
Di sebuah gedung perkantoran tampak seorang laki-laki yang sedang gelisah. Wisnu mondar-mandir sambil sesekali mengecek ponselnya. Wisnu semakin di buat kesal saat Arin tak kunjung mengabarinya. Padahal Wisnu sudah mewanti - wanti kepadanya agar segera memberi kabar, ke mana Marchel membawanya pergi.
"Lu kenapa? Tanya Riyan, udah kaya setrikaan aja lu! "
"Gara-gara Marchel nih!" Sahut Wisnu sambil berusaha menghubungi Arin.
"Emang kenapa dia? " Tanya Riyan yang memang tidak tau.
"Dia ngajak Arin pergi! " Jawab Wisnu singkat yang membuat sahabatnya itu terbengong .
"Marchel ngajak Arin pergi kemana? " Riyan mengernyitkan keningnya.
"Gue juga gak tau! Ini gue berusaha nelfon Arin, tapi belum juga di angkat. " Jelas Wisnu.
"Kenapa lu resah gitu sih? Tanya Riyan, lagian Marchel itu kan sepupu mu sendri . Jadi jangan khawatirkan dia! Atau... Jangan - jangan lu udah mulai jatuh cinta ya sama Arin? Makanya lu gelisah! " Ucap Riyan.
"Bukan itu masalah nya! " Sahut Wisnu.
"Lu tau gak? Ternyata Marchel demen sama Arin! "
"Lu lihat nih! , Wisnu menunjuk sudut bibirnya yang bekas tonjokan Marchel semalam. Ini ulah itu bocah! Dia nonjok gue gara-gara gue gak mau lepasin Arin. " Jelas Wisnu.
"Hahaha... Tawa Riyan menggelegar di dalam ruangan Wisnu.
" Lu bisa diem gak? Wisnu melempar bantal sofa ke muka Riyan, bukanya bantuin malah ketawa. "
"Santai bro, santai! Lu kan bisa lacak posisi mereka lewat GPS! " Riyan memberi ide.
"Ahh... Kenapa gak kepikiran dari tadi sih! " Wisnu segera melacak keberadaan Arin, melalui GPS. Namun sial nya Wisnu tak menemukan posisi Arin.
"Gimana? " Tanya Riyan.
"Gak bisa! " Jawab Wisnu yang masih fokus ke layar ponselnya.
"Udah lu tenang aja! Gue yakin Arin pasti akan kembali sama lu, saat dia tau siapa Marchel yang sebenarnya. " Ucap Riyan mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Mending kita segera bersiap untuk meeting! Semua tim sudah siap di ruang meeting. " Riyan mengingatkan Wisnu jika ada meeting dengan tim dan juga sang model.
Dengan perasan yang kacau, Wisnu menuju ruang meeting bersama Riyan.
Sepanjang jalannya meeting, Wisnu terlihat tidak fokus. Pikirannya bercabang antara materi meeting dan juga Arin. Tapi pikiran Wisnu telah dipenuhi oleh Arin. Ahhh... Lama-lama gue bisa gila ini! Please Rin lu kemana sih! Batin Wisnu sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.
Di tengah-tengah meeting Wisnu berpamitan, "semuanya saya permisi sebentar! Iyan, kamu lanjutkan meeting nya! " Ucap Wisnu yang sudah berdiri.
"Lu mau kemana? " Bisik Riyan.
__ADS_1
"Ke toilet, sebentar! Nanti gue pasti balik lagi!" Jawab Wisnu lirih.
Semua orang yang berada di ruang meeting itu terheran-heran. Karena tidak biasa nya bos mereka pergi di pertengahan meeting.
Eva juga merasa ada yang aneh dengan Wisnu. Karena acara meeting belum selesai, jadi Eva hanya bisa menatap punggung Wisnu yang berjalan keluar ruangan, hingga tak terlihat lagi.
🌻🌻🌻🌻
Di sebuah danau Arin dan Marchel, menikmati pemandangan yang menyejukkan mata. Mereka berdua duduk dengan beralaskan rumput.
"Aku sudah tau semuanya! Jika kamu akan menikah kontrak dengan bang Wisnu. "
"Aku juga tau jika kalian membuat perjanjian selama nikah kontrak. "
"Aku tau menjadi singgel mom itu tidak mudah! Tapi, jangan korbankan perasaan mu juga. "
"Kamu masih ada waktu untuk membatalkan semuanya!" Ucap Marchel sambil melemparkan batu-batu kecil ke pinggiran danau.
Arin memperhatikan Marchel dari samping, "tau apa kamu dengan perasaan ku? " Sinis Arin.
"Aku tau jika kamu tidak menyukai ataupun mencintai Wisnu! Jadi, jangan paksakan dirimu! " Ucap Marchel sambil menoleh ke Arin.
Arin tersenyum kecut mendengar perkataan Marchel, "itu bukan urusan mu! Ini hidup ku, jadi jangan ikut campur! " Ucap Arin yang memandang lurus ke depan.
"Aku akan terus ikut campur dengan masalah kalian! " Sahut Marchel.
"Aku hanya mau kamu membatalkan perjanjian itu! " Jawab Marchel.
"Kalau itu mau mu, sorry aku gak bisa! Aku gak bisa membuat Yoga kecewa. " Sahut Arin.
"Maksud kamu? " Tanya Marchel yang tidak paham dengan ucapan Arin.
"Anak ku sudah mulai dekat dengan mas Wisnu. Anak ku membutuhkan sosok ayah yang ia rindukan , pertemuannya dengan mas Wisnu kemarin membuat dirinya heppy. Mana mungkin aku merusak kebahagian anak ku sendri. " Jelas Arin sambil menyeka air matanya yang sudah di ujung mata.
"Anak mu akan semakin terluka jika dia tau yang sebenarnya. " Kata Marchel.
"Itu sudah aku fikirkan, dan itu akan menjadi urusan ku! " Sahut Arin.
"Aku juga bisa menjadi ayah sambung buat Yoga! " Ucap Marchel sambil memegang kedua bahu Arin.
"Aku akan menyayangi dia seperti anak ku sendri! " Marchel mencoba meyakinkan Arin.
"Kamu jangan ngacau ya! Aku ini calon ISTRI kakak mu! " Arin menekan kata "istri " Agar Marchel mengerti.
"Aku gak peduli! Kamu hanya akan menjadi istri di atas kertas. Kamu akan di campakkan saat Wisnu menemukan cinta nya kembali. " Ucap Marchel.
__ADS_1
Arin membuang muka ke samping, apa yang di ucapkan Marchel itu benar adanya. Seketika hati nya terasa sakit.
"Pikiran lagi Rin! " Ucap Marchel dengan lembut.
"Aku gak bisa mundur lagi! " Sahut Arin.
"Apa alasannya?" Tanya Marchel yang menahan emosi. Arin hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Jawab Rin? Jangan diam saja! " Ucap Marchel.
"Aku sudah bilang! Jangan ikut campur dengan urusan ku! "
"Aku nyesel menerima mu menjadi teman. Jika ujung-ujungnya hanya ingin mencampuri urusan ku! " Maki Arin.
"Oke, kalau kamu gak mau mundur! Aku akan perjuangan dirimu dengan cara ku! " Ucap Marchel yang emosi, karena menghadapi Arin yang keras kepala.
"Kamu sudah gila ya? " Ucap Arin.
"Iya, aku gila! Gila karena mu! " Ucap Marchel.
"Asal kamu tau Rin! Aku cinta sama kamu, dari pertama kita bertemu! "
"Kamu boleh anggap aku ini gila, tapi aku percaya jika cinta pada pandangan pertama itu ada. "
"Aku hanya menganggap mu sebagi teman, tidak lebih! " Sahut Arin.
"Rin, lihat aku ! " Marchel menagkup kedua pipi Arin, memaksa Arin agar melihat sorot matanya. "Apa aku terlihat berbohong? " Tanya Marchel sambil menatap dalam-dalam iris mata Arin.
Arin sesaat menatap bola mata Marchel. Namun dengan cepat Arin memutus pandangannya dan menepis tangan Marchel yang menempel di kedua pipinya. "Sorry aku gak bisa! Aku akan tetap menikah dengan kakak mu itu! " Arin langsung bangkit dari duduknya.
Secepat kilat Marchel meraih tangan Arin, "aku akan buktikan keseriusan ku ini! " Marchel mencekal erat tangan Arin, "ikut aku! " Marchel membawa Arin menuju mobil.
"Mau kemana? Jam istirahatku sudah selesai, aku mau kembali! " Ucap Arin .
"Aku akan membawa mu untuk bertemu dengan orang tua ku. " Jawab Marchel.
"Agar kamu bisa yakin dan percaya akan perasan ku pada mu! " Lanjut Marchel.
"Aku gak mau bertemu dengan ayah mu lagi! " Arin langsung menjawab saat tau tujuan Marchel.
Marchel menghentikan langkahnya saat Arin menyebut kata "lagi ".
" Aku gak mau bertemu dan berurusan dengan ayah mu lagi! " Ucap Arin sebelu Marchel banyak tanya.
"Maksud mu apa? Kamu sudah pernah bertemu dengan papi ku? " Tanya Marchel dengan tatapan mata menelisik.
__ADS_1
"Aku gak mau bahas itu lagi! Ucap Arin, antar aku pulang sekang atau aku akan pulang sendri! " Arin menepis tangan Marchel dan segera berjalan ke jalan raya .
Sungguh Marchel di buat bingung dengan ucapan Arin. Arin sudah kenal dengan papinya, dan Arin juga gak mau berhubungan lagi dengan papinya. Sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka. Marchel mulai berpikir yang tidak-tidak.