
"Mas Wisnu! " Sapa Arin yang mengagetkan Wisnu.
"Kamu! Belum tidur? " Tanya Wisnu yang menoleh ke Arin.
"Aku ke bangun mas, haus! " Jawab Arin.
"Bibir mas kenapa? " Arin langsung duduk di sebelah Wisnu.
"Biasa laki-laki! " Jawab Wisnu dengan santai.
"Kamu berantem? Dengan siapa? " Arin mengambil alih handuk kecil dari tangan Wisnu.
"Aduh! " Wisnu mengaduh saat Arin menempelkan handuk kecil itu ke sudut bibir yang terluka.
"Maaf.. Maaf! Sakit ya? " Kata Arin.
"Kamu berantem dengan siapa sih mas? " Tanya Arin di sela-sela mengompres.
"Kamu kenal Marchel dari mana?"Wisnu balik tanya tanpa menjawab pertanyaan Arin terlebih dulu. " Jawab yang jujur! "
"Waktu itu aku gak sengaja mas nabrak dia! Dan secara kebetulan aku ketemu dia lagi . "
"Aku juga gak tau kalau dia juga cucu eyang, sepupu kamu! " Jelas Arin.
"Sedekat apa kamu sama dia? " Wisnu mulai kepo.
"Aku gak begitu dekat mas sama dia! "
"Aku hanya berteman biasa dengan dia, itu pun dia yang memaksa ku. " Jawab Arin yang jujur.
Wisnu hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Sekarang Wisnu paham dengan sikap Arin waktu itu yang mendadak sok romantis. Mengingat kejadian waktu itu, tanpa sadar Wisnu senyum-senyum sendiri.
"Mas kenapa kok senyum-senyum gitu? " Tanya Arin yang heran.
"Hemmm... Enggak papa! Lagi pengen senyum aja! " Jawab Wisnu yang masih menahan senyum di bibirnya.
"Sebenarnya marchel itu sepupu kamu dari mana sih mas? " Tanya Arin yang penasaran.
"Dia itu anak dari adiknya almarhum ayah ku. " Jawab Wisnu.
"Waktu itu aku pernah sih di ajak eyang ke rumah tante Sofi, dan aku lihat Marchel ada di sana juga. " Ucap Arin.
"Ia, dia memang anak tante Sofi dan om Aji. " Wisnu sengaja menyebut nama suami dari tantenya itu.
"Om Aji? " Tanya Arin.
"Iya, kamu belum lupa kan? " Sahut Wisnu.
"Aku gak akan pernah lupa dengan orang itu dan perbuatannya. "
"Bagaimana nasib teman-teman ku yang sudah di jual oleh nya? " Mata Arin mulai berkaca-kaca saat mengingat temannya yang satu PT .
Wisnu tak lagi menjawab, ia hanya mengangkat kedua bahunya.
"Aku tidak melarang mu untuk berteman dengan Marchel. "
"Aku tau Marchel mempunyai sifat yang berbeda dengan papinya. "
"Jadi kamu jangan takut untuk berteman dengan dirinya. " Jelas Wisnu.
Arin menggeleng dengan cepat, " Tidak! Sifat manusia bisa berubah - ubah. "
__ADS_1
"Sekarang dia baik, tapi kita tidak tau nantinya. " Kata Arin.
"Terserah kamu! Yang jelas aku tidak pernah membatasi pertemanan mu! " Wisnu meraih tangan Arin.
"Katanya mau ambil air minum? " Wisnu mengingatkan tujuan pertama Arin keluar dari kamar.
"Iya, nanti saja ! " Sahut Arin.
"Mas Wisnu tadi belum jawab pertanyaan ku ! Mas berantem dengan siapa? " Arin masih di landa rasa penasaran .
"Sama Marchel! Tapi hanya salah paham saja kok! " Jawab Wisnu.
"Salah paham kok sampek luka! " Omel Arin sambil mengoleskan salep ke sudut bibir Wisnu.
Iya, karena sebenarnya kamu lah yang jadi sumber masalah. Batin Wisnu.
Seperti biasa kegiatan Arin di pagi hari , sibuk menyiapkan ini, itu untuk Wisnu.
"Mas, bangun! Aku sudah siapin air hangat dan juga baju kantor nya. " Arin membangunkan Wisnu dengan menemukan - nepuk kakinya.
"Hemm... Lima menit lagi. " Sahut Wisnu yang masih enggan membuka matanya.
"Aku tinggal ke bawah dulu! " Pamit Arin yang harus segera menyiapkan sarapan untuk Wisnu.
Arin menyiapkan sarapan yang di bantu oleh bi Sumi. Saat Arin fokus pada masakannya, Tiba-tiba Marchel mendekati Arin.
"Kamu pintar juga ya masak? " Kata Marchel yang mengejutkan Arin.
"Kamu! Bikin kaget saja! " Arin mengusap dadanya sendiri.
"Ngapain kamu sepagi ini ke dapur? " Tanya Arin yang fokus ke penggorengan.
"Nyariin kamu lah! " Sahut Marchel yang bersabar di kulkas.
"Aku ingin bicara empat mata sama kamu! " Marchel melipat tangannya di depan dada.
"Mau ya? " Ucap Marchel lagi.
"Kalau mau nanti siang saja, Saat jam istirahat! " Jawab Arin setelah berpikir .
"Oke, kabari aku ya! Kalau sudah istirahat ! " Ucap Marchel dengan seulas senyum di bibirnya.
Arin menganggukkan kepalanya.
"Ngapain masih disitu? " Tanya Arin yang pandanganya menangkap Marchel masih mematung di tempat.
"Mau aku bantuin gak? " Marchel menawarkan diri.
"Enggak usah! " Ucap Arin, ini juga hampir selesai kok! " Arin menitiskan bakwan yang ia goreng.
"Ya udah , aku balik ke kamar dulu ! " Marchel meninggalkan dapur. Hatinya sedikit lega , karena tidak ada penolakan dari Arin.
Setelah acara sarapan, Wisnu dan juga Arin berangkat ke kantor.
"Mas ! " Ucap Arin membuka obrolan di dalam mobil.
"Ada apa? " Sahut Wisnu tanpa menoleh.
"Nanti siang aku mau ketemu sama Marchel boleh? " Tanya Arin lirih.
Wisnu menoleh ke samping tanpa sepatah kata pun, karena Wisnu ingin mendengar penjelasan Arin, apa tujuannya bertemu dengan Marchel.
__ADS_1
"Kalau tidak boleh juga gak papa mas ! "
"Tadi pagi Marchel nemui aku, katanya dia ingin bicara empat mata dengan ku. Dan ini kesempatan aku untuk berbicara dengan dia, agar dia tidak lagi mendekati ku. " Jelas Arin.
"Terserah kamu! " Wisnu membuang muka ke samping kanan . Ada rasa tak rela jika Arin harus berduaan dengan sepupunya itu.
"Kalau mas Wisnu keberatan , gak papa!" Ucap Arin .
"Pergilah! Kan aku sudah bilang, aku tak akan membatasi pertemanan mu. Asalkan kamu bisa menjaga diri mu! Tapi, setelah menikah nanti kamu tidak boleh dekat dengan laki-laki mana pun termasuk Marchel. " Jelas Wisnu yang fokus pada jalan.
"Iya aku tau itu! " Sahut Arin.
"Mau ketemu di mana sih? " Tanya Wisnu yang mulai kepo.
"Gak tau! Dia belum kirim lokasinya. " Jawab Arin dengan jujur.
Arin keluar dari kantor Wisnu tepat saat jam istirahat. Sebelum keluar Arin telah menghubungi Marchel terlebih dulu.
"Maaf ya lama! " Ucap Arin kepada Marchel.
"Iya , gak papa! Jawab Marchel, ayok masuk? " Marchel membukakan pintu mobil untuk Arin.
"Kita mau ke mana sih? " Tanya Arin, aku hanya di beri waktu dua jam sama mas Wisnu. " Jelas Arin.
Marchel hanya mengangguk tanda paham. Sepanjang perjalanan Marchel maupun Arin hanya terdiam membisu. Hingga sampai ke suatu tempat. Marchel turun terlebih dahulu untuk membuka pintu mobil. Arin turun dari mobil, matanya menyapu seluruh tempat yang indah itu.
"Bagus banget! " Celetuk Arin yang mengagumi tempat itu.
"Kamu suka? " Tanya Marchel sambil menoleh Arin.
Arin menganggukkan kepalanya, "aku gak nyangka ada tempat sebagus ini , tempatnya juga asri banget! " Arin merentangkan tangannya dan menghirup oksigen dalam-dalam.
"Kalau kamu suka tempat ini, kamu bisa menjadikan tempat ini sebagi tempat melepas penat. " Ucap Marchel.
Arin berbalik menatap Marchel yang berdiri di belakangnya.
"Sebenarnya kamu mau bicara tentang apa? " Tanya Arin yang di buat penasaran oleh Marchel.
"Gimana keadaan anak mu? Apa dia sudah sembuh? " Tanya Marchel yang berjalan melewati Arin.
"Kamu tau dari mana? " Arin mengekor langkah Marchel.
"Waktu itu kamu buru-buru untuk pergi, dan kamu mengatakan jika anak mu sedang sakit. " Jawab Marchel.
"Maaf, waktu itu aku benar-benar menghawatirkan Yoga. Karena dia tidak pernah sakit dan harus di rawat inap. " Jelas Arin.
"Jadi benar kamu sudah pernah menikah? " Tanya Marchel.
"Iya, aku sudah pernah menikah! Dan aku punya satu anak laki-laki dari pernikahan itu. " Jawab Arin.
"Apa itu sebabnya kamu mau membuat perjanjian dengan abang ku? " Tanya Marchel yang memandang lurus ke depan.
"Maksud kamu? " Arin balik bertanya.
"Aku sudah tau semuanya! Jika kamu akan menikah kontrak dengan bang Wisnu. "
"Aku juga tau jika kalian membuat perjanjian selama nikah kontrak. "
"Akun tau menjadi singgel mom itu tidak mudah! Tapi, jangan korbankan perasaan mu juga. "
"Kamu masih ada waktu untuk membatalkan semuanya!" Ucap Marchel sambil melemparkan batu-batu kecil ke pinggiran danau.
__ADS_1
Iya, saat ini mereka sedang berada di sebuah danau . Walaupun hanya danau buatan, tapi pesona keindahan nya tak kalah dengan danau yang asli.