
Hadi menatap Dewa dia faham betul sahabatnya sangat ingin membunuh pria bernama Billy itu
"Kapten Hasan terima kasih kerjasamanya,kami pamit."Dewa menjabat tangan Hasan dan meninggalkan Kantor Polisi
Didepan gedung polisi Radit sudah menunggu mereka
"lapor Kapten,saya kembali."
"kau baik2 saja ?"Hadi bertanya
"siap baik."
"tinggalkan mobilmu disini ,suruh orang untuk mengambilnya."
"Siap."
Radit bergegas mengirim pesan sambil beralih ke kursi pengemudi di mobil Kapten Hadi
"Rumah Sakit"Dewa memberi perintah
"siap."Radit memacu kendaraan dengan cepat
Sesampai di Rumah Sakit
Dewa meminta Hadi menemui dokter jaga agar mereka diizinkan mengunjungi Tersangka
Hadi bergegas pergi
"temui Almira agar kita dapat kemudahan."
"tapi Kapten maaf ,dokter Almira tampaknya kelelahan."
"nanti segera saya akan kumpulkan informasi dalam laporan."Radit menjelaskan
Dewa mengangguk
Dewa menjauh menelpon Kiera memastikan dirinya baik2 saja
Radit gelisah kamar jaga berada di ujung koridor Dia khawatir berpapasan dengan Almira
Tiba2 Kapten Hadi menepuk punggungnya
Radit terloncat dan mencengkram lengan Kapten Hadi
namun segera tersadar dan melepaskan lengan atasannya yang pendendam itu
__ADS_1
"ada apa denganmu?"Hadi agak meringis memegang lengannya
"maaf Kapten ,refleks."
Hadi mendengus dan menunggu Dewa bersama Radit
"Bagaimana?"Dewa bertanya
"kita cuma boleh nengok Rio,ga ada surat perintah."
"ok,ayo."
Mereka bertiga menuju ruang perawatan Rio dan Putri
Dihadapan mereka tampak Rio terbaring lemah walau tanda2 vitalnya stabil tapi kondisi saat ini adalah yang terberat yang dialami Rio
"apa perlu melapor pada marsekal?"
"biar aku yang menjelaskan pada sang Papa."Dewa bergumam
Namun membuat Hadi dan Radit menarik nafas lega.Karena Hanya Dewa yang mampu berbicara dengan Marsekal Dodi sang papa Kapten Rio.
"Radit coba kau tanya kamar Putri Dimana?"Hadi menyenggol Lengan Radit
"baik."
"biarkan aku disini dulu."Dewa berkata pelan
Hadi menganguk dan mengikuti Radit
Sesaat kemudian
Dewa melihat dokter Brata kepala bagian dokter bedah
"siang dokter ,bisakah saya diizinkan menemui Kapten Rio."
Dokter Brata terdiam sejenak
"baiklah ,tidak lebih dan 15 menit Kapten,ganti bajumu dulu disana ."Dokter Brata menunjuk sebuah ruangan bertulis Anteroom
Dewa mengangguk
"terima kasih"
Dihadapan Rio,Dewa tampak menahan haru melihat sang sahabat tergeletak tak berdaya,melihat banyak luka disekujur tubuh Rio.Dewa mengepalkan tangannya menyentuh tangan Rio seperti melakukan "tos"
__ADS_1
"hai jagoan kamu pasti Kuat."
"kita rival sejati bukan?"
"ga seru tanpa kehadiranmu."Dewa berkata dengan suara bergetar mengenggam tangan sahabatnya
Sementara di Sebuah Pesawat Pribadi
Tampak Bryan menatap laporan yang masuk Perusahannya mulai mengalami ketudak stabilan,beberapa anak perusahaan colaps dan diambil oleh Yu Corporate.Bryan melihat layar komputer dengan penuh tanya
"segera hubungi Ken."
Sang sekertaris segera menelpon Kenzo sahabat Bryan
Bryan melihat notif di Ponselnya beruba penarikan sejumlah uang dalam nominal besar
Ponsel nya segera tersambung seseorang
"apa yang kau beli?"Desis Bryan
Nella di ujung telpon hanya meringis mengatakan dia perlu untuk membayar belanjaan juga bayaran keanggotaan member sosial clubnya.
Bryan menutup sambungan telpon menarik nafas dalam dia benar2 muak pada gadis itu,gadis yang hanya tau cara menghamburkan uang
Sesaat Bryan teringat Keira,dan mencoba menghubunginya
drt...drrt..
"Hallo..
"apa kabar Kei?"
"siapa ini?"
"nomer anda tidak ada di daftar ponselku?"
Bryan tersenyum kecut
"tak apa,aku hanya rindu padamu."
"kau tau melihat fotomu saja aku sudah menjadi H**ny babe."
tuuuut...tuttt
Sambungan telpon terputus sepihak
__ADS_1
Bryan tersenyum membanyangkan wajah Keira pasti memerah menahan malu.
"sampai kapanpun kau akan selalu jadi milikku Kei."Bryan bergumam sambil menatap foto Keira yang ada di ponselnya