
Setiap hari mendapatkan penyiksaan dari Teguh membuat Tania perlahan mundur dari niat terselubung nya, saat ini yang ada di pikiran nya adalah mencari cara untuk meloloskan diri dari rumah mewah yang terasa seperti neraka.
" Dari mana saja Tuan,sudah jam 01.00 pagi kenapa Tuan baru pulang?" tanya Tania saat tidak sengaja melihat Teguh baru sampai di dalam rumah.
Setahu dia suami sekaligus majikan nya itu selalu pulang jam 11 malam atau paling lama sampai jam 12 malam.Tania mulai terbiasa memanggil Teguh dengan sebutan Tuan karena tidak ingin di marahi oleh Teguh.
" Jangan terlalu ikut campur dengan urusan ku, Kamu hanya lah seorang pembantu di rumah ini."ketus Teguh meninggal kan Tania begitu saja .
" Tuan,bisa kah Tuan memaafkan semua kesalahan Aku dan juga kedua orang tua ku,dan kita mulai semua nya dari awal seperti pasangan suami istri pada umumnya.kita sudah lama menikah dan tinggal bersama, tetapi kenapa Tuan masih saja tidak pernah menganggap Aku ada dan selalu menyiksa Aku." ucap Tania mengeluarkan semua uneg-uneg nya dan sukses membuat Teguh menghentikan langkah kaki nya.Tania sudah tidak perduli lagi bagaimana tanggapan Teguh,yang penting dia sudah mencoba untuk yang kesekian kali nya sebelum dia benar-benar memutuskan untuk angkat kaki dari rumah mewah ini.
Teguh tersenyum sinis sambil membalikkan badannya.
" Bukan kah pernikahan ini yang kalian inginkan satu keluarga?Lantas untuk apa Kamu selalu melayang kan penolakan? Harus nya kalian berterima kepada Aku yang sudah menyelamatkan Kamu dari kehidupan mu yang buruk itu." hardik Teguh menyeringai tajam.
" Aku mohon Tuan! Beri Aku satu kali kesempatan saja,Aku janji akan menjadi istri dan calon ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak." Tania sudah terlampau jauh mengkhayal sehingga dia lupa sedang berhadapan dengan siapa saat ini.pria yang berada di depan nya saat ini bukan lah tipe pria lemah lembut,sabar dan juga penuh kasih sayang yang akan dengan mudah termakan oleh bujuk rayunya.
Prok...Prok..
Teguh bertepuk tangan begitu keras mengapresiasi keberanian Tania yang semakin di luar batas.
" Jangan terlalu bermimpi Nona,Aku tidak akan mungkin menerima wanita murahan seperti Kamu dalam hidupku ini.wanita yang akan menjadi istri ku adalah wanita baik-baik dan itu bukan Kamu!" ujar Teguh menatap tajam dengan jari telunjuk yang sengaja di arah kan ke wajah Tania.
" Kalau memang Tuan tidak mencintai Aku, lepaskan Aku dari rumah ini,dan kembali kan ponsel ku yang sudah Anda sita.Aku akan pergi sejauh mungkin dan tidak akan pernah lagi datang menemui anda." Tania mendapatkan angin segar berharap Teguh mau mendengar kan ucapan nya.
" Aku tidak akan melepaskan Kamu sampai Aku merasa puas dan hidup mu semakin tersiksa." ucap Teguh dengan suara lantang.
Teguh sama sekali tidak merasa tertarik atau kasihan kepada wanita ini, meskipun dia berdiri tanpa memakai apapun,Teguh tidak akan pernah tergoda oleh kelicikan nya.Teguh meninggalkan begitu saja Tania yang sudah kehabisan kata-kata.
Tania yang ingin menjalankan kewajiban nya sebagai seorang istri selalu di tolak mentah-mentah oleh Teguh.semua yang berurusan dengan hidup nya akan di urus oleh Mpok Nur.
" Aku capek kalau kayak gini terus,tolong kasih Aku jalan buat keluar dari rumah ini ya tuhan." pinta Tania sambil menutup wajah dengan menggunakan kedua telapak tangan nya.
Mpok Nur,Rena dan juga para maid lain yang ikut mendengar pertengkaran sengit itu menjadi terbangun dan terduduk.
__ADS_1
" Bukan kah itu suara Tuan muda,Mpok?" tanya Rena menatap penuh tanya.
" Iya Mbak Rena, seperti nya Tuan muda sedang marah,mati kita lihat." ajak Mpok Nur lalu menarik tangan Rena agar ikut keluar dan mengintip secara sembunyi-sembunyi.
" Tania!" seru mereka berdua secara bersamaan.
" Kenapa lagi sih wanita itu? Nggak pernah kapok kena omel sama Tuan muda." Mpok Nur yang sangat kesal kepada Tania semakin di buat geram oleh ulah Tania yang selalu memancing keributan.
" Ya sudah lah,biarkan saja lah Mpok, lebih baik kita kembali ke kamar menikmati waktu istirahat yang sebentar lagi akan habis." Rena yang sudah tahu siapa lawan bicara dari Tuan muda nya memutuskan untuk kembali ke kamar karena tidak tertarik untuk menyaksikan drama panas itu.
Kiki yang tidur di temani oleh ibu nya sejak tadi merasa gelisah dan sakit di bagian pinggang nya.
" Kamu kenapa Nak?" tanya Ibu Ratna ikut terbangun ketika Kiki bolak balik mengganti kan posisi tidur nya.
" Pinggang Kiki sakit sekali Bu, perut Kiki juga begitu." keluh Kiki meringis menahan rasa sakit yang semakin sering muncul.
" Seperti nya Kamu akan melahirkan Nak." Ibu Ratna lalu berdiri dan memakai asal hijab nya berlari memanggil Pak Agus dan juga Riko yang tidur satu kamar.
Ibu Ratna semakin gregetan ketika mendengar suara kunci yang di putar dengan begitu lama nya.
" Cepetan Yah!" seru Ibu Ratna sudah tidak sabar lagi.
" Ada apa sih Bu? Kenapa panik seperti ini?" tanya Pak Agus menyipitkan matanya.Riko yang sudah terlelap damai di alam mimpi nya sama sekali tidak menggubris suara kedua orang tua nya.
" Kiki,Pak! Kiki mau melahirkan." jawab Ibu Ratna lalu berlari kembali masuk ke dalam kamar Kiki dengan di ikuti oleh Pak Agus dari arah belakang.
" Sakit Bu! Sakit sekali." ucap Kiki dengan wajah yang sudah bersimbah peluh.
" Sebentar Ayah telpon Rangga dulu,kita mana paham daerah sini Bu." Pak Agus lalu mengambil ponsel Kiki mencari nomer Rangga .
Ibu Ratna juga mengangguk menyetujui ucapan suami nya.
" Tolong datang ke sini, Rangga."ucap Pak Agus setelah sambungan telepon mereka tersambung.
__ADS_1
" Kiki mau melahirkan, Ayah sama sekali tidak tahu harus membawa Kiki ke rumah sakit mana." Pak Agus lalu mematikan sambungan telepon nya setelah menerima kepastian dari Rangga.
Pak Agus berlari masuk kedalam kamar nya mengambil baju dan mengganti kan kain sarung nya dengan sebuah celana bahan berwarna hitam.
" Dimana barang-barang yang sudah Kamu siapkan Nak?" tanya Ibu Ratna sebelum mereka turun dari kamar.
" Ada di kamar sebelah Bu! Tolong di ambil kan ya." pinta Kiki yang benar-benar sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang semakin sering menyiksa perut nya.
" Yah! Tolong bawa tas ini ya,Ibu akan membantu Kiki untuk ke lantai bawah supaya mempercepat semua nya." Ibu Ratna perlahan menuntun Kiki turun dari tangga.dibelakang mereka berdua ada Pak Agus yang standby mengawasi pergerakan istri dan juga anak nya.
" Ada apa Tuan?" tanya Bi Mus yang baru terbangun dari tidur nya.
" Kami mau pergi ke rumah sakit dulu ya Bi,titip rumah sama ruko." jawab Pak Agus karena Ibu Ratna dan Kiki sudah jauh berada di lantai bawah.
" Baik Tuan." Bi Mus juga ikut berdoa meminta persalinan sang majikan agar di permudahkan jalan nya.
Rangga yang hilang kendali mendengar kabar dari Ayah Kiki langsung tancap gas tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada kedua orang tua nya.
Beruntung nya kondisi jalanan malam ini dalam keadaan sepi dan tenang sehingga Rangga mudah memainkan setir kemudi nya.
Shitttt...
Suara decitan ban mobil dengan aspal jalanan membuat Pak Agus akhirnya bisa bernafas lega .
" Kiki di mana Yah?" tanya Rangga yang baru keluar dari mobil nya.
" Awww ... Sakit Bu." rintih Kiki yang semakin tidak tahan lagi menahan rasa sakit yang menyerang sekujur tubuh nya.
Rangga yang tidak tahan mendengar suara kesakitan dari mulut Kiki berlari menghampiri lalu menggendong tubuh Kiki masuk ke dalam mobil nya.
" Bertahan lah sayang! Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." ucap Rangga menenangkan Kiki yang sedang merintih tiada henti.
Jangan Lupa Like, Vote dan Komen ya guys 🥰🥰🥰😍
__ADS_1