Terhalang Restu Orang Tua

Terhalang Restu Orang Tua
Bab 22


__ADS_3

Pak Heru yang kesal melihat istri nya tidak kunjung keluar dari dalam mobil langsung menarik paksa tangan Bunda Yeni yang sedang tidak sadarkan diri.


" Bun! Bunda.." teriak Pak Heru yang masih kesal.


" Jangan main-main lagi Bun, cepetan bangun." Pak Heru masih tidak percaya istri nya bisa pingsan hanya karena harus tinggal di kontrakan yang sempit dan kecil ini.


"Apa dia pingsan beneran ya ?" gumam Pak Heru.


" Ada-ada saja Kamu Bun!" Pak Heru memilih meninggalkan istri nya di dalam mobil dengan pintu yang sengaja di buka.


Tubuh Bunda Yeni yang besar dan sangat berisi, membuat Pak Heru mengurung kan niat nya untuk memindahkan istri nya ke dalam rumah.sudah 10 menit Pak Heru menunggu orang lewat,namun tak ada satupun yang bisa beliau minta bantuan.dengan terpaksa Pak Heru kembali meninggalkan istri nya sendirian di dalam mobil sedang kan beliau sibuk membereskan rumah kontrakan yang akan mereka tempati.


Seumur hidup baru kali ini Pak Heru memegang sapu dan kain pel.


Pantas saja beliau menyapu sangat kesusahan untuk mengayunkan sapu untuk membersihkan debu dari lantai yang sudah lama tidak di tempati.


" Huft..." nafas Pak Heru terdengar sedikit berat akibat kelelahan bekerja sendirian membersihkan rumah.


" Bun!" panggil Pak Heru kepada istri nya yang nampak masih betah di alam bawah sadar.


Ciprat... Ciprat..


Pak Heru menyiram kan segayung air di wajah istri nya supaya terbangun dari pingsan nya.


" Banjir! Banjir!" Bunda Yeni berteriak sekuat mungkin sehingga mengundang perhatian orang yang berada di sekitar rumah mereka.


" Astaga! Kenapa dia malah berteriak seperti itu sih!"geram Pak Heru dengan tatapan elang nya.


Bunda Yeni yang sedang sibuk mengumpulkan nyawa nya masih terdiam mencerna apa yang telah terjadi di dalam hidup nya.di belakang mobil mereka ada sejumlah tetangga yang datang akibat kegaduhan yang di lakukan oleh Bunda Yeni.


" Ada Pak? Kenapa kalian berteriak banjir? Dimana banjir nya?" tanya salah satu warga yang juga di tinggal tidak jauh dari rumah Pak Heru.


" Hm,maaf ya Pak,bukan kami yang berteriak,itu suara dari ponsel milik istri Saya yang sedang menonton sinetron di layar ponsel nya." jawab Pak Heru berbohong.

__ADS_1


" Saya kirain beneran terjadi banjir, padahal di rumah Saya kering dan aman . lain kali kalau mau nyetel sinetron suara nya jangan terlalu kuat,itu bisa mengganggu kenyamanan orang lain." ujar Bapak yang usia nya sebaya dengan Pak Heru.


" I- ya Pak,sekali lagi saya mohon maaf." jawab Pak Heru merasa sungkan,baru hitungan jam mereka tinggal di rumah ini sudah ada masalah yang di buat oleh istri nya, bagaimana jika hitungan hari,pasti segunung masalah telah menanti karena memang istri nya biang masalah.


Bunda Yeni terdiam manis di dalam mobil sambil membekap mulut nya yang menjadi sumber masalah.


" Sudah ayo masuk." ajak Pak Heru setelah para tetangga nya pergi meninggalkan halaman rumah mereka.


" Kita sebaiknya pulang saja Yah, Bunda ngga nyaman kalau harus tinggal di tempat seperti ini." tolak Bunda Yeni masih tidak terima dengan kenyataan yang ada.


" Duit Ayah hanya cukup untuk menyewa rumah kecil ini,jangan banyak tingkah! Masuk atau Kamu mau tinggal di jalanan." bentak Pak Heru.


Selama puluhan tahun bekerja di perusahaan milik keluarga nya,Pak Heru sama sekali tidak memiliki tabungan sedikit pun,karena setiap gaji dan bonus yang beliau dapatkan selalu di habiskan oleh istri nya untuk berbelanja dan mengirimkan kedua orang tua nya dengan jumlah yang besar.


" Kenapa kita tidak tinggal di apartemen saja Yah? Bukan kah apartemen Ayah banyak?" tanya Bunda Yeni dengan suara lemas nya.


" Itu bukan milik Ayah,apa Kamu tidak sadar diri juga, akibat tingkah Kamu yang susah di atur,kita sampai di usir oleh Mama." Pak Heru kembali menyadarkan istri nya atas apa yang telah dia perbuat.


Bunda Yeni bangkit dari tempat pingsan nya lalu berjalan berjinjit masuk ke dalam rumah yang berukuran sangat kecil,hanya ada satu kamar tidur,satu dapur kotor,dan satu ruangan tamu.jauh berbeda sekali dengan rumah yang selama ini mereka tempati.


Jika di lihat-lihat luas satu rumah ini sama dengan satu kamar mereka di rumah lama.


" Kenapa bau sekali Yah?" ucap Bunda Yeni sambil menutup hidung nya.


" Jangan kebanyakan drama! Bunda harus terbiasa dengan keadaan seperti ini,dan jangan kembali bertingkah di luar kendali Ayah jika tidak ingin di lempar ke jalanan oleh Mama." Pak Heru mengingat kan istri nya,Pak Heru sebenarnya sangat malu kepada ibu nya,namun nasi sudah menjadi bubur, beliau pun ikut terlibat dalam sandiwara palsu istri nya.


" Kita cari rumah di sekitar ibu kota saja Yah,di sini ngga ada mall dan supermarket." keluh Bunda Yeni tidak ada habis nya.wanita paruh baya ini sama sekali tidak mensyukuri nikmat yang ada, selalu saja ada kesalahan yang nampak di mata jahat nya.


" Di sini lebih baik,selain biaya nya murah, kawasan ini juga dekat dengan perusahaan tempat Ayah bekerja, sehingga kita bisa menghemat biaya bensin." jawab Pak Heru melangkah masuk ke dalam kamar.


" Dan satu lagi! Mulai detik ini juga,jangan lagi Kamu menghabiskan uang untuk membiayai orang tua Kamu yang tidak mau bekerja itu! Gaji Ayah tidak akan cukup jika harus berbagi dengan mereka, biarkan mereka berusaha sendiri di sana,sudah cukup selama ini kita menyokong kehidupan mereka beserta adik-adik Kamu." Pak Heru kembali mengingat kan istri nya sebelum menutup pintu kamar.


Mata bunda Yeni melotot tajam ketika mendengar Pak Heru melarang dia membiayai hidup keluarga nya di kampung.

__ADS_1


" Mama sama Papa pasti akan marah besar kepada Aku." gumam Bunda Yeni mulai tidak tenang.


" Ini semua karena wanita miskin itu! Aku akan segera membalas nya." banyak nya masalah yang muncul di dalam kehidupan nya,tidak membuat Bunda Yeni menyerah juga.


" Wanita tua itu pun akan segera mendapatkan balasan nya." kecam Bunda Yeni dengan sangat kesal.


Masalah pengusiran kedua orang tua nya sama sekali tidak tersentuh oleh Teguh yang sedang asyik liburan di puncak.


" Mas! Aku lapar." keluh Kiki yang kebangun tengah malam.


" Hah lapar? " tanya Teguh yang masih belum mau membuka mata nya.


" Iya Mas! Ih malah tidur lagi!" kesal Kiki lalu dengan sengaja menggigit tangan kekar milik suami nya.


" Sakit sayang!" keluh Teguh langsung membuka sempurna kedua bola mata nya.


" Rasain! Sejak sore tadi masa istri nya ngga di kasih makan." gerutu Kiki sambil bangun dari tempat tidur nya.


" Maaf sayang,'kan tadi kita ketiduran,maka nya lupa pesan makanan." Teguh merasa bersalah telah membiarkan istri nya kelaparan padahal dia sanggup untuk membeli makanan.


" Itu semua gara-gara Mas,yang selalu bikin Aku kecapean dan tidak sadar jika sudah malam begini."geram Kiki yang langsung meminum satu gelas air sebagai pengganjal rasa laparnya.


" Buruan Mas! Aku sudah ngga tahan lagi." sambung Kiki lagi.


" Iya sayang,ini Aku lagi menghubungi nomor layanan restoran nya." jawab Teguh yang sedang mencoba menghubungi pihak restoran di bawah.


Jangan lupa like,Vote dan berikan hadiah sebanyak mungkin ya guys.


Tinggal kan jejak sayang nya di kolom komentar walaupun hanya satu kata .


Dukungan dan support dari kalian sangat berarti bagi author.


Terima kasih semua nya.🥰😍🥰😍

__ADS_1


__ADS_2