
Waktu menunjukkan jam 11siang . Arin sudah menyiapkan makan siang untuk Wisnu, namun arin bingung drinya masih malau dan merasa canggung untuk bertemu dengan Wisnu. Arin mondar-mandir berfikir bagai mana caranya agar tidak bertemu Wisnu. Arin juga tidak melupakan perkataan Wisnu yang menyuruhnya agar datang ke kantornya.
Arin mempunyai ide untuk menelfon supir kantor agar mengambil makan siang Wisnu, saat arin akan melakukan panggilan ponselnya sudah lebih dulu berdering. Arin tak langsung mengangkat telfonya, ia hanya memandangi ponselnya yang terus berdering.
"Aduh gimana ini? Pasti dia sudah nungguin! "
"Aa.. Aku telfon supir kantor saja suruh ambil makanan ini, jadi aku gak perlu ketemu dia! ", gunam arin . Tangannya mengusap layar ponselnya untuk menghubungi supir kantor. Lagi-lagi belum sampai arin menekan nomer yang ia cari sudah terlebih dulu ada notifikasi pesan masuk. Arin membuang nafas kasarnya saat tau siapa yang mengirim pesan.
Arin buru-buru pergi ke kamarnya untuk mengganti baju setelah membaca pesan yang Wisnu kirim.
Pak Wisnu
"Cepat datang ke kantor sekarang atau saya potong gaji mu! "
"Dasar mentang -mentang jadi bos seenak jidatnya main ancam"
"Ah... Masa bodoh dengan malu, yang penting gaji tetap utuh ", gerutu arin sambil keluar dari apartemen.
Lima belas menit sudah arin menunggu taksi tapi tak satu pun ada yang berhenti, karena taksi yang lewat selalu sudah terisi penumpang. Akhirnya arin memilih untuk pesan ojek online.
Hanya menunggu beberapa menit saja ojek online yang di pesan arin sampai .
Arin berjalan cepat untuk masuk kedalam kantor Wisnu. Arin segera masuk kedalam lift yang hampir tertutup. Arin menekan angka 10 , karena ruangan Wisnu memang ada di lantai 10 .
"Ah... Sudah pasti nanti akan marah-marah ! "
"Harus siap mental ini! ", batin arin dan memikirkan alasan yang tepat agar terbebas dari amarah Wisnu.
Saat pintu lift terbuka arin segera keluar. Sepanjang jalan menuju ruangan Wisnu mulut arin komat kamit untuk memberi alasan jika nanti Wisnu marah.
Arin menghirup udara dan menghembuskan nafasnya, arin melakukannya berulang kali sebelum mengetuk pintu .
Saat dirasa sudah cukup, tangan arin mulai terangkat ke atas untuk mengetuk pintu.
Tok..
..Tok..
..Tok..
"Masuk! ", terdengar suara dari dalam ruangan itu.
Arin memegang hendel pintu dan membukanya perlahan.
" SAYANG!!! "
__ADS_1
wisnu bangkit dari duduknya, berjalan kearah arin.
Arin mematung di tempat saat Wisnu memanggilnya dengan sebutan sayang. Arin memejamkan matanya sejenak,
" Sandiwara apa lagi ini? ", batin arin.
Arin membuka matanya dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Oksigen yang arin hirup belum sempat di hembuskan sudah di buat shock oleh kelakuan Wisnu.
Cup
Wisnu mencium sekilas bibir arin.
Arin yang masih kaget itu hanya membelalakkan matanya. Wisnu segera menyadarkan arin dengan membisikan sesuatu di telinganya.
"Lakukan peran mu dengan baik! ", bisikan Wisnu di telinga arin.
Arin mengedip-ngedipkan matanya yang yang baru tersadar dari kagetnya.
Arin menatap Wisnu dengan raut wajah penuh tanya .
" Senyum! ", tangan Wisnu menarik sebelah pipi arin, saat arin menatapnya.
" Sayang! Kenapa baru datang? Aku sudah menunggumu dari tadi lo! ", kata Wisnu sambil merangkul pundak arin dan menggiring menuju sofa.
" Ma.. Maaf! Ma... Mas tadi nunggu taksi lama ", arin dengan ragu mengubah panggilan Wisnu yang biasa arin panggil pak kini berubah menjadi mas.
" Ia gak papa sayang ku! ", tangan Wisnu mengacak pucuk rambut arin.
Tentu saja eva semakin dongkol, ajakan keluar untuk makan siangnya di tolak Wisnu, sekarang di tambah hadirnya arin semakin membuat hati eva terbakar, apa lagi sikap Wisnu yang manis terhadap arin.
" Lihat saja ya kamu perempuan kampungan! ", batin eva yang terbakar api cemburu.
" Kamu masak apa? Aku sudah lapar banget ini! ", kata Wisnu yang menjatuhkan bokongnya di sofa.
" Tapi nu kita kan sudah pesan makanan tadi? ", protes eva.
" Ia.. Tapi makanan yang kamu pesan belum datang juga kan? ", jawab Wisnu yang fokus melihat arin mengeluarkan kotak makan.
" Hemm... Ini aku tadi masak rawon, semoga mas suka! ", kata arin sambil mengeluarkan kotak makan dari tas lunch box.
" Pasti suka dong sayang! ", kata Wisnu sambil mengecup kening arin sekilas.
Arin menghentikan gerakan tangannya saat Wisnu berulah kembali, arin yang sebenarnya risih dengan kelakuan Wisnu itu tidak bisa melayangkan protes karena Wisnu sudah memberi tatapan tajam, sehingga arin hanya bisa menghela nafas pasrah saja.arin berfikir Nanti jika eva sudah keluar dari ruangan Wisnu arin akan melakukan protes.
"Ini mas! ", arin menyodorkan kotak makan ke Wisnu.
__ADS_1
" Hemmm... Suapin mas dong! ", kata Wisnu yang tidak mau mengambil kotak makan dari tangan arin.
" Tapi mas? Masih ada mbk eva! ", kata arin lirih, namun masih terdengar oleh eva.
" Biar lah! Siapa yang nyuruh dia kesini? ", kata Wisnu dengan enteng nya.
Sedangkan eva sudah menatap arin dengan tatapan permusuhan.
" Iihh...mas gak...
Belum selesai arin bicara lagi-lagi sudah mendapat tatapan yang tajam . Dari mana lagi kalau bukan dari Wisnu.
Huufft...
Arin menghembuskan nafasnya pelan.
"Ya sudah aku suapin sini! ", kata arin yang pada akhirnya nurut.
" Akk... " , arin menyodorkan sendok yang ke mulut Wisnu.
Belum sampai Wisnu melahapnya, pintunya kembali lagi di ketok.
Tok
Tok
Tok
"Permisi pak! Ini saya mau antar pesenan dari mbk eva! ", kata intan.
" Aaa.... Ia trimakasih! ", kata eva mengambil kantung kresek dari tangan intan.
Eva buru-buru membuka makanannya.
" Wisnu! Kamu harus coba ini! Ini enak lo! ", kata eva yang menyodorkan potongan daging ke mulut Wisnu.
" Tidak! Aku akan makan masakan arin ini lebih enak! Kamu makan saja sendiri!", tolak Wisnu
"Ayo sayang suapin aku lagi! ", perintah Wisnu kepada arin.
" Ini enak sekali sayang! Kamu paling pinter ya dengan urusan masak memasak? ", puji Wisnu dengan mulut terisi makanan.
" Ih.. Mas, biasa aja! ", kata arin .
Eva masih saja merayu Wisnu agar mau mencicipi makanan yang ia pesan.
__ADS_1
Wisnu yang risih dengan rengekan eva itu mencoba menghubungi Riyan untuk datang ke ruangannya.