
BRAK
Dihempaskan lah Arin ke sofa yang ada di ruang tamu.
"Dari mana kamu? " Tanya Wisnu datar dengan tatapan yang tajam.
"Bukan urusan mu! " Sahut Arin.
"DARI MANA?" Bentak Wisnu.
"Aku dari mana itu bukan urusan mu! Lagi pula aku juga tidak pernah mengurusi urusan mu! " Ucap Arin dan berlalu pergi.
"Aku belum selesai bicara! " Wisnu menahan langkah Arin.
Arin menatap Wisnu dengan tatapan yang dingin , "aku capek! " Ucap Arin.
"Dari mana saja kamu? Kenapa bi Sumi gak tau jika kamu keluar dari apartemen? " Tanya Wisnu yang merendahkan suara nya.
"Dari tempat Suci, puas?! " Jawab Arin ketus.
"Dari tempat Suci atau baru ketemu dengan Marchel? " Tanya Wisnu.
"Memangnya kenapa kalau aku bertemu dengan Marchel! Mau marah? " Sahut Arin.
"Kamu itu seorang istri dan tidak pantas jika bertemu dengan laki-laki lain! " Tegas Wisnu.
"Lalu apa kabarnya dengan kamu? " Arin membalikan ucapan Wisnu, " Aku memang istri mu! Tapi istri di atas kertas tidak lebih dari itu! " Bersama dengan kalimat terakhir nya Arin menghempaskan tangan Wisnu dan langung pergi ke kamar.
"Aku akan mengabulkan permintaan mu! Aku akan segera mengakhiri semua ini! " Ucap Wisnu yang mampu menghentikan langkah Arin.
Sesaat Arin terpaku di tempat. Kemudian Arin menoleh ke belakang dan berkata, " Akan aku terima dengan senang hati! " Setelah mengucapkan itu Arin berjalan lebih cepat untuk menuju ke kamarnya.
Wisnu menatap punggung Arin hingga hilang di telan pitu.
Arin bersandar di pintu kamar dengan air mata yang membasahi pipi.
"Aku gak boleh nangis! Aku harus bisa melupakan perasaan ku! " Gumam Arin sambil menyeka air matanya dengan kasar.
Merenung sejenak berpikir harus bertahan di apartemen Wisnu atau segera pergi.
Arin mengemasi semua bajunya dan memasukan ke dalam koper. Sekarang atau nanti sama saja , Sama-sama akan pergi dari kehidupan Wisnu pikir Arin.
Arin menyeret kopernya keluar dari kamar. Tepat saat Arin membuka pintu kamar di saat itu juga Wisnu hendak masuk ke kamarnya. Wisnu menghentikan langkanya dan memperhatikan Arin yang berdiri di depan pintu.
"Mau ke mana bawa koper segala? " Tanya Wisnu dingin.
"Sekarang atau nanti tak ada bedanya! Jadi aku memutuskan untuk pergi saat ini juga! " Jelas Arin.
Tangan Wisnu terkepal saat mendengar ucapan Arin, " Siapa yang menginginkan mu pergi dari sini? "
"Kau memberi ijin atau tidak aku akan tetap pergi dari sini! Dari kehidupan mu! " Sahut Arin yang enggan menatap muka lawan bicaranya.
"Kembali ke kamar mu sekarang! " Perintah Wisnu.
__ADS_1
"Aku harus pergi! " Ucap Arin.
"MASUK! " Bentak Wisnu , mata yang memerah serta tangan terkepal.
"Apa alasan mu melarang ku pergi dari sini? Hem? " Tanya Arin dengan suara yang bergetar.
"Jawab! " Ucap Arin, karena Wisnu mengunci rapat mulutnya.
"Kenapa diam saja? " Sambung Arin.
Wisnu masih membisu, ia masih enggan mengakui perasannya.
Membuang nafas nya sebelum membuka suara lagi, " Bertahan lah di sini sampai akhir bulan ! Jadi kembalilah ke kamar mu! " Ucap Wisnu.
"Kenapa harus selama itu? " Tanya Arin.
"Jangan banyak tanya! Aku belum sempat bertemu dengan pengacara ku untuk masalah kita ini! " Jawab Wisnu.
"Menurut lah! " Mohon Wisnu dengan suara yang lembut.
Tanpa kata Arin masuk ke kamar dan menutup pintu dengan kasar.
"Kenapa harus nunggu sampai akhir bulan sih? Sekarang atau besok juga sama saja! " Gerutu Arin sambil menuju tempat tidur.
♡´・ᴗ・`♡
"Ckk.. " Suci berdecak saat mendengar ucapan Riyan.
"Bey the way! Makasih ya udah nolongin gue waktu itu! " Ucap Riyan sambil menoleh ke penumpang cantik yang duduk di sebelah nya.
"Itu yang pertama dan terakhir " Sahut Riyan.
Suci hanya menanggapi dengan menyebikkan bibirnya.
"Kosan kamu di mana? " Tanya Riyan.
"Jalan mawar gang 22! " Jawab Suci.
"Kamu lapar gak? Kita cari makan dulu mau? " Tawar Riyan saat melewati jalan yang banyak pedagang makanan.
"Aku sudah kentang! Kalau kamu makan, makan aja gak papa kok! " Ucap Suci.
"Serius nih? " Riyan menoleh ke samping dan Suci pun mengangguk.
"Ya sudah mampir sebentar ya? Udah laper dari tadi! Mau makan sama Arin di suruh ke apartemen! " Keluh Riyan.
"Nurut banget sih Arin! "
"Ya ... Gimana lagi! Secara dia istri dari sahabat sekaligus bos ku! Mana bisa aku menolaknya! " Jelas Riyan.
"Sudah lama ya kamu berteman dengan suami Arin? " Tanya Suci yang semakin penasaran dengan kehidupan Riyan.
"Lama banget! Dari orok malah! " Jawab Riyan sambil terkekeh.
__ADS_1
"Pantesan waktu itu teman mu, siapa namanya?... "
"Wisnu " Sahut Riyan.
"Nah... Iya! Wisnu sangat panik terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya. Aku salut dengan persahabatan kalian! " Ucap Suci.
"Yah... Begitulah kami! " Sahut Riyan.
CEEEKIITTTT
Riyan mendadak mengerem mobilnya sehingga Suci terhayuk ke depan, ponsel yang ada di tangan Suci pun ikut jatuh.
"Hati-hati dong! " Protes Suci.
"Sory... Sory! Ada kucing lewat tadi! Kamu gak papa kan? " Tanya Riyan.
"Gak papa! " Jawab Suci sambil berusaha mengambil ponselnya yang terjatuh. Tak sengaja mata Suci melihat kotak merah di dekat ponselnya, 'ini kan?! ' ucap Suci dalam hati. Tanpa pikir panjang Suci memungut kotak merah itu dan di berikan ke Riyan.
"Ini punya mu jatuh! "
Riyan hanya melirik ke tangan Suci yang memegang kotak merah itu.
"Ambil saja kalau kamu mau! " Ucap Riyan dengan entengnya.
"Aku gak mau! " Suci menaruh kotak itu di dashboard mobil.
"Ambillah! Anggap saja ini hadiah sebagai ucapan terimakasih ku karena waktu itu kamu sudah menolong ku! " Jelas Riyan.
"Aku ikhlas menolong mu! " Sahut Suci.
Mobil riyan berhenti di warung sate , saat itu juga obrolan mereka terhenti.
"Beneran gak makan? " Tanya Riyan.
Suci menggelengkan kepala.
"Aku makan dulu ya?! " Ucap Riyan dan langsung menyantap sate kambing yang ada di hadapannya.
Sedangkan Suci hanya menemani Riyan makan dan memainkan ponselnya. Berbalas pesan dengan Arin. Di sela-sela berbalas pesan dengan Arin, Diam-diam Suci memfoto Riyan yang lahap menyantap sate. Bibir Suci terangkat ke atas membentuk sebuah senyum yang samar.
"Kamu gak mau ini? Ini enak lo! " Suara Riyan mengagetkan Suci yang diam-diam memperhatikan Riyan dalam foto yang baru saja ia curi.
"Ha! " Suci menggeleng, " Aku gak makan daging kambing! " Ucap Suci.
"Oh... Sory! " Riyan menyantap sendri sate yang tadinya akan di berikan ke Suci.
Suci meraih tisu dan mengusap sudut bibir Riyan yang ada bekas sambal kacang nya.
Riyan pun terkesiap dengan tindakan Suci, Riyan reflek menahan tangan Suci dan menatap lekat iris mata nya.
bersambung.....
**jangan lupa like dan komen ya!
__ADS_1
baca juga novel ke dua author yang berjudul 2R Rafi &Reva
terimakasih🙏 🤗😘**