TERJEBAK CINTA JANDA MUDA

TERJEBAK CINTA JANDA MUDA
55. kepanikan arin


__ADS_3

Selama empat hari berturut-turut Wisnu selalu lembur. Berangkat pagi-pagi sekali dan pulang tengah malam. Wisnu hanya bertemu arin di pagi hari. Arin pun di larang oleh Wisnu untuk tidak mengantar makan siangnya. Sebab selama empat hari itu juga Wisnu bolak-balik luar kota. Untuk meninjau langsung ke lokasi.


Wisnu menyandarkan kepalanya di punggung kursi kebesarannya. Wisnu memijat pelipisnya yang terasa pening. Kesibukan Wisnu belakangan ini membuat dirinya tak menjaga pola makan dengan baik. Bahkan ia sering melewatkan jam istirahat nya. Namun sekarang Wisnu sudah bisa bernafas lega. Karena para investor tidak jadi menarik sahamnya . Walaupun pelaku utama penyebab kekacauan itu belum terungkap.


Wisnu meraih benda pipih yang ada di atas meja kerjanya. Entah mengapa Wisnu teringat arin. Dengan gerakan cepat tangannya sudah menombol nomer arin.


Arin: " Hallo! "


Wisnu : " Kamu lagi apa? "


Arin : " Lagi nonton TV! Ada apa? "


Wisnu: " Tidak! Hanya ingin tau. "


Tut..


Wisnu memutuskan telfonnya. Ia bingung harus bicara apa dengan arin. Setidaknya ia sudah senang saat mendengar suara arin.


••••


Arin menatap ponselnya dengan heran.


"Ada apa dengan pak Wisnu? "


"Kenapa langsung di matikan telfonnya?", gunma arin.


Arin mencoba menghubungi Wisnu kembali. Namun dari sekian panggilannya tidak ada yang di jawab. Arin semakin heran dan juga penasaran.


Arin yang di liputi rasa penasaran dan juga bosan karena seharian ia hanya di depan layar TV . Arin memilih pindah ke kamar nya. Ia rebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu. Arin berguling ke kanan dan ke kiri sambil memainkan ponselnya.


Saat arin sedang asik berselancar di media sosial nya, Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Arin bangkit melihat siapa yang datang.


"Pak Wisnu? ", ucap arin saat melihat Wisnu di ambang pintu.


Kemudian arin melangkah mendekati Wisnu yang masih berdiam diri.


" Kenapa bapak kesini? Kan bapak bisa panggil saya! ", ucap arin .


Wisnu tak merespon ucapan arin. Wisnu berjalan menuju tempat tidur arin, ia rebahkan tubuhnya yang terasa penat itu. Arin hanya menatap dengan bingung. Ada apa gerangan dengan bosnya itu.


" Pak... Bapak butuh sesuatu? ", tanya arin mendekati Wisnu yang mulai memejamkan matanya.


" Tidak! Aku hanya ingin istirahat di sini! ", jawab Wisnu dengan mata terpejam.


Arin mengernyitkan dahinya. Menatap laki-laki yang sedang tidur di atas kasurnya.


Apa masalah pak Wisnu di kantor sangat rumit? , sehingga dia terlihat sangat lelah . Tapi kenapa dia malah istirahat di kamar ku?


Arin menyiapkan makan malam untuk Wisnu. Selama kurang lebih dua jam arin bergelut di dapur. Sebelum membangun kan Wisnu, arin menata semua masakannya di meja makan. Ada oseng kacang panjang dan daging giling, ada perkedel, ada ayam bumbu lodho dan juga capcay.

__ADS_1


"Akhirnya beres juga! ", arin menepuk - nepuk tangannya.


Arin naik ke lantai atas untuk membangunkan Wisnu. Saat membuka pintu kamarnya masih nampak jelas Wisnu yang sedang terlelap.


" Masih tidur ya? "


"Kelihatan nya capek banget! ", gunam arin yang sudah berada di sisi ranjang.


" Jadi gak tega buat ngebangunin! ", arin menatap wajah Wisnu yang terlelap itu. " Ganteng banget! ", ucapnya lirih.


Setelah memuji ketampanan Wisnu, ia segera menyadarkan dirinya.


"Apaan sih! Kenapa jadi memuji dia? ", gunam arin menyadarkan dari lamunannya.


" Pak! Bangun pak! ", arin menoel lengan Wisnu.


Karena tidak ada respon dari sang empunya. Arin mengguncangkan tubuh Wisnu sedikit kesar.


" Pak bangun! ", kata arin.


" Hemmm", Wisnu hanya berguna kecil dan tak ada niatan membuka matanya yang terpejam.


"Kok tangan bapak anget gini sih? ",telapak tangan arin kemudian terulur menyentuh dahi Wisnu.


" Astaga! Bapak sakit? ", tanya arin yang tidak ada jawaban dari Wisnu.


" Tunggu ya pak! Saya akan ambilkan obat dan kompresan. ", kata arin yang langsung pergi ke lantai bawah.


" Bii... Bibi..! "


"Kemana sih bibik? ",


"di panggil kok gak ada yang jawab! ", gerutu arin sambil mondar mandir kesana-kemari mencari letak kotak obat.


" Mbak cari apa? ", tanya bi sumi dari belakang.


" Bi.. Kotak obat di mana? ", tanya arin tanpa menoleh ke bi sumi.


" Di sini mbak! ", jawab bi sumi berjalan ke salah satu laci yang dekat dengan meja makan.


" Siapa mbak yang sakit? "


"Pak Wisnu demam bi! ", kata arin yang membuka kotak obat.


" Tapi obat penurun demam habis mbak! ", kata bi sumi yang membuat arin menghentikan gerakan tangannya.


" Tolong belikan di apotik ya bik! ", pinta arin.


Bi sumi mengngangguk dan segera pergi ke apotik. Arin segera ke lantai atas dengan membawa sebaskom air di tangannya.

__ADS_1


Arin tambah panik saat masuk ke kamar tidak melihat Wisnu di tempat tidur.


Hoek.. Hoek.. Hoek..


Arin berlari ke kamar mandi, di sana sudah ada Wisnu yang sedang mematahkan semua isi perutnya.


" Astaga pak! ", pekik arin mendekati Wisnu. Arin membantu memijat tengkuk nya.


" Wajah bapak pucat sekali! ", ucap arin sambil memegangi lengan Wisnu.


" Aku gak papa! Aku hanya butuh istirahat! ", ucap Wisnu dengan lirih tak berdaya.


" Saya bantu pak! ", kata arin menuntun Wisnu untuk keluar dari kamar mandi.


Namun belum sampai keluar Wisnu sudah jatuh pingsan. Dengan sekuat tenaga arin menopang badan Wisnu agar tidak terjatuh.


Dengan langkah tertatih , arin memapah Wisnu menuju tempat tidurnya. Karena badan Wisnu yang berat, membuat arin menghempaskan tubuh Wisnu dengan kasar ke atas kasur.


"Maaf ya! Soalnya bapak berat banget! ",ucap arin.


" Demam nya semkin tinggi! ", ucap arin saat mengecek suhu tubuh Wisnu.


Dengan telaten arin mengompres Wisnu dengan Air dingin. Berharap demamnya segera turun.


" Bibi lama banget sih! ", gunam arin yang panik saat Wisnu mulai menggigil.


" Huu... Huu.. Dingin! ", lirih Wisnu.


" Dingin ya pak? Saya matiin AC nya ya? ", arin meraih remot dan mematikan AC.


" Huu.. Huu.. Dingin! ", ucap Wisnu lagi.


" Aduh gimana ini? Mana eyang gak ada di rumah lagi! "


"Apa telfon kak Riyan aja ya? ", gunam arin.


Arin menghubungi Riyan memberi tau kondisi Wisnu saat ini. Arin minta tolong agar Riyan membantunya untuk membawa ke rumah sakit.


Tak butuh waktu lama Riyan sudah sampai di rumah Wisnu. Riyan buru-buru masuk ke dalam rumah dan menuju kamar Wisnu. Riyan tampak bingung karena Wisnu tak ada di kamarnya.


" Rin..! ", teriak Riyan.


" Ia kak! Aku di kamar! ", teriak arin.


" Kak tolong bawa ke rumah sakit! ", ucap arin yang melihat Riyan di ambang pintu.


Riyan mengendong Wisnu di punggungnya. " Cepat kamu bukakan pintu mobilnya! ", tatih Riyan kepada arin.


Arin segera berlari ke halaman di mana mobil Riyan terparkir.

__ADS_1


__ADS_2