
Kiki di bawa masuk ke dalam ruang bersalin.Rangga dan kedua orang tua Kiki hanya bisa menunggu di depan ruangan ini.
" Bagaimana keadaan Kiki Dok?" tanya Rangga saat melihat Dokter Ema keluar dari ruangan Kiki.
" Masih pembukaan 7 Pak,kita tunggu sebentar lagi ya."jawab Dokter Ema tersenyum manis.
" Kalau Bapak mau menemani istri nya di dalam, silahkan saja Pak,bahkan sampai proses melahirkan pun masih boleh." imbuh Dokter Ema sedikit merasa heran ketika melihat Rangga membiarkan begitu saja Kiki masuk ke dalam ruangan bersalin tanpa di dampingi oleh nya.
" Sebenar nya..." Rangga semakin bingung untuk memberikan jawaban yang tepat atas permintaan Dokter Ema.
" Kalau Bapak takut darah,nanti Bapak bisa keluar saat proses persalinan nya mau di mulai, sekarang Bapak boleh masuk dulu ." Dokter Ema yang yang sudah bertahun-tahun melayani banyak pasien nya mulai menebak sendiri bahwa Rangga adalah tipe suami yang takut dengan darah dan juga alat suntik.
" Aaa...Iya Dok." Rangga terpaksa mengiyakan karena dia sendiri tidak tahu harus berkata apa.
Ibu Ratna dan Pak Agus memilih diam dengan saling menatap.
" Saya pamit ke ruangan Saya sebentar ya Pak,kalau ada apa-apa perawat yang akan memanggil Saya." pamit Dokter Ema lalu pergi menyelesaikan pekerjaan nya sebelum membantu proses persalinan Kiki.
Setelah kepergian Dokter Ema, Rangga lalu mengajak masuk kedua orang tua Kiki untuk menemani dia ke dalam ruangan itu.status mereka yang hanya sebagai sepasang kekasih tidak memungkinkan untuk Rangga mendampingi secara utuh proses persalinan ini.
" Sakit Bu!" Kiki mengeluh dengan suara yang tercekat karena sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang semakin sering menyerang perut nya.
" Sabar ya Nak,tarik nafas yang panjang lalu keluar kan dari mulut." ucap Ibu Ratna menasehati putri nya.
Tangan Ibu Ratna sengaja memijit pinggang Kiki membantu putri nya melewati perjuangan berat ini.
Rangga yang berada di samping sebelah kiri sesekali meringis melihat perjuangan Kiki dalam melahirkan anak nya,andai saja Kiki adalah istri sah nya, mungkin sudah sejak tadi Rangga memeluk dan mencium kening nya sebagai tanda terima kasih karena telah berjuang melahirkan buah cinta mereka, sayang nya saat ini Kiki masih belum sah menjadi istri nya.
Kiki yang menatap lurus ke arah Rangga hanya bisa terdiam menikmati setiap rasa yang menyerang tubuh nya.
" Aku yakin Kamu bisa melewati semua ini,Kamu wanita yang kuat, berjuang lah sampai bayi nya lahir dengan selamat." Rangga berbicara dengan mata yang sudah berembun.rasa nya ingin sekali dia meresmikan hubungan mereka saat ini juga.namun semua harus berjalan sesuai ketentuan yang ada.
Rangga mengulur kan tangan nya supaya di genggam oleh Kiki.
" Terimakasih Bang,sudah menemani Aku sampai sejauh ini." ucap Kiki dengan nafas yang terengah-engah.
" Sama-sama! Aku juga berterima kasih karena Kamu masih berada di samping Aku." jawab Rangga tersenyum hangat.
__ADS_1
Rangga terus memberikan motivasi untuk Kiki yang semakin terlihat lemah.
Setelah Dokter menyatakan bahwa pembukaan nya sudah lengkap,Kiki langsung di minta untuk berbaring dengan kaki yang di buka lebar.
Rangga ,Ibu Ratna dan Pak Agus kembali menunggu di luar ruangan ini.
" Rangga! Apa Kamu sudah mengabari kedua orang mu kalau kita sedang berada di rumah sakit?" tanya Pak Agus sambil duduk di kursi tunggu.
" Belum Yah,ini Rangga baru mau mengabari mereka berdua." jawab Rangga sambil mengetik sesuatu di layar ponsel nya.
" Baiklah." Pak Agus terlihat menunduk kan pandangan nya dengan telapak tangan yang terlihat bergetar hebat.
" Sesakit ini kah pengorbanan seorang ibu demi melahirkan keturunan untuk keluarga nya? Maafkan Kiki yang sering menyakiti perasaan Ibu.Terimakasih Ibu sudah mau menerima Kiki yang banyak kekurangan ini." ucap Kiki dalam hati nya dengan kedua mata yang terpejam dan tidak terasa kembali mengeluarkan cairan bening.
Para perawat dan bidan bertindak dengan cepat membantu Dokter Ema.
" Ayo Mbak Kiki! Dorong yang kuat." pinta Dokter Ema setelah hitungan ketiga.
Kiki mengangguk kan kepala sambil menghela nafas panjang dengan wajah yang semakin memucat tidak bertenaga lagi.
Kiki berjuang sendirian di dalam ruangan yang dingin ini tanpa di dampingi oleh suami atau keluarga lain nya.air mata Kiki tidak berhenti menetes mengingat kehidupan nya yang begitu pelik.
Percobaan pertama gagal, percobaan kedua gagal lagi, percobaan ketiga kepala bayi mulai tampak,dan pada perjuangan yang keempat akhirnya bayi mungil berjenis kelamin laki-laki keluar dengan suara tangisan nya yang begitu kuat.
" Alhamdulillah." ucap Mereka bertiga yang menunggu di luar ruangan ketika mendengar suara tangisan bayi yang begitu kencang.
" Cucu kita sudah lahir Yah." ucap Ibu Ratna menyadarkan Pak Agus dari lamunan kosong nya.
" Iya Bu!" Pak Agus menangis haru mengingat dirinya yang sudah menjadi seorang kakek.
Di tempat yang berbeda, Teguh yang baru tertidur pulas merasa kan sakit di sekitar perut yang semakin menusuk tajam.tubuh yang meringkuk di atas kasur semakin merintih tidak kuat lagi menahan rasa yang menghantui tidur nyenyak nya.
" Kenapa Aku bisa sakit perut ya? Padahal Aku tidak memakan yang aneh-aneh hari ini?" batin Teguh lalu berlari masuk ke kamar mandi.
Sudah satu jam lebih dia bolak balik masuk ke kamar mandi tetapi satu tetes pun tidak ada cairan yang dia keluarkan sehingga menimbulkan keringat dingin di sekujur tubuhnya.
Teguh berlari masuk ke dalam lift yang akan membawa dia turun ke lantai bawah.
__ADS_1
Kluk...Kluk...
Teguh meneguk habis isi gelas nya lalu berjalan kembali masuk kedalam lift dengan menenteng satu gelas air putih berikut dengan obat yang di ambil dari kotak obat yang ada di samping dapur.
Di saat Teguh hendak melangkah kan kaki nya masuk ke dalam lift, telinga nya tidak sengaja menangkap suara laknat yang berasal dari garasi mobil milik nya.
" Siapa yang sudah berani bermain di dalam sana?" gumam nya sambil memegang perut yang semakin terasa sakit.
" Engjh...Terus sayang...Aku sudah mau sampai." suara wanita itu semakin terdengar jelas di indra pendengaran nya.
" Enghhh..." Suara laki-laki dan wanita beradu saat mendapatkan sebuah kenikmatan panjang.
Teguh terus berjalan dengan mengendap seperti seseorang yang sedang menangkap maling.pria ini sengaja berdiri di dekat sebuah tiang yang cukup besar untuk menutupi tubuh nya.setelah tidak lagi mendengar suara laknat itu,Teguh memilih menunggu sampai pemilik suara itu keluar sendiri dari persembunyian mereka.
" Kamu janji ya Mas,bantu Aku keluar dari rumah ini,Aku sudah tidak tahan lagi." ucap Wanita ini terdengar memohon.
" Tenang aja sayang,besok pagi Aku jamin Kamu bisa lolos dari rumah ini tanpa ada satu orang pun yang merasa curiga kepada kita berdua.tetapi ada syarat nya." pria ini kembali bermain-main dengan ucapan nya.
" Apa itu Mas?" tanya sang wanita yang cukup Teguh kenali suara nya.
" Besok sebelum Kamu pergi dari sini,temui Aku di tempat ini jam 4 subuh dan kita ulangi lagi olahraga panas ini." ucap pria yang sama sekali belum di kenali oleh Teguh.
" Sial! Dasar Murahan." umpat Teguh tetap berdiri menunggu wanita itu masuk ke dalam rumah.
Bayangan laki-laki yang berjalan di balik garasi itu bisa di lihat dengan jelas oleh Teguh,sosok pria ini cukup membuat Teguh syok karena selama ini dia terkenal begitu tegas dan cukup profesional dalam bekerja.
" Akan Aku berikan kalian berdua pelajaran yang tidak berharga bagi seorang pengkhianat." Teguh meradang menyaksikan pertunjukkan yang tidak seharusnya dia lihat,sakit perut yang melanda dirinya secara tiba-tiba ternyata membawa berkah tersendiri untuk kehidupan nya.
Tap....
Tap...
Teguh membiarkan saja wanita ini berjalan masuk ke dalam kamar nya, karena di dalam benak nya saat ini sudah tersusun sebuah rencana besar yang akan membuat kedua manusia itu menangis menyesali perbuatan mereka.
" Aku tidak salah lagi memanggil Kamu dengan sebutan ******! Ternyata harga diri mu benar-benar sudah tidak ada lagi." ucap Teguh lirih lalu berjalan masuk ke dalam lift yang akan membawa dia naik menuju ke kamar nya.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen ya guys 😍🥰🥰
__ADS_1