
Pagi hari Kota X diguyur hujan deras,menyisakan kesedihan kemarin akan sebuah kehilangan.
Terlihat gadis mungil berkerudung dengan tas besar berlari membelah lalu lintas,gadis itu menerobos kerumunan didepannya.Suara derap langkahnya sangat cepat disusul suara nafas yang tersengal.
"tunggu....."
Gadis itu melompat kedalam Bis yang mulai berjalan.Dan dia segera duduk di dekat jendela.Seorang kondektur meminta ongkos berkeliling menghampiri sang gadis dan tampak malas menerima 2 lembar uang 5 ribuan yang basah
" ga ada yang kering?"
"kan keujanan bang,masa uangnya kering."sahut gadis itu sambil nyengir
Sang kondektur pergi menjauh
Gadis itu kembali fokus pada HP di tangannya.
Seorang Pria berkaos Merah mengamati seorang gadis yang terburu buru turun dari Sebuah Bis,Dia mulai menembus hujan yang makin deras.
Buuk...
"aduh."sang gadis terjatuh dan merintih
"maaf nona,saya ga sengaja,anda baik-baik sajakan?"Pria itu dengan sopan membantu sang gadis
"ga apa,saya bisa bangun sendiri."sahut sang Gadis sambil sempat melirik pria yang menabraknya menggunakan sepatu sport warna merah menyala ,Almira segera berlalu.Sang pria tersenyum sambil memegang sebuah id card.
Gadis manis itu terus berjalan menuju lobby Rumah Sakit
"Pagi dokter Almira."sapa Security sambil membantu membukakan pintu
__ADS_1
"pagi pak."Almira menjawab dengan riang sambil terus berjalan
Security paruh baya itu menatap sang dokter yang menjauh pergi.
"heii...
"tok...tok..
Almira panik tidak bisa masuk ke Ruang diskusi dokter Bedah karena ID card sebagai akses masuk tidak dia temukan di sakunya.
"pasti hilang lagi ID Cardmu."Dokter Deliana menempelkan ID cardnya membuka pintu sambil menggerutu.
"hehe...thank u dokter,maaf sepertinya iya hilang,aku lupa menaruh dimana."Almira memelas memberi penjelasan.
Deliana meninggalkannya.
Dalam ruang diskusi,semua dokter bedah sudah berkumpul.
"ok ,dokter Almira silahkan mulai."dokter Wisnu ketua SMF bedah RS X berbicara
"siap dokter."
Almira memulai presentasi kasus bayi Bintang yang akan di lakukan operasi namun tidak memungkinkan karena kondisinya.
2 jam setelah presentasi.Keira mendekati sahabatnya itu
"keren good job honey."Keira memeluk sahabatnya
"thank u kak,ampun deh mereka senior nyerang mulu."Runtuk Almira.
__ADS_1
"udah cuexin aza."
"makan mie ayam yuk."Almira bersemangat mengajak Keira.
"maaf,aku masih jadi "Tahanan rumah" ."Keira berkata sambil menunjuk ke arah Dewa yang berdiri di luar ruangan.
"ih dasar,kan kak Kei sudah sehat,bumil mah biasa kalee kaya gitu."Almira protes
"sudahlah..aku ga mau ada perang barata yuda kaya di pewayangan." tawa Keira pelan sambil berpamitan.
Almira menatap dan melambaikan tangan,dia enggan mengantar Keira keluar yang akan bertemu Dewa.
Disebuah Ruang rawat,seorang pria berkaos merah memakai jas putih mirip dokter jaga yang ada di RS X.
Sedang mengamati seorang bayi yang terpasang banyak selang.
Pria itu masuk dengan menempelkan id card ke akses door.
setelah mengamati kondisi ruangan yang lengang pria itu mendekati box bayi dan akan menyuntikkan sesuatu,sesaat sebelum menyuntikkan seorang perawat menghampiri
"ada apa dokter,bisa saya bantu?"
sang pria terkejut dan segera menyuntikkan obat itu,segera berlari pergi .Sang perawat berteriak sambil mengejar namun tertahan saat melihat monitor bayi bintang berbunyi.
"dokter tolong."
Almira yang kebetulan ada di depan ruangan balik mengejar sang pria yang keluar dari ruang bayi.Mereka berkejaran di koridor.Sang pria tiba tiba berbelok ke arah tangga daturat dan menunggu almira.
"Buk...tiba2 sebuah tendangan mengenai pintu darurat karena Almira berhasil menghindar.
__ADS_1
Tiba tiba dari belakang Almira sebuah tangan membekap hidungnya dengan clorofine membuat Almira melemas dan pingsan.