
Masih di rumah sakit
Suci benar-benar di buat kaget oleh pengakuan Wisnu dan tindakan Wisnu yang main sosor.
"Eh.. Gila lu Rin! Cepet banget dapat gantinya? Mana cakep pula ! Tapi sayang galak! " Ucap Suci yang berbisik.
"Hehehe" Arin tersenyum dengan menampilkan deretan giginya.
"Rin, aku tak pulang dulu ya? Kalian kan udah ada di sini! Oh iya, ini punya teman anda! " Suci memberikan ponsel dan juga kotak cincin.
"Makasih" Ucap Wisnu datar.
"Aku tinggal dulu ya Rin? " Pamit Suci yang mendapat anggukan dari Arin.
Setelah Suci pergi mereka pun di perbolehkan masuk untuk menemui Riyan.
Wisnu menatap nanar sahabatnya itu,
Banyak pertanyaan muncul di dalam diri Wisnu. Pasalnya Riyan pulang lebih awal dari jatah libur yang Wisnu berikan. Di tambah lagi dengan Riyan yang doyan minuman beralkohol.
Arin menepuk bahu Wisnu sehingga sang empunya tersadar dari lamunan.
Wisnu meraih tangan Arin yang menempel di bahunya.
"Aku akan menginap di sini! Kamu pulang lah, biar aku telfon mang Dadang untuk menjemput mu " Ucap Wisnu sambil merogoh ponsel nya yang ada di saku celana.
"Aku akan ikut menginap di sini! " Sahut Arin.
"Kalau gitu, istirahatlah ini sudah malam! " Ucap Wisnu sambil menuntun Arin menuju sofa yang ada di dalam ruang perawatan itu.
Arin membaringkan tubuhnya di sofa, sedangkan Wisnu duduk bersandar di sofa yang sama.
Arin mencoba memejamkan matanya berulang kali, dirasa tetap tidak bisa tidur Arin memilih duduk.
"Kenapa bangun? " Tanya Wisnu.
"Gak bisa merem" Jawab Arin.
Wisnu tersenyum dan menepuk ruang kosong di sebelahnya, "sini! "
Arin pun menggeser duduknya sehingga lebih dekat dengan Wisnu.
"Kenapa gak bisa tidur? Hem? " Wisnu mengacak rambut Arin.
"Gak tau! Mungkin belum ngantuk " Sahut Arin .
"Gitu ya? " Ucap Wisnu dan Arin pun mengangguk pelan.
__ADS_1
"Kalau begitu biar aku saja yang tidur " Kekeh Wisnu yang tanpa permisi langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Arin.
"Jangan tidur dong! Kita nonton aja yuk! " Ucap Arin.
"Mau nonton apa? " Tanya Wisnu .
"Gak tau juga sih " Arin membuka aplikasi youtube di ponselnya.
"Wah seperti nya enak banget" Ucap Arin saat meyaksikan food floger yang mempunyai ciri khas "awor-awor emplok" Itu sedang menyantap bakso yang super pedas. Dan, saat itu juga cacing dalam perut Arin ikut bernyanyi.
Wisnu yang mendengarkan nya pun tertawa, "jadi ini alasan mu tidak bisa merem? "
"Hehehe" Arin tersimpu malu .
"Salah sendiri gak mau makan!" Wisnu mencubit hidung Arin dengan gemes.
"Habisnya tadi gak berselera" Ucap Arin .
"Terus sekarang mau makan apa? " Tanya Wisnu.
"Apa aja deh mas yang penting bisa buat perut kenyang " Kekeh Arin.
"Kamu tunggu di sini! Biar aku yang keluar cari makan, oke! " Wisnu pun bangkit dari duduknya.
"Ada yang di pesan lagi gak? " tanya Wisnu yang sudah ada di ambang pintu untuk keluar.
Arin menatap punggung Wisnu hingga hilang tak terlihat lagi.
Tuhan! Boleh gak jika aku minta agar mas Wisnu jangan di pertemukan lagi dengan Sifa! Semakin ke sini, rasa nya begitu aneh! Apa aku mulai menyukainya? Batin Arin .
Arin kembali melanjutkan melihat YouTube yang ada di ponselnya.
Sedangkan di tempat lain ,
Marchel sedang duduk termenung di pinggir kolom renang yang ada di rumah nya.
"Aku tak menyangka jika papi mempunyai bisnis gelap " Gunam Marchel.
Setelah lama termenung, kini Marchel menghubungi seseorang yang bisa di mintai bantuannya.
"Halo, aku mau kamu selidiki tempat itu! Alamatnya sudah aku kirim" Kata Marchel saat telfonnya terangkat.
"Beres bos! " Ucapnya dari seberang telfon.
"Laporkan secepatnya!" Tatih Marchel.
Tut, Marchel pun mematikan telfonnya setelah mendapat jawaban dari orang itu.
__ADS_1
"Laporan apa boy? Apa ada masalah di kantor?" Tanya Aji yang mengejutkan Marchel.
Marchel tak menjawab pertanyaan dari papinya itu. Ia langsung pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun. Hatinya masih kecewa, sosok ayah yang ia banggakan ternyata mempunyai menyimpan rahasia yang tidak bisa ia terima. Itu hanya bisnis gelapnya saja yang baru Marchel ketahui, bagaimana jika perselingkuhan papinya juga ia ketahui.
"Aneh! Kenapa sih itu anak?" Gunam Aji.
"Boy! Papi mau bicara penting sama kamu! " Aji menyusul Marchel ke ruang gym.
"Marchel lagi gak mood bahas apapun! "Jawabnya ketus.
" Ayo lah boy! Ini tentang wanita yang kau incar itu! " Aji mencoba memancing Marchel.
Dan, benar saja Marchel langsung menghentikan aktifitasnya. Marchel menghampiri papinya yang berdiri tidak terlalu jauh.
"Aku sudah gak butuh bantuan dari papi! Marchel akan berusaha dengan cara Marchel sendri! Terserah papi dan mami setuju atau tidak!" Setelah mengucapkan itu Marchel keluar dari ruang gym .
"Gawat ini kalau sampai Marchel tidak bisa di ajak kerja sama!" Lirih Aji.
"Marchel tunggu! " Aji pun ikut keluar dari ruang gym.
Alih-alih ingin menghancurkan Wisnu, malah dirinya yang di buat kalang kabut sama anak sendri.
"Papi! "Ucap Sofi.
Aji mengusap wajahnya dengan kasar, " Mami kenapa ke sini? " Aji merangkul bahu Sofi.
"Sudah lah Pi, jangan buat mood Marchel semakin ancur! Jangan paksa dia! Nanti saat dia sudah mood nya membaik baru kita tanya baik-baik! " Ucap Sofi.
Betul juga apa yang di katakan istriku! Kalau aku terus memaksa Marchel , pasti rencana ku akan gagal. Batin Aji.
"Iya mi" Ucap Aji.
"Papi pasti tau sesuatu yang sedang di pikiran oleh Marchel" Ucap Sofi.
"Sudah, mami jangan terlalu memikirkan masalah Marchel! Nanti mami jadi pusing sendiri" Sahut Aji. Tangannya mengelus lembut punggung sang istri.
"Tapi mami penasaran pi! Baru kali ini lo mami lihat Marchel murung gak jelas gitu! "
"Mami tenang aja! Masalah yang Marchel hadapi itu hanya masalah kecil. Kaya mami gak pernah muda aja sih " Aji mencubit hidung sang istri dengan gemes.
"Papi ihh" Seru Sofi.
Jangan lupa like 👍
Koment ✍
Favorit kan juga agar tidak ketinggalan bab selanjutnya😉
__ADS_1
Jika cerita ini bagus menurut kalian berikan sedikit hadiah 🌹atau vote untuk author ya! Agar lebih semangat lagi 🤭