
Arin membuang wajahnya ke samping untuk mengurangi rasa gugup nya.
Kedua tangan Wisnu menangkup kedua pipi arin.
"Maafkan aku!. Aku memang egois! ", kata Wisnu setelah menarik nafas dalam-dalam.
" Cara ku memang salah! Aku memanfaatkan uang ku untuk menindas mu, mengancam mu dengan sesuka hati ku. Tanpa memperdulikan perasan mu. Tapi aku tidak ada pilihan lain. Tolong bantu aku! , hanya kamu yang bisa membantu ku. Tolong bantu aku untuk mewujudkan keinginan nenek ku.
Menikah kontrak lah dengan ku! ", Wisnu meraih kedua tangan arin dan menggenggam dengan erat serta sorot mata yang penuh permohonan.
" Haruskah menikah kontrak? ", tanya arin.
Wisnu mengangguk, " Aku tau permintaan ku ini sangat konyol dan tak masuk akal. Aku juga tak ingin mempermainkan pernikahan. Ini memang salah ku, jika dari awal aku tidak melibatkan diri mu, pasti ini tidak akan terjadi pada mu. Aku tau ini sangat berat bagi mu. Apa lagi mengingat pernikahan mu yang kandas. Aku memang orang yang sudah egois karena memaksa kehendak ku.", kata Wisnu panjang lebar.
"Apa gak ada jalan lain selain menikah kontrak? ", tanya arin dengan lesu.
Wisnu menggelengkan kepalanya.
" Tolong bantu aku! Setelah aku menemukan sifa aku janji kan membebaskan mu dari hidup ku. ", kata Wisnu yang masih setia Menggenggam tangan arin.
" Jika aku setuju apa bapak akan mengabulkan permintaan ku? ", tanya arin dengan menatap manik mata Wisnu.
" Tentu! Katakan apa permintaan mu! ", kata Wisnu.
" Selagi aku bisa akan aku kabulkan. ", imbuh Wisnu.
" Mungkin permintaan ku ini berlebihan. ", kata arin dengan menundukkan kepalanya .
" Tidak! Katakan apa mau mu? ", tangan Wisnu meraih dagu arin agar tidak menunduk.
Arin menarik nafas dalam-dalam sebelum bicara apa yang ia inginkan.
" Kamu tau kan jika aku sudah punya anak? ", tanya arin.
Wisnu menggunakan kepalanya tanda mengerti.
__ADS_1
" Semua yang aku lakukan hanya untuk kebahagiaan anak ku saja!,jadi aku minta berikan aku rumah beserta isinya. Tapi rumah itu tidak di kota melainkan di desa ku. Mungkin kamu berpikir jika aku matre dan memanfaatkan keadaan ini. Tapi aku juga gak munafik untuk mengakui itu semua. Karena aku butuh itu jika masa pernikahan kontrak kita berakhir. ", kata arin dengan mata yang berkaca-kaca.
" Tidak! Kamu gak matre! Kamu berhak untuk itu semua. Aku akan mengabulkan permintaan mu. Trimakasih telah bersedia menolong ku. ", Wisnu memeluk arin.
Akhirnya Wisnu bernafas lega bisa juga membujuk arin.
" Aku akan mengurus surat perjanjian nya besok! ", kata Wisnu setelah melepas pelukannya.
"Emangnya saya sudah bilang jika saya setuju? ", kata arin sambil mencincingkan sebelah matanya.
Mata Wisnu membuat sempurna mendengar ucapan arin, sedetik kemudian Wisnu menggelitiki pinggang arin .
" Kamu ngerjaain saya ya?", kata Wisnu terus menggelitiki arin.
"Ha-ha-ha.... Ampun! Geli.... ", kata arin sambil meronta.
"Biarin! Ini hukumannya karena sudah berani ngerjain saya! ", kata Wisnu yang ikut tersenyum .
Tawa mereka terhenti saat kedua iris mata mereka bertemu. Dengan posisi tangan Wisnu masih memegang pinggang arin. Bahkan posisi mereka sangat dekat.
Seketika mata indah arin membuat, jantung nya bergemuruh saat Wisnu kembali menciumnya. Bahkan ini bukan ciuman yang Wisnu berikan. Sudah berkali-kali Wisnu mencium arin tanpa permisi, alis mencuri ciuman dari arin.
Wisnu memejamkan matanya, wajah tampannya sangat bersinar . Awalnya arin menolak ciuman itu berusaha mendorong tubuh kekar milik Wisnu yang mengunci tubuh nyanya agar menjauh.
Namun sedetik kemudian, arin terhanyut kedalam pusaran rasa yang di berikan Wisnu. Sontak, arin ikut memejamkan matanya. Mulai menikmati setiap pergerakan bibir Wisnu.
Dengan mata masih terpejam, arin mengkaitkan kedua tangannya ke leher Wisnu. Arin mulai membalas ciuman Wisnu yang penuh dengan kelembutan itu.
Beberapa detik kemudian Wisnu menyudahi tautan bibirnya. Kelopak mata arin perlahan terbuka, begitupun dengan Wisnu yang membuka kedua matanya. Hembusan nafas Wisnu begitu terasa di wajah arin sehingga membuat arin merinding.
Tangan Wisnu terangkat mengusap pipi arin yang terlihat merona, kemudian tangannya beralih mengusap bibir arin yang masih menyisakan bekas saliva nya.
"Maaf! "Kata Wisnu yang masih menatap iris mata arin.
" Aku janji ini untuk yang terakhir kalinya! ", lanjut Wisnu lalu Wisnu mengecup pucuk kepala arin.
__ADS_1
" Maaf! ", kata terakhir Wisnu, dan menggeser duduknya menjauh dari arin.
Arin hanya bisa terdiam dengan kepala tertunduk mendengar ucapan Wisnu . Arin tak ada niatan untuk membalas ucapan Wisnu karena arin begitu malu dengan dirinya sendiri. Sehingga terjadi keheningan di antara mereka.
Krucuk...
Krucuk...
Krucuk...
Keheningan itu terpecah kan dengan suara yang keluar dari dalam perut arin.
Arin memejamkan matanya sambil memegangi perutnya, berharap manusia di samping nya tidak mendengar .
Wisnu tersenyum melihat arin.
"Kamu lapar? ", kata Wisnu.
Arin hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Ayo turun kita makan!", ajak Wisnu yang bangkit dari duduknya dan menarik tangan arin.
" Aku akan panggil bi sumi untuk menghangatkan sayur nya! ", kata Wisnu.
" Jangan! Ini sudah larut malam lihat itu jam berapa? Biarkan mereka istirahat. Lagian saya ingin makan mie instan! ", jelas arin.
" Ya udah biar saya uatin! ", kata Wisnu sambil mengambil panci.
" Saya bisa sendri!", tolak arin dan meraih panci yang Wisnu pegang .
"Ya udah kita masak berdua saja! Saya juga mau makan mie yang berkuah seperti yang pernah kamu bikin waktu itu. Pasti enak jika di makan saat hujan-hujan begini. ", jelas Wisnu . Dan memang benar hujan masih belum reda.
Kini mereka bekerja sama untuk memasak mie instan sesuai dengan keinginan Wisnu. Mi yang berkuah dengan toping telur mata sapi serta tidak lupa dengan irisan cabe nya.
__ADS_1
Nah seperti ini penampakan mie instan kuah buatan mereka berdua.