima Fax bahwa Billy Morgan dibebaskan dibantu 12 pengacara kondang"Hasan menyesap kopinya
__ADS_1
"sudah kuduga"Radit menjawab
"tak apa Kapten,seperti pesanku bisakah kau usahakan?"
"no problem,walau aku harus mempertaruhkan ktedibilitasku"
"bismillah niatkan menumpas kejahatan"Kata Radit yakin
Hasan tersenyum kecil tak menyangka anak buah Kapten Dewa sangat heroik
Keira menyambut Dewa dengan berseri
"sayangku kemarilah"sambil menepuk disisi tempat tidur
"ada apa ?"Dewa mengenggam tangan Keira erat
"1 jam lagi aku akan masuk kamar operasi"Keira menutup mulut Dewa yang sudah terbuka dengan telunjukknya
"dengarka ,putera kita sudah tak sabar bertemu ayahnya"Keira berkaca kaca
"jika terjadi sesuatu"Keira makin menekan telunjuknya saat Dewa terlihat gusar
"tolong pilih putera kita"
Dewa menggeleng makin mengeratkan pegangannya.Keira menatap tajam
"berjanjilah Kapten Dewa!"
Dewa merengkuh Kiera memeluk dengan erat kekasih hatinya
"hati2 putra kita terjepit"bisik Keira
Dewa mengendurkan pelukannya memaksa tersenyum
Dua orang perawat bersiap mendorong Kiera,sambil menyodorkan berkas persetujuan pada Dewa.
Almira tergopoh masuk ruang Keira
"kak Kei,aku akan menemanimu"
Keira mengangguk
"walau beresiko tapi usia kandungan sudah cukup untuk dilahirkan"jelas Almira
Dewa diam
Keira mengenggam menguatkan Dewa
__ADS_1
"Bismillah"Dewa membubuhkan tanda tangannya