TERJEBAK CINTA JANDA MUDA

TERJEBAK CINTA JANDA MUDA
60.Sandiwara cinta


__ADS_3

Riyan meninggalkan Wisnu , saat akan keluar dari ruangan Wisnu. Riyan yang akan membuka pintu tersentak kaget. Karena dari arah luar ada arin yang mendorong pintu itu dan terbuka.


"Kamu rin! ", ucap Riyan lirih sambil melirik Wisnu yang tak tau akan kedatangan arin.


" Kak! Makan dulu yuk? Aku sengaja bawa banyak lo ! ", ajak arin dengan ramah.


" Ckk... Gak usah! Sana urus calon suami mu itu! Dan kamu harus belajar untuk jadi istri yang teladan. Walau pun kalian hanya nikah kontrak, kalau perlu rebut hatinya juga! ", setelah mengucapkan itu Riyan langsung berlalu pergi.


" Kak Riyan apaan sih? Gak jelas deh! ", kata arin.


Tanpa menjawab Riyan berlalu pergi. Arin hanya melihat kepergian Riyan dengan menggelengkan kepala nya.


" Kak Riyan kenapa sih pak? ", tanya arin sambil menggeser kursi yang ada di depan meja Wisnu.


" Gak tau! ", jawab Wisnu sambil mengangkat kedua bahunya ke atas.


" Mungkin dia lagi capek karena gantiin semua tugas-tugas ku. ", imbuh Wisnu.


" Nih bapak makan dulu! "


"Aku juga bawain obat bapak. ", kata arin yang berjalan menuju sofa.


" Harus ya minum obatnya? Lagian aku sudah sembuh ini. ", protes Wisnu yang sudah bosan harus menikmati pait nya obat.


" Obatnya harus di habiskan ! Biar gak gampang kambuh sakitnya. ", jelas arin.


Dengan terpaksa Wisnu menurut. Asal kan dari tangan arin langsung ia minum obatnya.


" Manja banget sih pak! ", ucap arin sambil menyuapkan obat ke mulut Wisnu.


" Gak papa! Anggap saja aku ini yoga anak mu yang manja dengan ibunya yang cantik ini. ", tanpa sadar Wisnu memuji kecantikan arin secara langsung.


" Gombal banget deh! ", ucap arin sambil memberi cubitan di lengan Wisnu.


"Auw... Sakit rin! ", kata Wisnu sambil terkekeh.


Keduanya terdiam saat mendengar bunyi ponsel. Arin hanya melihat siapa yang menelfon nya berulang kali. Arin tak ada niatan untuk mengangkat nya.


" Kenapa gak di angkat? ", tanya Wisnu penasaran.


" Biarin saja! Malas ku! ", jawab arin.


" Siapa tau penting! Lihat lah dia telfon kamu terus itu! ", kata Wisnu yang meraih ponsel arin dan langsung menekan tombol hijau, sedetik kemudian Wisnu menekan tombol Loud speaker .


" Halo rin! ", terdengar suara laki-laki dari sebrang telfon.


Arin memejamkan matanya, ia males meladeni laki-laki itu. Arin diam tak menjawab sehingga orang itu bersuara lagi.


" Rin bisa dengar suara ku gak? "

__ADS_1


Jelas dengar lah! Aku juga gak tuli.


Arin hanya menjawab dalam hati. Mulutnya terkunci rapat.


Wisnu yang melihat arin hanya diam saja mempunyai inisiatif utuk menjawab telfon itu.


"Ha.....


Suara Wisnu menggantung saat arin merebut paksa ponsel nya.


" Ia aku dengar! Ada apa? " Jawab arin ketus. Arin sudah menonaktifkan loud speakernya. Sehingga Wisnu tak bisa mendengar apa yang orang itu katakan.


"Jangan berharap kamu akan mendapatkan hak asuh yoga! Kamu sudah melantarkan dia sejak bayi. ", ucap arin dengan emosi dan langsung menombol warna merah.


Arin menyeka air matanya dengan tangan yang gemetar. Nafasnya juga tak teratur karena tersulut emosi . Membuat Wisnu heran dan mendekati arin.


Wisnu menyentuh sebelah pundak arin. Arin pun menoleh dengan bola mata yang memerah arin menatap wajah wisnu .


"Ayah nya yoga tadi yang telfon. ", lirih arin yang memberi jawaban sebelum Wisnu bertanya.


" Maaf seharusnya aku tadi tidak lancang...


"Tak apa! ", sahut arin sambil mengatur nafasnya agar kembali normal.


Wisnu meraih botol berisi air mineral, setelah membuka tutup botolnya Wisnu menyodorkan ke arin. " Minum lah agar lebih tenang! ", ucap Wisnu.


Arin tersulut emosinya saat mantan suaminya mengatakan, akan mengajukan banding atas hak asuh anak. Mendengar itu arin langsung marah dan panik, dia takut jika yoga akan jatuh ke tangan ayahnya.


••••


Di tempat lain marchel selalu uring-uringan saat chat yang di kirim ke arin tak ada balasan.


" Baru pertama kali ini ada cewek yang terang-terangan nolak pesona gw! ", gerutu marchel .


" Apa gw minta bantuan bang Wisnu saja ya? Tapi gengsi dong gw! ", gunam marchel. Sambil mengotak atik ponsel nya.


" Boy! ", sapa aji yang tiba-tiba masuk ke ruangan marchel.


" Papi! Ada apa pi? ", tanya marchel yang menyimpan ponselnya di laci meja kerja nya.


" Papi titip kantor ya! Papi harus ke luar kota . Untuk meninjau pembangunan hotel di sana. ", bohong aji.


" Mami juga ikut pi? ", tanya marchel.


" Tidak! Mami nanti sore akan berangkat ke kanada. Adik mu sedang sakit di sana. ", jelas aji.


" Marchel kok gak di kasih tau sih sama mami? "


"Mami baru dapat kabar setelah kamu berangkat ke kantor tadi. "

__ADS_1


"Jadi papi pasrah kan semua urusan kantor ke kamu ya boy! "


"Penerbangan papi sebentar lagi, papi pergi dulu ! ", aji keluar dari ruangan marchel. Dengan langkah lebar aji menuju ke parkiran mobil.


" Di rumah bakalan sendiri dong gw! ", ucap marchel. ", gunam marchel. Marchel mengambil ponsel nya, ia mengirim pesan singkat ke sepupunya.


Wisnu dan arin sedang membahas tentang yoga. arin tak sungkan untuk minta bantuan Wisnu agar hak asuh yoga jatuh di tangannya.


saat asik ngobrol tiba-tiba ponsel Wisnu bunyi.


Ting...


Wisnu melihat ponselnya dan membuka notifikasi pesan masuk.


{Marchel : bang gw nanti nginap di rumah eyang ya? Nyokap bokap gw lagi pergi }


{Wisnu: oke gw tunggu! }


"Siapa pak? ", tanya arin yang mendadak kepo. Sambil menyuapkan sepotong kue brownies ke mulutnya.


" Sepupu ku! marchel yang waktu itu akan aku kenalkan dengan mu . Dia bilang mau nginap di rumah eyang. ", jelas Wisnu yang matanya masih fokus dengan layar ponselnya.


Uhuk... Uhuk...


Arin tersedak kue yang ia makan saat mendengar marchel kan menginap di rumah Wisnu.


" Pelan -pelan dong! ", ucap Wisnu yang menyodorkan air minum.


"Hehehe ", arin menampilkan deretan gigi putihnya.


Aduh! Bisa gaswat ini kalau orang aneh itu tau aku tinggal di rumah neneknya. Aduh gimana ini? Aku juga gak bisa melarangnya. Lagi pula itu juga rumah ku. Aku hanya numpang saja. Ahhh.... Gimana ini?


Arin melamun tak bisa membayangkan, jika marchel mengetahui dimana ia tinggal saat ini. Arin tersadar dari lamunan nya saat Wisnu menepuk bahunya.


"Kamu harus bisa bersikap layaknya pacar ku sungguhan! ", ucap Wisnu.


" Haa... " , masih dengan sisa melamun arin terbengong dengan permintaan Wisnu.


"Kenapa kok bengong gitu? Bukanya kamu sudah sepakat untuk melakukan sandiwara cinta ini? ", ucap Wisnu.


" Marchel akan curiga jika kita bersikap seperti biasa. Dia pasti akan melapor ke nenek tua itu. ", lanjut Wisnu.


Yaampun aku harus gimana ini?


" Kok diam sih! ", Wisnu menyenggol lengan arin.


" Haa... Ia pak! ", ucap arin gelagapan , sambil mengangguk. Karena tak ada pilihan lain selain menuruti ucapan Wisnu.


Arin pasrah saja jika marchel mengetahui yang sebenarnya. Arin sebenarnya tak ingin berurusan dengan orang-orang kaya itu. Bagi arin berurusan dengan Wisnu saja sudah membuat dirinya bingung. Di tambah lagi pertemuan nya dengan marchel. Jika arin bisa memilih pergi, ia akan pergi jauh - jauh dan tak lagi berurusan dengan Wisnu.

__ADS_1


__ADS_2